BETUN,SELATANINDONESIA.COM – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mendorong percepatan transformasi pendidikan menengah sebagai strategi utama menyiapkan generasi muda yang mampu bersaing di tingkat global. Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan bahwa siswa SMA dan SMK tidak lagi cukup dibekali pengetahuan dasar, melainkan harus memiliki kualitas akademik, disiplin, dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja internasional.
Penegasan tersebut disampaikan saat kunjungan kerja di SMK Santa Genoveva, Kabupaten Malaka, wilayah perbatasan yang dinilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia berdaya saing global. โSMA dan SMK harus bertransformasi mengikuti kebutuhan tenaga kerja global. Kita tidak bisa berjalan dengan pola lama,โ ujar Gubernur Melki.
Menurut dia, keberadaan SMK di wilayah perbatasan seperti Malaka justru menjadi peluang besar. Selain mendekatkan akses pendidikan, kawasan ini juga membuka ruang kerja sama lintas negara, terutama dengan Timor Leste. Ia mendorong agar SMK di daerah tersebut dapat berkembang menjadi institusi berstandar internasional yang mampu menghasilkan lulusan siap kerja.
Namun, upaya tersebut, kata Gubernur Melki, harus dimulai dari pembenahan mendasar, terutama dalam aspek kualitas pendidikan. Ia menyoroti masih rendahnya capaian akademik di NTT dan menilai perlunya langkah tegas dalam sistem pendidikan. โKita harus berani menegakkan standar. Kalau tidak memenuhi syarat, jangan dipaksakan naik kelas. Yang kita kejar adalah kualitas, bukan sekadar angka kelulusan,โ katanya.
Selain aspek akademik, pendidikan karakter dan disiplin menjadi perhatian utama. Ia menilai pembentukan mental tangguh menjadi fondasi penting bagi siswa dalam menghadapi tantangan global. โKalau terlalu dimanja, anak-anak tidak siap menghadapi dunia nyata. Pendidikan harus tegas dan membentuk karakter,โ ujarnya.
Dalam konteks peluang global, Gubernur Melki menyoroti sektor kejuruan seperti keperawatan yang dinilai memiliki prospek besar di pasar internasional. Oleh karena itu, siswa SMK didorong menguasai bahasa asing seperti Inggris, Mandarin, dan Melayu sebagai bekal utama untuk bersaing di luar negeri.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan pentingnya pengawasan penggunaan teknologi di kalangan pelajar. Menurut dia, telepon genggam dapat menjadi pedang bermata dua. โKalau tidak dikontrol, HP bisa menjadi pintu masuk berbagai pengaruh negatif, mulai dari pornografi hingga paham radikal,โ katanya. Karena itu, peran sekolah dan orang tua dinilai krusial dalam memastikan teknologi dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar.
Transformasi pendidikan juga diarahkan pada penguatan kewirausahaan melalui program One School One Product (OSOP). Melki menyebutkan, saat ini baru sekitar 14 dari 35 sekolah di Kabupaten Malaka yang memiliki produk unggulan. Ia menargetkan seluruh sekolah memiliki produk berbasis potensi lokal yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah provinsi mendorong pembentukan konsep โNTT Mart by sekolahโ sebagai wadah pemasaran produk siswa. Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan produksi, tetapi juga memperkuat distribusi dan perputaran ekonomi lokal. โKalau kita gunakan produk sendiri, uang akan berputar di daerah dan memberi dampak langsung bagi masyarakat,โ ujarnya.
Lebih jauh, Gubernur Melki menegaskan bahwa pendidikan harus membuka dua jalur masa depan bagi siswa, yakni melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, termasuk ke luar negeri, atau langsung masuk ke dunia kerja dengan keterampilan yang memadai. Hal ini dinilai penting untuk menekan angka pekerja migran nonprosedural asal NTT yang masih tinggi.
Wakil Bupati Malaka, Henri Melki Simu, menyambut baik perhatian pemerintah provinsi terhadap sektor pendidikan di wilayah perbatasan. Ia menilai Malaka memiliki potensi besar, tetapi masih menghadapi keterbatasan fasilitas, terutama untuk mendukung pembelajaran praktik di SMK.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo, menegaskan bahwa arah kebijakan pendidikan daerah kini berfokus pada tiga pilar utama, yakni karakter, kemampuan akademik, dan kewirausahaan. Ketiga aspek tersebut dinilai saling melengkapi dalam membentuk lulusan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga mandiri.
Dengan berbagai langkah tersebut, Pemerintah Provinsi NTT menegaskan komitmennya untuk menggeser orientasi pendidikan dari pendekatan seremonial menuju pembenahan substansial. Fokus utama diarahkan pada peningkatan kualitas, penguatan disiplin dan karakter, pengembangan keterampilan, serta keterhubungan dengan dunia kerja global.
Melalui strategi ini, NTT menargetkan lahirnya generasi muda yang tidak hanya mampu bertahan di daerah sendiri, tetapi juga kompetitif di tingkat internasional, khususnya di kawasan perbatasan seperti Malaka.*/jendarlpurek/llt













Komentar