Dalam balutan hangat Idul Fitri 1447 Hijriah, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menapaki tradisi silaturahmi sebagai jalan merawat kepercayaan dan memperkuat sinergi antarpemangku kepentingan. Di antara jabat tangan dan ucap maaf, tersirat pesan bahwa kebersamaan adalah energi utama untuk menggerakkan pembangunan dan menjaga harmoni di Nusa Tenggara Timur.
KUPANG,SELATANINDONESIA.COM ย โ Suasana hangat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah terasa kental dalam rangkaian silaturahmi yang dilakukan Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, Sabtu (21/3/2026). Dari satu kediaman ke kediaman lain, ia menyambangi para pimpinan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), menjadikan momentum halal bihalal bukan sekadar tradisi, melainkan ruang memperkuat kepercayaan antarlembaga.
Kunjungan itu berlangsung dalam suasana akrab dan penuh kekeluargaan. Gubernur Melki bertemu antara lain dengan Kapolda NTT Rudi Darmoko, Ketua MUI NTT Muhammad S. Wongso, dan Anggota Fraksi Golkar DPRD NTT H. Moh. Ansor bersama sejumlah unsur pimpinan daerah lainnya. Percakapan yang terjalin tidak hanya berisi ucapan selamat hari raya, tetapi juga refleksi atas tanggung jawab bersama menjaga stabilitas dan mempercepat pembangunan di Nusa Tenggara Timur.
Di tengah suasana Idul Fitri yang identik dengan saling memaafkan, Gubernur Melki menekankan bahwa nilai-nilai tersebut memiliki relevansi langsung dalam tata kelola pemerintahan. Silaturahmi, menurut dia, adalah fondasi sosial yang memungkinkan koordinasi berjalan lebih efektif, terutama dalam menghadapi tantangan pembangunan daerah yang kian kompleks.
โIdul Fitri memberi kita ruang untuk memperbarui kepercayaan. Dari situlah sinergi bisa tumbuh dan diperkuat,โ ujarnya.
Bagi Pemerintah Provinsi NTT, hubungan yang harmonis dengan Forkopimda bukan hanya kebutuhan administratif, melainkan prasyarat penting bagi terciptanya kebijakan yang responsif dan berkelanjutan. Dalam konteks itu, halal bihalal menjadi medium strategis untuk merawat komunikasi informal yang sering kali justru menentukan kelancaran kerja-kerja formal pemerintahan.
Gubernur Melki juga menggarisbawahi bahwa semangat persaudaraan lintas latar belakang harus terus dirawat di Kota Kupang dan seluruh wilayah NTT. Ia meyakini, kepercayaan publik terhadap pemerintah akan tumbuh seiring dengan soliditas para pemangku kepentingan di tingkat daerah.
Momentum Idul Fitri tahun ini, lanjutnya, perlu dimaknai sebagai titik tolak untuk memperkuat komitmen bersama, tidak hanya dalam menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga dalam memastikan program pembangunan berjalan tepat sasaran.
Sehari sebelumnya, suasana kebersamaan itu juga tercermin dalam perhelatan Kupang Bertakbir Season III di Bundaran Tirosa. Di tengah keragaman masyarakat yang hadir, gema takbir berpadu dengan semangat toleransi yang menjadi ciri khas daerah tersebut.
Bagi Gubernur Melki, pawai takbir dan halal bihalal berada dalam satu tarikan napas: keduanya menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada perencanaan dan anggaran, tetapi juga pada kekuatan relasi sosial. Di situlah silaturahmi menemukan maknanya, sebagai energi kolektif untuk menjaga harmoni sekaligus mendorong kemajuan bersama.*/meldo-farah/llt













Komentar