WAINGAPU,SELATANINDONESIA.COM – Di aula Universitas Kristen Wira Wacana, Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena berdiri di hadapan ratusan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) dan mitra Badan Gizi Nasional. Pertemuan yang berlangsung hingga hampir tengah malam pada Sabtu (14/3/2026) itu menjadi ruang dialog terbuka untuk mencari jalan keluar mempercepat pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di Pulau Sumba.
Di wilayah Sumba Timur saja, sekitar 70.000 anak serta ibu hamil dan menyusui sudah menjadi target penerima manfaat program tersebut. Namun hingga kini, layanan yang berjalan baru mampu menjangkau sekitar 11.000 penerima, jauh dari kebutuhan yang ada. Angka itu mencerminkan tantangan besar dalam memperluas cakupan program gizi nasional di wilayah kepulauan dengan sebaran desa yang berjauhan.
Kepala SPPI Regional NTT, Oswaldus Ngani, menjelaskan bahwa keterbatasan jumlah dapur layanan menjadi salah satu kendala utama. Saat ini, di daratan Sumba baru terdapat sekitar 16 dapur MBG yang melayani sekitar 54.000 penerima manfaat. Padahal untuk menjangkau seluruh sasaran, diperkirakan dibutuhkan sekitar 80 dapur yang dapat melayani hingga 240.000 anak serta ibu hamil dan menyusui di wilayah Sumba.
โPergerakan penambahan mitra di Sumba masih belum secepat di Flores dan Timor. Kami berharap kehadiran Bapak Gubernur dapat membantu mendorong percepatan,โ kata Oswaldus.
Persoalan jarak juga menjadi tantangan lain. Bupati Umbu Lili Pekuwali menyebutkan, banyak sekolah berada di wilayah pedalaman yang sulit dijangkau dari titik layanan dapur MBG. Kondisi ini membuat distribusi makanan bergizi menjadi tidak mudah.
Padahal, menurutnya, program tersebut sangat dinantikan oleh anak-anak di desa. Tidak sedikit dari mereka berangkat ke sekolah tanpa sarapan.
โProgram ini sangat dirindukan oleh anak-anak kami. Kami berharap semakin banyak mitra yang bersedia membangun dapur layanan, terutama di wilayah terpencil,โ ujar Bupati Umbu Lili.
Dalam pertemuan itu, Gubernur Melki menegaskan bahwa program MBG merupakan salah satu kebijakan strategis yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Program ini tidak hanya menyasar pemenuhan gizi anak-anak, tetapi juga diharapkan mampu menggerakkan ekonomi lokal.
Menurut dia, pembangunan dapur MBG akan membuka peluang kerja baru bagi masyarakat sekaligus menciptakan permintaan bagi hasil pertanian, peternakan, dan perikanan lokal.
โLapangan kerja terbuka, kebutuhan gizi anak-anak terpenuhi, dan sektor ekonomi produktif ikut bergerak,โ ujarnya.
Gubernur Melki juga menegaskan target pemerintah pusat agar pelaksanaan program MBG di NTT dapat mencapai 100 persen pada tahun ini. Untuk itu, ia meminta berbagai kendala yang menghambat percepatan di Sumba segera diidentifikasi secara terorganisir.
Ia bahkan mengusulkan agar setiap dapur MBG dapat memprioritaskan masyarakat miskin ekstrem sebagai tenaga kerja, dengan merekrut sekitar lima hingga sepuluh orang di setiap dapur.
Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong pemanfaatan bahan pangan lokal sebagai pasokan utama dapur MBG. Dengan begitu, program tersebut tidak hanya meningkatkan gizi anak-anak, tetapi juga memperkuat ekonomi masyarakat di Pulau Sumba.
Diskusi panjang malam itu meninggalkan optimisme baru. Bagi para pengelola layanan gizi di Sumba, pertemuan tersebut menjadi momentum untuk mempercepat langkah bersama agar puluhan ribu anak yang menjadi sasaran program dapat segera merasakan manfaat makanan bergizi setiap hari di sekolah.*/agustin/jendralpurek/llt













Komentar