WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM – Apresiasi terhadap terobosan menghadirkan pacuan kuda tanpa pelana sebagai cabang olahraga resmi dalam Pekan Olahraga Nasional terus mengalir. Gagasan yang berakar dari tradisi lokal Nusa Tenggara Timur itu dinilai bukan sekadar inovasi olahraga, melainkan juga langkah strategis mengangkat identitas budaya ke panggung nasional.
Pendiri sekaligus Ketua Umum Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID), Paulus Pangka, menyampaikan penghargaan khusus kepada Umbu Rudi Kabunang, Ketua Pengprov Federasi Nasional Pordasi Pacu NTT yang juga anggota DPR RI Fraksi Golkar atas perannya meloloskan pacuan kuda tanpa pelana sebagai nomor lomba dalam PON 2028 NTT-NTB.
Menurut Paulus, langkah tersebut mencerminkan visi yang melampaui sekadar kepentingan olahraga prestasi. Ia melihat ada keberanian untuk menempatkan kearifan lokal sebagai bagian dari sistem olahraga nasional yang selama ini lebih banyak mengadopsi cabang-cabang berakar dari tradisi Barat.
“Selama ini pacuan kuda identik dengan penggunaan pelana, yang merupakan pengaruh gaya Eropa. Sementara di NTT, khususnya di Sumba, tradisi pacuan kuda tanpa pelana sudah hidup turun-temurun. Ini bukan hanya soal teknik, tetapi juga filosofi, kedekatan antara manusia dan alam,” ujar Paulus, Rabu (29/4/2026).
Ia menilai, keberhasilan memasukkan nomor ini ke dalam PON menjadi tonggak penting. Tidak hanya membuka peluang prestasi bagi daerah seperti NTT yang memiliki basis kuat dalam tradisi tersebut, tetapi juga memperluas makna PON sebagai ruang ekspresi budaya bangsa.
Lebih jauh, Paulus menyebut inisiatif Umbu Rudi Kabunang sebagai sebuah “legacy” atau warisan jangka panjang. Ia meyakini bahwa di masa mendatang, pacuan kuda tanpa pelana tidak hanya akan dipertandingkan di NTT, tetapi juga di berbagai provinsi lain dalam setiap penyelenggaraan PON.
“Ketika kita berbicara tentang masa depan olahraga Indonesia, kita tidak bisa melepaskannya dari akar budaya. Apa yang dilakukan Pak Umbu Rudi Kabunang adalah membuka jalan agar olahraga tradisional mendapatkan tempat yang layak dan berkelanjutan,” katanya.
Sebagai bentuk apresiasi konkret, LEPRID berencana menganugerahkan penghargaan dengan kategori khusus kepada Umbu Rudi Kabunang sebagai inisiator masuknya pacuan kuda tanpa pelana ke PON.
Apresiasi untuk Pemda Sumba Barat dan Pengkab FN Pordasi Pacu Sumba Barat
Apresiasi juga diberikan kepada Pemda Sumba Barat dan Pengurus Kabupaten Federasi Nasional Pordasi Pacu Sumba Barat yang bakal menggelar kegiatan dengan rekor berskala nasional hingga dunia yang dapat digelar beriringan dengan momentum PON 2028. Beberapa di antaranya meliputi penyelenggaraan lomba pacuan kuda dengan jumlah peserta terbanyak, parade kuda pacuan terpanjang dan terbanyak, serta fashion show kuda pacuan yang diklaim pertama di dunia. Gagasan ini, menurut Paulus, bukan semata-mata untuk pencatatan rekor, tetapi juga sebagai strategi memperkuat daya tarik wisata dan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
Di sisi lain, ia menekankan pentingnya menjadikan PON sebagai wadah inklusif bagi berbagai cabang olahraga berbasis tradisi Nusantara. Jika pencak silat telah lebih dahulu mendapat pengakuan luas, maka pacuan kuda tanpa pelana dinilai layak mengikuti jejak tersebut sebagai representasi kekayaan budaya Indonesia bagian timur.
“NTT memiliki banyak potensi yang belum sepenuhnya tereksplorasi. Pacuan kuda tanpa pelana ini salah satu pintu masuk untuk memperkenalkan kekayaan itu kepada publik nasional bahkan internasional,” ujarnya.
Rencana penyelenggaraan berbagai kegiatan berbasis kuda di Sumba pada Agustus 2028 pun mulai disiapkan. LEPRID menyatakan kesiapannya untuk terlibat tidak hanya dalam pemberian penghargaan, tetapi juga dalam pengembangan konsep dan penguatan nilai promosi budaya.
Bagi Paulus, apa yang tengah diperjuangkan saat ini bukan hanya tentang satu cabang olahraga baru, melainkan tentang cara Indonesia memandang dirinya sendiri, sebagai bangsa yang besar dengan kekayaan tradisi yang layak berdiri sejajar di arena modern.*/llt













Komentar
Sumba menyalaaa.