KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Pertumbuhan ekonomi di Provinsi Nusa Tenggara Timur tercatat tetap kuat di kisaran 5 persen. Pemerintah daerah melihat momentum Ramadan dan menjelang Idul Fitri sebagai salah satu pendorong meningkatnya konsumsi rumah tangga serta perputaran ekonomi masyarakat.
Hal itu disampaikan Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena saat menghadiri pembukaan rangkaian Road to Festival Ekonomi Syariah (FESyar) 2026 sekaligus penutupan program SERAMBI 2026 yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia Kantor Perwakilan Provinsi NTT di Kupang, Jumat (13/3/2026).
Menurut Gubernur Melki, aktivitas ekonomi masyarakat selama Ramadan menunjukkan geliat yang cukup kuat. Hal ini terlihat dari meningkatnya aktivitas perdagangan musiman, seperti penjualan takjil di berbagai titik keramaian di Kota Kupang.
โPerputaran ekonomi rakyat pada momentum seperti ini sangat terasa. Dari satu lokasi penjualan takjil saja, perbankan memperkirakan nilainya bisa mencapai sekitar Rp1 miliar hingga akhir Ramadan,โ kata Gubernur Melki.
Ia menilai angka tersebut menunjukkan bahwa ekonomi masyarakat bergerak cukup dinamis selama periode hari besar keagamaan. Apalagi jika dihitung dari berbagai titik penjualan lain yang tersebar di kota.
Di sisi lain, Gubernur Melki juga menyoroti kinerja ekonomi daerah yang masih berada dalam tren positif. Pertumbuhan ekonomi NTT tercatat berada di kisaran 5 persen dengan nilai produk domestik regional bruto (PDRB) mencapai lebih dari Rp150 triliun. Kondisi inflasi daerah juga dinilai relatif terkendali.
Bagi pemerintah daerah, momentum Ramadan dan Idul Fitri tidak hanya menjadi periode meningkatnya konsumsi masyarakat, tetapi juga peluang untuk memperkuat basis ekonomi rakyat. Karena itu, dukungan terhadap pelaku UMKM dinilai penting agar manfaat perputaran ekonomi dapat dirasakan lebih luas.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Melki juga mengapresiasi peran Bank Indonesia yang secara konsisten menginisiasi berbagai program untuk menjaga kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk memastikan ketersediaan uang rupiah selama Ramadan hingga Idul Fitri.
Kepala Perwakilan BI NTT Adidoyo Prakso mengatakan pihaknya menyiapkan uang kartal sebesar Rp1,7 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode tersebut. Hingga 12 Maret 2026, uang yang telah diedarkan melalui penarikan perbankan maupun layanan penukaran mencapai sekitar Rp514 miliar.
โPuncak kebutuhan diperkirakan terjadi pada 13 hingga 17 Maret,โ kata Adidoyo.
Selain layanan penukaran uang, BI NTT juga menjalankan berbagai program penguatan ekonomi syariah. Program tersebut antara lain fasilitasi sertifikasi halal bagi pelaku UMKM bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia NTT serta pemerintah daerah.
Sejumlah pelaku usaha yang memperoleh pendampingan bahkan telah berhasil memasok produknya ke jaringan ritel lokal NTT Mart, sehingga membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk daerah.
Bank Indonesia juga mendorong digitalisasi transaksi melalui promosi penggunaan QRIS di berbagai kegiatan ekonomi masyarakat. Salah satunya melalui program QRIS Tautpar yang melibatkan puluhan pelaku usaha kecil di Kota Kupang.
Ketua MUI NTT Muhammad S. Wongso menilai kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga keuangan, dan masyarakat menjadi kunci penting dalam memperkuat pembangunan ekonomi daerah.
Menurut dia, berbagai program yang mendekatkan layanan keuangan kepada masyarakat merupakan langkah strategis untuk mendorong ekonomi kerakyatan di NTT.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pemukulan beduk oleh Gubernur NTT bersama Wali Kota Kupang Christian Widodo dan Kepala Perwakilan BI NTT sebagai simbol dibukanya rangkaian Road to FESyar 2026 sekaligus berakhirnya program SERAMBI 2026 di NTT.*/oanwutun/llt













Komentar