SUMBATIMUR,SELATANINDONESIA.COM โ Pancasila tidak cukup dihafalkan. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di tengah masyarakat desa. Pesan itu disampaikan Anggota MPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Dr. Umbu Rudi Kabunang, SH., MH., saat menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Tanarara, Kecamatan Matawai La Pawu, Kabupaten Sumba Timur, 20 Juli 2026.
Sekitar 150 warga dari sejumlah desa menghadiri kegiatan tersebut. Sebagian besar peserta merupakan petani dan peternak. Umbu Rudi didampingi tokoh agama dan budaya, Pdt. Abraham Litinau, serta sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat.
Dalam forum itu, Umbu Rudi menjelaskan empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Menurut dia, sosialisasi Empat Pilar tidak boleh berhenti pada penyampaian konsep. Nilai kebangsaan harus diterjemahkan menjadi perilaku yang nyata di tengah masyarakat.
โKami ingin Empat Pilar tidak berhenti sebagai konsep, tetapi menjadi pegangan hidup dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,โ ujar Umbu Rudi.
Pancasila Dimulai dari Kehidupan Desa
Umbu Rudi menilai desa memiliki posisi penting dalam menjaga dan menghidupkan nilai-nilai Pancasila. Praktik gotong royong, toleransi, kepedulian terhadap sesama, serta menjaga persatuan merupakan bentuk sederhana penerapan nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda. Perubahan teknologi dan derasnya arus informasi, menurut dia, membuat generasi muda perlu memiliki fondasi kebangsaan yang kuat.
โPemuda di desa adalah ujung tombak pembangunan bangsa. Dari merekalah Pancasila tidak hanya dihafalkan, tetapi dijalankan dalam kehidupan sehari-hari,โ katanya.
Kebebasan berpendapat yang berkembang pada era reformasi, lanjut Umbu Rudi, merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi. Namun, kebebasan tersebut perlu disertai tanggung jawab dan kesadaran untuk menjaga persatuan.
โKita memiliki tanggung jawab moral untuk membentengi remaja dengan nilai-nilai Pancasila. Inilah warisan para pendiri bangsa yang harus terus hidup,โ ujarnya.
Aspirasi Masyarakat Menjadi Bagian dari Tugas DPR
Selain membahas nilai-nilai kebangsaan, pertemuan tersebut dimanfaatkan warga untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat pedesaan. Aspirasi yang muncul berkaitan dengan kebutuhan pembangunan dan keterbatasan akses masyarakat di wilayah tersebut.
Umbu Rudi mengatakan aspirasi warga merupakan bagian penting dari kegiatan turun ke daerah. Masukan itu akan menjadi bahan dalam menjalankan tugasnya sebagai anggota DPR RI.
โApa yang saya dengar hari ini akan saya bawa ke rapat-rapat di DPR RI. Desa harus menjadi bagian dari percakapan besar tentang masa depan Indonesia,โ tegasnya.
Ia menilai pembangunan nasional tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan masyarakat di daerah. Petani, peternak, dan masyarakat desa, kata dia, harus mendapatkan ruang yang cukup dalam agenda pembangunan.
Bagi Umbu Rudi, penguatan Empat Pilar dan pembangunan daerah berjalan beriringan. Nilai kebangsaan menjadi fondasi agar pembangunan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat persatuan dan keadilan sosial.
Dari Tanarara, pesan itu kembali ditegaskan: Pancasila bukan hanya untuk diucapkan atau dihafalkan. Nilainya harus tampak dalam kehidupan masyarakat melalui gotong royong, toleransi, persatuan, dan kepedulian terhadap sesama. (llt)



Komentar