GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Hari Ini NTT Gubernur NTT Nusantara Pariwisata
Beranda / Pariwisata / Di Kota Reinha Rosari Larantuka, Semana Santa Terus Hidup; Gubernur NTT Dorong Penguatan Narasi Tradisi

Di Kota Reinha Rosari Larantuka, Semana Santa Terus Hidup; Gubernur NTT Dorong Penguatan Narasi Tradisi

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena saat bertemu perwakilan keluarga Lajanti Tuan Ma di ruang kerjanya, Selasa (10/3/2026). Foto: Ady

KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Di ujung timur Pulau Flores, sebuah tradisi religius yang telah bertahan lebih dari lima abad masih dijalankan dengan penuh khidmat. Setiap tahun menjelang Paskah, kota kecil Larantuka di Flores Timur, Indonesia berubah menjadi pusat ziarah umat Katolik dari berbagai penjuru dunia. Tradisi itu dikenal sebagai Semana Santa Larantuka, sebuah perayaan Pekan Suci yang sarat sejarah, spiritualitas, dan budaya yang diwariskan sejak abad ke-17.

Tradisi ini diyakini bermula pada tahun 1662, ketika pengaruh Portugis masuk ke wilayah Flores Timur. Sejak saat itu, masyarakat Larantuka mengembangkan cara mereka sendiri dalam memaknai kisah sengsara hingga wafatnya Yesus Kristus. Unsur iman Katolik berpadu dengan budaya lokal, melahirkan sebuah tradisi religius yang unik dan tetap terjaga hingga hari ini.

Bagi masyarakat Larantuka, Semana Santa bukan sekadar festival atau atraksi wisata. Ia adalah perjalanan iman yang hidup. Selama tujuh hari menjelang Paskah, kota ini memasuki suasana kontemplatif. Jalan-jalan dipenuhi peziarah, lilin-lilin dinyalakan, dan doa-doa dilantunkan dalam hening malam. Banyak rumah warga bahkan dibuka untuk menampung peziarah yang datang dari berbagai daerah.

Jejak Portugis yang Bertahan Berabad-abad

Warisan Portugis masih terasa kuat dalam setiap prosesi. Patung-patung sakral yang disebut Tuan Ana (Yesus) dan Tuan Ma (Bunda Maria) disimpan secara turun-temurun oleh keluarga-keluarga tertentu yang dipercaya sebagai penjaga tradisi. Salah satu yang paling dihormati adalah keluarga penjaga patung Tuan Ma, yang memiliki peran penting dalam setiap rangkaian prosesi.

Program MBG Diperkuat, Gubernur NTT Fokus pada Distribusi dan Pangan Lokal

Keunikan inilah yang membuat Semana Santa di Larantuka berbeda dengan perayaan Pekan Suci di tempat lain. Ritualnya bukan hanya milik gereja, tetapi juga milik masyarakat adat yang menjaga tradisi tersebut dari generasi ke generasi.

Setiap tahapan prosesi memiliki makna simbolis yang mendalam. Mulai dari Rabu Trewa, ketika lonceng gereja dibunyikan keras sebagai tanda dimulainya masa dukacita, hingga Kamis Putih dengan ritual pembukaan kapel-kapel doa yang disebut armida di sepanjang kota.

Namun puncak dari seluruh rangkaian tersebut terjadi pada Jumat Agung.

Prosesi Sakral di Laut dan Darat

Pada malam Jumat Agung, ribuan umat berkumpul dalam prosesi yang dikenal sebagai Sesta Vera. Dalam suasana sunyi dan khidmat, patung Tuan Ana dan Tuan Ma diarak menyusuri kota.

Sentralisasi Likuiditas Melalui Pengalihan Gaji ASN, Implikasi terhadap Ketahanan Bank Pembangunan Daerah dan Otonomi Fiskal Daerah (Sebuah catatan atas pergeseran gaji tenaga PPL ke bank HIMBARA)

Prosesi ini unik karena dilakukan tidak hanya di darat, tetapi juga melalui laut. Perahu-perahu dihiasi lilin dan lampu, membawa simbol-simbol religius menyusuri perairan Larantuka. Dari kejauhan, cahaya lilin yang berpendar di laut menciptakan pemandangan yang magis sekaligus menyentuh batin.

Tidak ada sorak-sorai dalam prosesi ini. Yang terdengar hanyalah doa, nyanyian ratapan tradisional, dan langkah kaki peziarah yang berjalan perlahan mengikuti arak-arakan.

Bagi banyak peziarah, momen ini menjadi pengalaman spiritual yang sangat mendalam. Tidak sedikit yang datang berulang kali setiap tahun untuk merasakan kembali atmosfer sakral yang sulit ditemukan di tempat lain.

Dari Tradisi Iman Menjadi Wisata Rohani Dunia

Dalam beberapa dekade terakhir, Semana Santa berkembang menjadi salah satu destinasi wisata religi paling penting di Indonesia. Ribuan peziarah dari berbagai daerah bahkan mancanegara datang ke Larantuka setiap tahun untuk mengikuti prosesi tersebut.

Wisuda di Ujung Selatan Indonesia, Bupati Henuk: 19 Anak Muda Rote Siap Terjun ke Industri Hospitality

Meski demikian, masyarakat setempat tetap menjaga agar tradisi ini tidak kehilangan makna spiritualnya. Bagi mereka, Semana Santa bukan sekadar tontonan, tetapi sebuah warisan iman yang harus dihormati.

Pemerintah daerah juga mulai melihat potensi besar tradisi ini sebagai kekuatan pariwisata budaya dan religi di Flores Timur. Dengan pengelolaan yang baik, Semana Santa diharapkan tidak hanya memperkuat identitas budaya masyarakat Larantuka, tetapi juga memberi dampak ekonomi bagi warga lokal.

Di tengah dunia yang terus berubah, Semana Santa di Larantuka menjadi pengingat bahwa tradisi, iman, dan sejarah dapat hidup berdampingan selama ratusan tahun diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan penuh kesetiaan.

Dan setiap tahun, ketika lilin-lilin kembali menyala di kota kecil di ujung timur pulau Flores itu, kisah yang telah berumur lebih dari lima abad kembali diceritakan, dalam doa, langkah kaki peziarah, dan hening yang penuh makna.*/radit/llt

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ร— Advertisement
ร— Advertisement