KEFAMENANU,SELATANINDONESIA.COM – Di halaman SMKN 1 Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Senin (30/3/2026), geliat baru pendidikan vokasi tampak nyata. Peresmian NTT Mart by One School One Product (OSOP) bukan sekadar seremoni, melainkan penanda perubahan arah: sekolah didorong menjadi simpul produksi, bukan lagi sekadar ruang belajar teori.
Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, menyebut momentum ini sebagai langkah penting untuk menggeser wajah ekonomi daerah. โNTT tidak boleh terus berada pada posisi sebagai konsumen. Kita harus bergerak menjadi produsen,โ ujarnya di Kefamenanu.
Pernyataan itu bukan tanpa konteks. Selama ini, ketergantungan terhadap produk dari luar daerah masih tinggi. Karena itu, melalui program OSOP, pemerintah mendorong setiap sekolah memiliki produk unggulan yang dapat dipasarkan secara berkelanjutan. NTT Mart menjadi etalase sekaligus ruang belajar, tempat siswa mempraktikkan seluruh rantai usaha, dari produksi hingga pemasaran.
Di titik inilah perubahan paradigma mulai dibangun. Sekolah tidak lagi diposisikan hanya sebagai tempat transfer pengetahuan, melainkan sebagai pusat praktik kewirausahaan. Siswa dilatih membaca peluang, menjaga kualitas produk, hingga mengelola keuangan. Dengan kata lain, proses belajar bersinggungan langsung dengan realitas ekonomi.
Gagasan ini sejalan dengan dorongan menuju demokrasi ekonomi. Menurut Gubernur Melki, pembangunan tidak cukup berhenti pada demokrasi politik. Masyarakat harus ikut menikmati hasil produksi yang mereka ciptakan sendiri. โTidak ada perubahan tanpa upaya dari dalam. Daerah harus berdiri di atas kekuatan ekonominya sendiri,โ katanya.
Wakil Bupati Timor Tengah Utara, Kamillus Elu, melihat inisiatif ini sebagai jawaban atas tantangan pendidikan vokasi. SMK, menurut dia, tidak hanya mencetak pencari kerja, tetapi juga pelaku usaha. Kehadiran NTT Mart mempertegas fungsi itu sebagai laboratorium kewirausahaan yang konkret.
Namun, tantangan berikutnya terletak pada keberlanjutan. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo, mengingatkan bahwa program ini harus dijaga ritmenya agar tidak berhenti pada tahap peresmian. Konsistensi produksi dan pemasaran akan menentukan apakah NTT Mart benar-benar menjadi penggerak ekonomi sekolah.
Dengan dukungan ratusan siswa dan tenaga pendidik, langkah yang dimulai dari satu sekolah ini diharapkan menjalar ke sekolah-sekolah lain di NTT. Targetnya jelas: setiap sekolah memiliki satu produk unggulan yang mampu bersaing, baik di pasar lokal maupun digital.
Di tengah upaya tersebut, NTT Mart menghadirkan satu pesan sederhana namun mendasar, bahwa pendidikan dan ekonomi tidak lagi berjalan di jalur terpisah. Keduanya bertemu di ruang kelas, di bengkel praktik, dan kini, di etalase usaha siswa. Dari sanalah, perubahan menuju masyarakat yang produktif mulai dibangun.*/jendarlpurek/llt













Komentar