WULLAWAIJELU,SELATANINDONESIA.COM โ Menjaga Indonesia tidak selalu harus dimulai dari pusat kekuasaan. Di tengah kehidupan masyarakat desa, nilai kebangsaan justru diuji dan dipraktikkan setiap hari melalui gotong royong, toleransi, persatuan, dan penghormatan terhadap keberagaman.
Pesan itu disampaikan Anggota MPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Dr. Umbu Rudi Kabunang, SH., MH, saat menggelar Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Balai Pertemuan Kecamatan Wulla Waijelu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Kamis (16/7/2026).
Sekitar 150 warga dari sejumlah desa di Kecamatan Wulla Waijelu mengikuti kegiatan tersebut. Sebagian besar peserta merupakan petani dan peternak. Hadir pula Anggota DPRD Kabupaten Sumba Timur Umbu Aryad Tunggu Djama, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.
Dalam pertemuan itu, Umbu Rudi mengajak masyarakat memahami Empat Pilar Kebangsaan bukan sekadar sebagai konsep kenegaraan, melainkan sebagai nilai yang harus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Empat Pilar tersebut meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta Bhinneka Tunggal Ika.
Menurut dia, desa merupakan salah satu ruang penting untuk merawat nilai-nilai kebangsaan. Kehidupan masyarakat yang masih kuat dengan tradisi gotong royong dan kebersamaan menjadi modal sosial dalam menjaga persatuan.
โPemuda di desa adalah ujung tombak pembangunan bangsa. Dari merekalah Pancasila tidak hanya dihafalkan, tetapi dijalankan dalam kehidupan sehari-hari,โ ujar Umbu Rudi.
Ia menilai penguatan nilai kebangsaan semakin penting di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat. Perkembangan teknologi informasi dan keterbukaan di era reformasi memberikan ruang yang luas bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat. Namun, kebebasan tersebut, menurut dia, tetap harus berjalan bersama tanggung jawab dan penghormatan terhadap nilai-nilai kehidupan bersama.
โKita memiliki tanggung jawab moral untuk membentengi generasi muda dengan nilai-nilai Pancasila. Ini adalah warisan para pendiri bangsa yang harus terus hidup,โ katanya.
Aspirasi dari desa
Sosialisasi tersebut berlangsung secara dialogis. Selain mendapatkan pemahaman mengenai Empat Pilar, masyarakat juga menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Sejumlah aspirasi berkaitan dengan keterbatasan akses pembangunan dan harapan agar kehadiran negara semakin dirasakan masyarakat di wilayah perdesaan.
Umbu Rudi mengatakan, aspirasi tersebut tidak boleh berhenti di ruang pertemuan. Sebagai anggota DPR RI, ia menyatakan akan membawa berbagai persoalan yang disampaikan masyarakat ke tingkat nasional sesuai kewenangannya.
โApa yang saya dengar hari ini akan saya bawa ke rapat-rapat di DPR RI. Desa harus menjadi bagian dari percakapan besar tentang masa depan Indonesia,โ ujarnya.
Bagi Umbu Rudi, pembangunan nasional tidak dapat dilepaskan dari kondisi masyarakat di daerah. Pembangunan yang berkeadilan, kata dia, harus memperhatikan kebutuhan masyarakat di wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan.
Karena itu, sosialisasi Empat Pilar juga menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan kebangsaan dengan realitas kehidupan masyarakat. Nilai Pancasila, misalnya, tidak hanya berbicara mengenai dasar negara, tetapi juga menyangkut keadilan sosial dan bagaimana negara hadir memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh warga.
Merawat persatuan dari ruang-ruang sederhana
Umbu Rudi mengingatkan, keberagaman Indonesia merupakan kekuatan yang harus terus dirawat. Di tengah perbedaan agama, suku, budaya, dan latar belakang sosial, masyarakat perlu menjadikan persatuan sebagai kepentingan bersama.
Menurut dia, semangat Bhinneka Tunggal Ika harus diwujudkan dalam kehidupan nyata. Perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menjauh, tetapi menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan bersama.
โKami ingin Empat Pilar tidak berhenti sebagai konsep, tetapi menjadi pegangan hidup dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,โ tutur Umbu Rudi.
Dari Wulla Waijelu, pesan kebangsaan itu disampaikan melalui ruang pertemuan yang sederhana. Di tengah masyarakat yang sebagian besar menggantungkan kehidupan sebagai petani dan peternak, nilai-nilai tentang Indonesia kembali dibicarakan.
Sebab, menjaga Indonesia tidak hanya dilakukan melalui kebijakan dari pusat. Ia juga tumbuh dari desaโdari masyarakat yang memilih bergotong royong, menghormati perbedaan, menjaga persatuan, dan memastikan nilai-nilai kemerdekaan tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.*/llt



Komentar