KUPANGSELATANINDONESIA.COM โ Di tengah berbagai tantangan kebangsaan yang kerap diwarnai isu perbedaan identitas dan keyakinan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali menunjukkan bahwa kerukunan tidak selalu lahir dari pidato panjang ataupun slogan yang megah. Toleransi justru hidup dalam tindakan sederhana yang dijalankan bersama.
Semangat itu akan tampak dalam pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi NTT yang berlangsung pada 23-28 Juni 2026 di Mbay, Kabupaten Nagekeo. Salah satu agenda pembuka kegiatan tersebut menghadirkan simbol persaudaraan yang kuat: Pawai Ta’aruf peserta MTQ dari 22 kabupaten dan kota se-NTT akan dilepas dari halaman Gereja Katolik St. Maria Penginanga, menuju Masjid Baiturahman Alorongga.
Rencana tersebut mengemuka dalam audiensi pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Provinsi NTT dengan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena di Kupang.
Bagi sebagian daerah, penggunaan halaman gereja sebagai titik awal kegiatan umat Islam mungkin dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Namun bagi masyarakat NTT, langkah tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia menjadi cerminan kehidupan sosial yang selama puluhan tahun dibangun di atas fondasi saling menghormati, menjaga, dan merawat keberagaman.
“Kadang toleransi tidak perlu banyak pidato. Cukup dilihat dari langkah yang berjalan bersama,” ujar Gubernur Melki Laka Lena saat menerima audiensi tersebut.
Pernyataan itu seolah merangkum realitas kehidupan masyarakat NTT yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah dengan tingkat harmoni sosial dan kerukunan antarumat beragama yang relatif kuat. Di berbagai wilayah, masyarakat telah terbiasa saling membantu dalam kegiatan keagamaan, menjaga keamanan perayaan hari besar agama, hingga berbagi ruang sosial tanpa memandang perbedaan keyakinan.
Pelaksanaan MTQ XXXI di Kabupaten Nagekeo menjadi momentum yang mempertegas nilai tersebut. Di tengah dominasi penduduk beragama Katolik di wilayah itu, masyarakat dan pemerintah daerah justru menyambut pelaksanaan kegiatan keagamaan Islam sebagai bagian dari perayaan bersama masyarakat NTT.
Halaman Gereja Katolik Penginana Mbay yang akan menjadi titik pelepasan Pawai Ta’aruf bukan sekadar lokasi seremonial. Tempat itu menjadi simbol bahwa rumah ibadah tidak hanya berdiri sebagai ruang spiritual bagi umatnya masing-masing, tetapi juga dapat menjadi penanda hadirnya persaudaraan lintas iman.
Ribuan peserta yang akan berjalan dari halaman gereja menuju arena MTQ nantinya membawa pesan yang lebih besar daripada sekadar mengikuti pawai pembukaan. Mereka akan membawa pesan bahwa perbedaan agama tidak menjadi batas untuk saling mendukung dan menghormati.
Ketua LPTQ Provinsi NTT H. Moh. Ansor bersama jajaran pengurus yang hadir dalam audiensi tersebut menyampaikan berbagai kesiapan penyelenggaraan MTQ. Pemerintah Provinsi NTT pun memastikan dukungan penuh agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, lancar, dan sukses.
Bagi Kabupaten Nagekeo, penyelenggaraan MTQ XXXI juga memiliki arti tersendiri. Ini menjadi kali pertama daerah tersebut dipercaya menjadi tuan rumah MTQ tingkat provinsi setelah sebelumnya perhelatan serupa digelar di Kabupaten Ende dan Kabupaten Manggarai Barat.
Lebih dari sekadar ajang perlombaan membaca dan memahami Al-Qur’an, MTQ tahun ini diharapkan menjadi ruang perjumpaan antarmasyarakat dari berbagai daerah di NTT. Kehadiran peserta dari seluruh kabupaten dan kota akan memperkuat ikatan sosial yang selama ini menjadi kekuatan utama provinsi kepulauan tersebut.
Di tengah derasnya arus informasi yang sering kali memperlihatkan wajah perpecahan, NTT kembali mengirimkan pesan berbeda kepada Indonesia. Pesan bahwa keberagaman bukan ancaman yang harus dikelola dengan kecurigaan, melainkan anugerah yang dapat dirawat melalui kepercayaan dan kebersamaan.
Ketika peserta MTQ nanti melangkah dari halaman gereja menuju arena perlombaan, yang berjalan bukan hanya sebuah pawai. Yang bergerak bersama adalah harapan bahwa persaudaraan antarumat beragama tetap menjadi fondasi kokoh kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Dan dari Mbay, Nagekeo, pesan itu akan kembali bergema: NTT bukan hanya beragam, tetapi juga mampu menjaga keberagaman itu dalam kehidupan nyata sehari-hari.*/llt



Komentar