Gubernur NTT mengecam keras penembakan tiga ASN yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan. Ia meminta aparat segera menangkap dan memproses hukum seluruh pelaku.
KUPANG,SELATANINDONESIA.COM โ Mereka berangkat untuk menjalankan tugas negara. Bukan membawa senjata, melainkan membawa pelayanan dan bantuan pangan bagi masyarakat.
Namun, tugas kemanusiaan itu berakhir tragis. Tiga aparatur sipil negara yang sedang menjalankan tugas di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, tewas dalam aksi penembakan, Rabu (9/9/2026).
Dua di antaranya adalah warga Nusa Tenggara Timur: Willi Mbuik, CPNS Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya asal Kupang, dan drh. Alfonsius Albinus Mehan, dokter hewan pada Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya asal Maumere, Kabupaten Sikka.
Satu korban lainnya ialah Aprida Rapi, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, asal Toraja, Sulawesi Selatan.
Kabar tersebut segera menyentuh NTT. Dari Flores yang tengah berjuang bangkit setelah gempa, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyampaikan duka sekaligus kecaman keras.
โIni betul-betul melukai kemanusiaan kita, melukai kebangsaan kita, serta kebersamaan kita sebagai satu bangsa,โ kata Gubernur Melki, Kamis (10/9/2026).
Bagi Gubernur Melki, kematian kedua putra NTT itu bukan sekadar kehilangan dua aparatur pemerintah. Ada pengabdian yang terhenti dan ada keluarga yang harus menerima kepulangan orang yang mereka cintai dalam keadaan tak bernyawa.
Tugas Negara yang Dibayar dengan Nyawa
Gubernur Melki menegaskan, Willi dan Alfonsius berada di Papua untuk menjalankan tugas kemanusiaan. Mereka membantu pemerintah menyalurkan pelayanan dan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Karena itu, tidak ada alasan yang dapat membenarkan kekerasan terhadap mereka.
โApa pun alasan yang mendasarinya, kekerasan dan pembunuhan terhadap manusia tidak dapat dibenarkan,โ ujar Gubernur Melki.
Ia meminta aparat keamanan tidak berhenti pada penyelidikan, tetapi segera mengejar dan menangkap para pelaku. Proses hukum terhadap mereka, menurut dia, harus dilakukan secara tegas dan terbuka.
Peristiwa tersebut, kata Gubernur Melki, tidak boleh menjadi kekerasan yang kembali berulang terhadap warga sipil maupun aparatur negara yang menjalankan tugas pelayanan masyarakat di Papua.
โNegara harus hadir dan memastikan setiap anak bangsa yang mengabdi di mana pun berada mendapatkan rasa aman dan perlindungan,โ katanya.
Dari NTT untuk Papua
Ada ironi yang dirasakan Gubernur Melki. Saat ini, NTT sendiri tengah merasakan bagaimana solidaritas kebangsaan bekerja. Setelah gempa mengguncang Flores, masyarakat dari berbagai daerah datang membawa bantuan, tenaga, dan harapan bagi warga yang terdampak.
Dalam situasi seperti itu, batas-batas daerah menjadi kabur. Orang datang untuk menolong sesama warga Indonesia.
Hal serupa dilakukan Willi dan Alfonsius di Papua.
โMereka menunjukkan bahwa kebangsaan dan kemanusiaan tidak mengenal batas daerah,โ kata Gubernur Melki.
Karena itu, pengorbanan kedua warga NTT tersebut tidak boleh dipandang semata sebagai tragedi daerah. Bagi Gubernur Melki, peristiwa itu menjadi pengingat bahwa tugas kemanusiaan harus dilindungi dan dijaga oleh seluruh negara.
Terlebih bagi anak-anak NTT yang memilih mengabdi jauh dari kampung halaman.
โSiapa pun itu, terutama anak-anak NTT yang sedang melaksanakan tugas kemanusiaan di Papua, harus mendapat perlindungan. Tidak boleh diintimidasi, apalagi ditembak secara kejam,โ ujar Gubernur Melki.
Pemprov NTT Jemput Jenazah
Di tengah duka, Pemerintah Provinsi NTT memastikan akan memberikan pendampingan kepada keluarga korban.
Jenazah Willi Mbuik dan drh. Alfonsius Albinus Mehan dijadwalkan tiba di Kupang pada Jumat (11/9/2026). Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma akan menjemput langsung kedua jenazah tersebut atas nama pemerintah provinsi.
โKami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban yang telah gugur dalam rangka menjalankan tugas kenegaraan di Papua,โ kata Gubernur Melki.
Bagi keluarga, kepulangan itu tentu bukanlah kepulangan yang diharapkan.
Ada rumah yang menanti, tetapi yang datang adalah jenazah. Ada orang tua yang menunggu kabar, tetapi yang harus diterima adalah kenyataan bahwa anak mereka tidak akan kembali seperti ketika berangkat.
Gubernur Melki berharap pemerintah dan masyarakat memberikan dukungan penuh kepada keluarga Willi dan Alfonsius.
Ia juga berharap pengorbanan kedua warga NTT tersebut tidak berhenti sebagai berita duka.
โSemoga pengabdian mereka menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus berbuat baik bagi negeri, di NTT, Papua, dan di mana pun kita berada,โ katanya.
Selamat Jalan, Dua Warga NTT
Willi dan Alfonsius memilih mengabdi jauh dari tanah kelahiran. Mereka menjadi bagian dari aparatur negara yang bekerja di wilayah yang tidak selalu mudah.
Keduanya meninggal ketika menjalankan pekerjaan yang semestinya menjadi jalan untuk melayani masyarakat.
Kini, perjalanan itu berhenti.
Dari Kupang, doa akan menyertai kepulangan mereka. Dari Papua, pengabdian mereka meninggalkan jejak.
โSemoga Tuhan menerima amal pengabdian dan menempatkan kedua putra terbaik NTT ini di sisi-Nya,โ kata Gubernur Melki.
Selamat jalan, Willi Mbuik.
Selamat jalan, drh. Alfonsius Albinus Mehan.
Kalian pergi membawa tugas kemanusiaan. Semoga pengabdian itu menjadi pengingat bahwa Indonesia dibangun bukan hanya oleh mereka yang bekerja di tempat asalnya, tetapi juga oleh anak-anak bangsa yang bersedia hadir dan melayani sesama, bahkan jauh dari kampung halaman.*/llt



Komentar