MBAY,SELATANINDONESIA.COM โ Di halaman Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aeramo, Kabupaten Nagekeo, tenda-tenda berdiri menggantikan sebagian ruang pelayanan yang tidak lagi aman digunakan. Di tengah keterbatasan itu, aktivitas medis tetap bergerak. Pasien datang, dokter memeriksa, perawat berjaga, dan tindakan operasi tetap dilakukan.
Pada Rabu (9/9/2026), Gubernur Nusa Tenggara Timur Melki Laka Lena datang ke rumah sakit tersebut. Ia tidak hanya memeriksa kerusakan bangunan dan memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan. Perhatian Gubernur Melki tertuju pula kepada orang-orang yang berada di balik keberlangsungan pelayanan itu: para tenaga kesehatan (nakes).
Semua mereka juga merupakan korban gempa. Ada tenaga kesehatan yang rumahnya mengalami kerusakan. Ada yang harus menghadapi situasi sulit di tempat tinggalnya sendiri. Namun, ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, mereka tetap datang ke rumah sakit dan bekerja.
โMalam dingin, siang panas. Tetapi tenaga kesehatan tetap memberikan pelayanan. Walaupun mereka sendiri terdampak, pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan,โ kata Gubernur Melki saat meninjau RSUD Aeramo.
Di hadapan Bupati Nagekeo Simplisius Donatus dan Direktur RSUD Aeramo dr. Chandrawati, Gubernur Melki meminta pemerintah daerah tidak melupakan kondisi para tenaga kesehatan tersebut. Ia bahkan meminta perhatian khusus diberikan kepada mereka.

Ruang ICU Darurat di halaman RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo yang ditinjau Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, Rabu (9/9/2026).foto:baldussae
โPak Bupati, para nakes kita ini sekalipun mereka juga terdampak, ada yang rumahnya juga rusak berat dan berbagai kerusakan yang lainnya, tetapi mereka masih berdiri di garda terdepan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dalam situasi yang tidak mudah ini,โ ujar Gubernur Melki.
Ia meminta seluruh tenaga kesehatan yang rumahnya terdampak segera didata. Kerusakan tempat tinggal mereka harus dipetakan agar bantuan dapat diberikan secara tepat.
โSaya minta agar ini diberi atensi khusus untuk para nakes. Harus didata betul rumah-rumah mereka yang rusak dan harus dibantu,โ tegasnya.
Rumah Sakit Tetap Berdenyut
Gempa mengubah wajah RSUD Aeramo. Sejumlah pelayanan terpaksa dipindahkan ke ruang-ruang sementara. Tenda rumah sakit lapangan didirikan di halaman untuk memastikan pelayanan tidak terhenti.
Namun, dalam kondisi serba terbatas itu, rumah sakit tetap berdenyut.
Sekitar 109 kunjungan rawat jalan tercatat. Sebanyak 38 pasien masih menjalani rawat inap. Pelayanan berlangsung selama 24 jam.
Tiga ruang rawat inap dengan kategori hijau masih dapat digunakan. Di antara pasien yang dirawat terdapat lima bayi yang membutuhkan perhatian dan perawatan khusus.
Gubernur Melki menyempatkan diri menyapa pasien dan melihat langsung kondisi pelayanan. Ia ingin memastikan bahwa pemulihan pascagempa tidak membuat hak masyarakat memperoleh layanan kesehatan terabaikan.
Lebih dari itu, aktivitas operasi tetap berjalan. Dengan dua ruang operasi yang tersedia, hampir 80 tindakan operasi telah dilakukan. Bahkan, pelayanan operasi tetap berlangsung ketika gempa terjadi.
Bagi Gubernur Melki, hal itu menunjukkan keteguhan para tenaga kesehatan. โPada saat gempa pun tetap melakukan operasi. Ini luar biasa. Saya menyampaikan apresiasi kepada seluruh tenaga kesehatan yang tetap memberikan pelayanan dalam kondisi seperti ini,โ katanya.
Di balik angka-angka pelayanan tersebut, terdapat cerita tentang ketahanan manusia. Para dokter, perawat, bidan, tenaga penunjang, dan seluruh pekerja rumah sakit bukan hanya menjalankan tugas profesional. Mereka juga sedang menghadapi dampak bencana yang sama dengan masyarakat yang mereka layani.
Karena itu, bagi pemerintah, pemulihan rumah sakit tidak cukup hanya berbicara tentang bangunan.
Ada manusia yang harus dijaga agar pelayanan tetap hidup.

Para tenaga kesehatan (nakes) yang juga merupakan korban gempa bumi Flores namun tetap memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di halaman RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, Rabu (9/9/2026). foto: baldussae
Gedung Harus Diganti
Gubernur Melki kemudian meninjau ruang operasi dan berbagai fasilitas rumah sakit untuk melihat bagian yang masih dapat digunakan serta kebutuhan perbaikannya.
Menurut dia, kondisi bangunan RSUD Aeramo membutuhkan penanganan serius. Perbaikan total tidak dapat ditunda terlalu lama.
โGedung ini memang harus diganti. Ini sudah dalam perhatian Menteri Kesehatan. Kita tunggu semua data masuk,โ ujar Gubernur Melki.
Ia meminta seluruh data kerusakan segera dihimpun dan dilengkapi. Data tersebut akan menjadi dasar bagi pemerintah untuk menentukan langkah penanganan, baik terhadap fasilitas yang masih bisa dipertahankan maupun bangunan yang membutuhkan penggantian.
Untuk jangka pendek, fasilitas yang masih memungkinkan digunakan harus segera diperbaiki. Tujuannya sederhana: pelayanan kesehatan tidak boleh berhenti.
Apalagi, rumah sakit kini menghadapi persoalan lain yang tidak kalah mendesakโmusim hujan.
โKita berburu waktu dengan musim hujan. Karena itu, persiapan harus dilakukan sekarang,โ kata Gubernur Melki.
Ia meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat segera mengambil langkah untuk memastikan fasilitas yang masih digunakan aman dan siap menghadapi curah hujan.
Mengejar Waktu Pemulihan
Bagi Pemerintah Provinsi NTT, RSUD Aeramo merupakan salah satu titik penting dalam pemulihan masyarakat Nagekeo setelah gempa.
Kerusakan fisik memang terlihat pada bangunan. Namun, dampak bencana jauh lebih luas. Pasien harus tetap mendapatkan perawatan, tenaga kesehatan harus tetap bekerja, dan rumah sakit harus tetap beroperasi.
Karena itu, Gubernur Melki menegaskan pemerintah akan mendorong dua pekerjaan secara bersamaan.
Yang pertama adalah memastikan pelayanan tetap berjalan dengan fasilitas sementara dan perbaikan yang dapat dilakukan segera.
Yang kedua adalah mempercepat proses menuju perbaikan total RSUD Aeramo.
โYang sementara kita tangani agar pelayanan tetap berjalan. Tetapi perbaikan total harus dipercepat. Kita tidak boleh menunggu terlalu lama,โ ujarnya.
Di halaman rumah sakit, tenda-tenda masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, di balik keterbatasan itu, para tenaga kesehatan tetap mengenakan pakaian kerja, memeriksa pasien, menjalankan operasi, dan berjaga sepanjang waktu.
Mereka bekerja ketika sebagian rumah mereka mungkin belum pulih. Mereka melayani ketika kehidupan pribadi mereka juga sedang berusaha bangkit.
Di RSUD Aeramo, pemulihan pascagempa karena itu bukan hanya soal membangun kembali tembok dan ruang pelayanan. Pemulihan juga berarti memastikan orang-orang yang menjaga kesehatan masyarakatโtermasuk para tenaga kesehatan yang menjadi korbanโtidak berjalan sendirian.
Dan pesan Gubernur Melki di rumah sakit itu jelas: bangunan harus segera dipulihkan, tetapi mereka yang selama ini berdiri di garis depan juga harus diselamatkan.*/OanWutun/llt



Komentar