WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM — Penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID) kepada Ketua Presidium Konfederasi Nasional Pordasi yang juga Ketua Pengurus Pusat Federasi Nasional Pordasi Memanah, Triwatty Marciano, menjadi penanda arah baru pembinaan olahraga pacuan kuda nasional. Di tengah penyelenggaraan Kejuaraan Pacuan Kuda Bupati Cup Sumba Barat 2026 di Arena Gelora Pada Eweta, Sabtu (18/7/2026), apresiasi terhadap pengembangan kuda lokal Indonesia itu berjalan beriringan dengan peluncuran kampanye “Aman Berprestasi”, yang menempatkan keselamatan joki cilik sebagai fondasi pembinaan atlet menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028.
Tepuk tangan panjang menggema di Arena Pacuan Kuda Gelora Pada Eweta ketika Triwatty Marciano menerima penghargaan LEPRID di hadapan ribuan pencinta pacuan kuda, jajaran pemerintah daerah, pelaku peternakan kuda, komunitas olahraga berkuda, dan masyarakat Pulau Sumba. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kiprah Triwatty dalam mendorong pengembangan, pembinaan, dan peningkatan prestasi kuda lokal Indonesia hingga mampu bersaing pada level nasional maupun internasional.
Penghargaan itu bukan sekadar pengakuan terhadap seorang tokoh olahraga berkuda. Lebih dari itu, apresiasi tersebut menjadi simbol semakin besarnya perhatian terhadap transformasi olahraga pacuan kuda Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir bergerak menuju tata kelola yang lebih profesional tanpa meninggalkan akar budaya yang telah hidup ratusan tahun di Pulau Sumba.
Perwakilan LEPRID, Laurens Leba Tukan, menyerahkan penghargaan itu di hadapan jajaran pemerintah daerah, pelaku peternakan kuda, komunitas pacuan, serta masyarakat yang menjadikan pacuan kuda sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus kebanggaan daerah.
Menariknya, setelah menerima penghargaan dunia dari LEPRID, Triwatty Marciano justeru memberikan penghargaan yang diterimanya itu kepada Ketua Harian Pengurus Pusat Federasi Nasional Pordasi Pacu, Eddy Wijaya. “Saya mengajak Pak Eddy Wijaya sebagai Ketua Harian Pengurus Pusat Federasi Nasional Pordasi Pacu untuk bersama-sama menerima penghargaan ini karena keberhasilan teman-teman ini yang membuat Federasi Nasional Pordasi Pacu berkembang baik hinga ke kabupaten-kabupaten di NTT,” sebut Triwatty sembari mengajak Eddy Wijaya dan Pengurus Pusat FN Pordasi Pacu untuk menerima penghargaan LEPRID.
Pendiri sekaligus Ketua Umum LEPRID, Paulus Pangka, menilai kepemimpinan Triwatty Marciano telah memberikan arah baru bagi pembinaan olahraga berkuda nasional. Di bawah Konfederasi Nasional Pordasi, pengembangan kuda lokal tidak lagi dipandang sebatas pelestarian tradisi, tetapi juga sebagai investasi olahraga prestasi yang memiliki nilai ekonomi, budaya, pariwisata, dan diplomasi bangsa.
“Pengembangan kuda lokal membutuhkan komitmen jangka panjang. Apa yang dilakukan Ibu Triwatty menjadi inspirasi bagi seluruh insan olahraga berkuda untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan sehingga kuda lokal Indonesia mampu bersaing di tingkat nasional maupun dunia,” ujar Paulus.
Momentum penghargaan tersebut berlangsung beriringan dengan upaya besar membenahi wajah pacuan kuda di Pulau Sumba. Jika selama ini pacuan kuda identik sebagai tradisi turun-temurun, kini perhatian mulai bergeser pada aspek keselamatan atlet, pembinaan usia dini, hingga standarisasi penyelenggaraan kejuaraan sebagai bagian dari pembangunan olahraga prestasi.
Melalui kampanye “Aman Berprestasi”, Konfederasi Nasional Pordasi menyerahkan 90 pasang helm dan body protector kepada joki cilik di empat kabupaten di Pulau Sumba. Bantuan tersebut menjadi langkah awal membangun budaya keselamatan bagi anak-anak yang sejak usia dini telah menjadi bagian dari tradisi pacuan kuda Sumba.
Bagi Triwatty Marciano, regenerasi joki merupakan fondasi masa depan pacuan kuda Indonesia. Namun, pembinaan atlet muda harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap hak, keamanan, dan keselamatan anak.
“Bagaimana kita bisa menyelamatkan anak-anak kita dari hobinya sebagai joki cilik, yang kelak menjadi cikal bakal joki-joki nasional bahkan internasional,” ujar Triwatty.
Konfederasi Nasional Pordasi juga mendorong pemerintah daerah di Pulau Sumba menerbitkan regulasi yang mewajibkan penggunaan perlengkapan keselamatan dalam setiap latihan maupun perlombaan. Langkah tersebut dinilai penting agar pembinaan atlet pacuan kuda telah memenuhi standar keselamatan ketika memasuki ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028.
Perhatian terhadap keselamatan joki menjadi bagian dari agenda besar pembenahan pacuan kuda nasional. Kejuaraan Pacuan Kuda Bupati Cup Sumba Barat 2026 tidak hanya menghadirkan persaingan di lintasan, tetapi juga menjadi momentum memperkenalkan standar keselamatan yang lebih baik bagi atlet, khususnya joki cilik yang selama ini menjadi ciri khas pacuan kuda tradisional di Pulau Sumba.
Bagi masyarakat Sumba, pacuan kuda bukan sekadar olahraga. Hamparan padang savana yang luas menjadikan kuda bagian dari kehidupan sehari-hari, simbol status sosial, sekaligus warisan budaya yang terus dijaga lintas generasi. Potensi inilah yang kini diarahkan menjadi kekuatan sport tourism, industri olahraga, dan pengembangan ekonomi daerah berbasis kearifan lokal.
Transformasi organisasi Pordasi yang dimulai pada 2024 melalui pembentukan empat federasi nasional—Pordasi Pacu, Pordasi Equestrian, Pordasi Polo, dan Pordasi Berkuda Memanah—membuka ruang pembinaan yang lebih fokus bagi setiap disiplin olahraga berkuda. Melalui tata kelola baru tersebut, pembinaan atlet, pengembangan kuda lokal, dan peningkatan kualitas penyelenggaraan kejuaraan diharapkan mampu mengangkat daya saing Indonesia di tingkat internasional.
Di tengah perubahan itu, penghargaan LEPRID kepada Triwatty Marciano menjadi simbol bahwa keberhasilan olahraga tidak semata diukur dari raihan medali. Membangun ekosistem yang sehat, menjaga warisan budaya, melindungi atlet sejak usia dini, serta meningkatkan kualitas kuda lokal Indonesia merupakan fondasi menuju kemajuan pacuan kuda nasional.
Dari Arena Gelora Pada Eweta, pesan itu mengalir kuat: masa depan pacuan kuda Indonesia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang tercepat melintasi garis finis, tetapi juga oleh keberanian membangun sistem pembinaan yang aman, profesional, dan berkelanjutan menuju PON 2028 serta panggung internasional.*/pp/llt




Komentar