G-RDVF5GTVXM
GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Hari Ini NTT Daerah Ekonomi Golkar Politik
Beranda / Politik / Agus Nahak Pimpin Golkar Belu, Alain Niti Susanto Serukan Persatuan dan Kerja Kerakyatan Menuju Pemilu 2029

Agus Nahak Pimpin Golkar Belu, Alain Niti Susanto Serukan Persatuan dan Kerja Kerakyatan Menuju Pemilu 2029

Duo Nahak, Ketua DPD II Golkar Kabupaten Belu periode 2020-2026 Yohanes Jefri Nahak (kiri) dan Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Belu periode 2026-2031 Agsitinus Nahak usai Musda XI DPD II Partai Golkar Kabupaten Belu, Rabu (24/6/2026) di Atambua. foto:alain

ATAMBUA,SELATANINDONESIA.COM โ€” Partai Golkar Kabupaten Belu memasuki fase baru konsolidasi politik. Musyawarah Daerah (Musda) XI yang digelar di Atambua, Rabu (24/6/2026), menetapkan Agustinus Nahak sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Partai Golkar Kabupaten Belu periode 2026โ€“2031 melalui mekanisme aklamasi.

Keputusan bulat seluruh pemilik hak suara itu sekaligus menutup dinamika internal yang sempat mengemuka menjelang pelaksanaan Musda. Setelah melalui proses komunikasi dan konsolidasi di berbagai tingkatan, forum tertinggi partai di tingkat kabupaten tersebut akhirnya menghasilkan kesepakatan bersama untuk menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada anggota DPRD Nusa Tenggara Timur itu.

Musda diawali dengan penyampaian laporan pertanggungjawaban pengurus periode 2020โ€“2025 oleh Ketua DPD II Golkar Belu demisioner, Yohanes Jefri Nahak. Dalam laporannya, ia memaparkan berbagai capaian organisasi selama masa kepemimpinannya sekaligus menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran pengurus, kader, simpatisan, serta dukungan dari DPP dan DPD I Partai Golkar NTT.

Forum Musda menerima laporan tersebut, yang menjadi penanda berakhirnya masa kepengurusan sebelumnya. Selanjutnya, bendera pataka Partai Golkar diserahkan oleh pimpinan Musda Vinsen Bureni kepada Agus Nahak sebagai simbol resmi peralihan kepemimpinan dan amanat untuk melanjutkan agenda penguatan partai di Kabupaten Belu.

Dalam pidato perdananya sebagai ketua terpilih, Agus Nahak memberikan penghargaan kepada kepengurusan sebelumnya yang dinilai telah membangun fondasi organisasi yang kuat. Menurut dia, pekerjaan besar berikutnya adalah mempercepat konsolidasi struktur partai hingga ke tingkat kecamatan dan desa sebagai modal menghadapi agenda politik lima tahun mendatang.

Ketua Umum TP PKK Kunjungi TTU, Dorong Kesehatan Pelajar hingga Penguatan UMKM Lokal

“Oktober sampai November kami akan melantik pengurus kecamatan dan desa. Kita harus bekerja bersama, berkolaborasi, dan melakukan konsolidasi sampai ke akar rumput,” kata Agus Nahak.

Bagi Agus Nahak, dinamika yang terjadi menjelang Musda merupakan bagian dari proses demokrasi yang lazim dalam organisasi politik. Namun, setelah keputusan diambil, seluruh kader memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga persatuan dan menjalankan keputusan organisasi.

“Orang mungkin melihat seolah-olah ada perpecahan. Tetapi itulah dinamika dalam Golkar. Setelah Musda selesai, kita kembali menjadi satu keluarga besar dan tunduk pada keputusan organisasi,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi sinyal rekonsiliasi bagi seluruh elemen partai setelah kompetisi internal yang berlangsung cukup dinamis. Agus menegaskan bahwa energi partai tidak boleh lagi tersita oleh perbedaan pilihan dalam Musda, melainkan harus diarahkan untuk memperkuat kerja-kerja organisasi dan pelayanan kepada masyarakat.

“Kita sudah selesai dengan dinamika kemarin. Saatnya kerja kolaborasi, bukan hanya pengurus, tetapi juga organisasi sayap, organisasi kemasyarakatan pendiri dan yang didirikan Golkar, serta seluruh kader,” katanya.

Kejurnas Pacuan Kuda 2026 Road to PON XXII Digelar di Sumba Barat, Perebutkan Piala Presiden

Momentum Musda juga menjadi kesempatan bagi DPD I Partai Golkar NTT untuk memberikan arah strategis bagi kepengurusan baru. Ketua DPD I Golkar NTT, Fransiskus Xaverius Alain Niti Susanto, menegaskan bahwa Musda bukan sekadar forum pergantian kepemimpinan, melainkan momentum menentukan arah perjuangan partai dalam lima tahun ke depan. Alain saat itu didampingi Sekretaris DPD I Golkar NTT, Wehelmintje Sarce Libby Sinlaeloe, Bendahara Restu Herdani Dupe, dan sejumlah pengurus DPD I Golkar NTT diantaranya ย Vinsen Bureni, Jemmy Lasa, Eddy Naga, dan Fenty Nope serta sejumlah pengurus PD AMPG NTT.

Menurut Fransiskus, tantangan politik menuju Pemilu dan Pilkada 2029 menuntut Golkar Belu memperkuat tiga pilar utama yang dirumuskan dalam strategi 3S, yakni soliditas, struktur, dan sentuhan kepada rakyat.

Soliditas diperlukan untuk menjaga kekompakan internal setelah kontestasi organisasi. Struktur harus diperkuat hingga tingkat paling bawah agar mesin partai bekerja efektif. Adapun sentuhan kepada rakyat menjadi kunci mempertahankan relevansi partai di tengah perubahan kebutuhan masyarakat.

Ia juga mendorong Golkar Belu memperluas program-program pemberdayaan ekonomi masyarakat, terutama melalui pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Selain itu, sinergi antara Fraksi Golkar di DPRD dan pemerintah daerah dinilai perlu terus diperkuat guna mengawal agenda pembangunan daerah.

Bagi Golkar Belu, hasil Musda XI tidak hanya menghadirkan pemimpin baru, tetapi juga membuka babak konsolidasi baru. Tantangan yang dihadapi tidak ringan. Selain menjaga soliditas internal, partai berlambang pohon beringin itu dituntut memperluas basis dukungan politik di tengah semakin kompetitifnya peta politik lokal menjelang Pemilu dan Pilkada 2029.

Opini: JAMKRIDA NTT DALAM PERSPEKTIF, NTT INCORPORATED

Agus Nahak sendiri bukan figur baru dalam politik Nusa Tenggara Timur. Selain menjadi anggota DPRD NTT dari daerah pemilihan Belu, Malaka, dan Timor Tengah Utara, ia saat ini menjabat Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT yang membidangi kesejahteraan rakyat, meliputi pendidikan, kesehatan, sosial, ketenagakerjaan, kebudayaan, kepemudaan, olahraga, pemberdayaan perempuan, hingga penanganan bencana.

Dengan pengalaman tersebut, Agus Nahak diharapkan mampu menerjemahkan soliditas organisasi menjadi kekuatan politik yang nyata. Aklamasi yang mengantarnya ke kursi ketua menandai berakhirnya kompetisi internal. Namun, pekerjaan sesungguhnya baru dimulai: mengubah persatuan organisasi menjadi dukungan elektoral dan memperkuat posisi Golkar sebagai salah satu kekuatan politik utama di Kabupaten Belu menjelang 2029.Naskah ini sudah disusun dengan karakter khas berita politik Kompas: fokus pada konteks, dinamika organisasi, kutipan yang proporsional, serta analisis implisit mengenai tantangan elektoral dan konsolidasi partai.*/llt

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ร— Advertisement
ร— Advertisement