TAMBOLAKA,SELATANINDONESIA.COM โ Di tengah tantangan pembangunan sumber daya manusia dan kebutuhan memperkuat ekonomi lokal, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) memilih menempuh dua jalur sekaligus: memperluas akses pendidikan melalui beasiswa dan menanamkan jiwa kewirausahaan sejak bangku sekolah.
Komitmen itu mengemuka saat kunjungan kerja Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena di Aula SMKS Pancasila Tambolaka, Rabu (17/6/2026), dalam rangka peluncuran program NTT Mart berbasis One School One Product (OSOP) serta sosialisasi Pergub NTT Nomor 24 Tahun 2026 tentang Gerakan Jam Belajar Masyarakat.
Program OSOP merupakan bagian dari strategi Pemerintah Provinsi NTT untuk menjadikan sekolah sebagai pusat produksi, inovasi, dan pengembangan kewirausahaan generasi muda.
Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonu Wulla, menegaskan bahwa investasi terbesar daerah tidak hanya terletak pada pembangunan fisik, melainkan pada pembangunan manusia. Karena itu, pendidikan harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat.
Menurut dia, penerapan Jam Belajar Masyarakat merupakan upaya membangun budaya belajar yang lebih disiplin di lingkungan keluarga. Anak-anak didorong memanfaatkan waktu belajar secara teratur di rumah, sementara orang tua dan masyarakat diharapkan menciptakan suasana yang mendukung proses pendidikan.
โPendidikan tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah. Ini adalah tanggung jawab bersama demi masa depan anak-anak kita,โ ujar Ratu Wulla.
Namun, penguatan pendidikan dinilai tidak cukup hanya dengan meningkatkan prestasi akademik. Di tengah perubahan ekonomi dan pasar kerja yang semakin kompetitif, generasi muda juga perlu dibekali kemampuan berwirausaha dan menciptakan nilai tambah.
Di sinilah NTT Mart by OSOP menemukan relevansinya. Program tersebut membuka ruang bagi sekolah untuk mengembangkan produk unggulan yang lahir dari kreativitas siswa, sekaligus memperkenalkan mekanisme produksi, pemasaran, dan manajemen usaha sejak dini. Pemerintah Provinsi NTT menempatkan NTT Mart sebagai etalase bagi produk-produk unggulan yang dihasilkan sekolah, komunitas, dan desa dalam membangun ekosistem ekonomi daerah yang lebih kuat.
Bagi Kabupaten Sumba Barat Daya, kehadiran NTT Mart menjadi peluang strategis untuk mempertemukan dunia pendidikan dengan kebutuhan pembangunan ekonomi daerah. Sekolah tidak lagi hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga laboratorium kewirausahaan yang melatih kreativitas, inovasi, dan kemandirian peserta didik.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan bahwa pembangunan daerah harus berjalan seimbang antara peningkatan kualitas pendidikan dan penguatan ekonomi masyarakat.
โKalau anak-anak NTT hebat di sekolah, UMKM kita maju, dan uang berputar di daerah sendiri, masa depan NTT pasti berbeda,โ ujar Gubernur Melki.
Menutup kunjungan kerjanya di Pulau Sumba, Gubernur Melki mengatakan bahwa peluncuran NTT Mart berbasis OSOP dan sosialisasi Gerakan Jam Belajar Masyarakat merupakan bagian dari upaya membangun fondasi pembangunan daerah yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Didampingi Bupati SBD Ratu Ngadu Bonu Wulla, Anggota DPRD NTT Anton Mahemba, serta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Melki menegaskan bahwa NTT tidak boleh hanya kuat dalam demokrasi politik, tetapi juga harus menghadirkan keadilan ekonomi bagi seluruh masyarakat.
โNTT Mart hadir sebagai rumah bagi produk lokal. Sementara Gerakan Jam Belajar mengingatkan bahwa rumah adalah sekolah pertama bagi anak-anak kita,โ katanya.
Menurut Gubernur Melki, pembangunan NTT tidak hanya diukur dari pembangunan infrastruktur semata, tetapi juga dari kemampuan daerah menumbuhkan mimpi, karakter, dan kesempatan bagi generasi muda.
โKarena membangun NTT bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang menumbuhkan mimpi, karakter, dan kesempatan,โ ujarnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten SBD juga memperkuat fondasi pembangunan SDM melalui program beasiswa yang terus diperluas. Hingga 2026, pemerintah daerah telah mengalokasikan dukungan pendidikan bagi 738 mahasiswa jenjang sarjana (S1), 100 mahasiswa magister (S2), dan 10 mahasiswa doktor (S3).
Angka tersebut mencerminkan upaya daerah untuk memastikan keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang bagi putra-putri Sumba Barat Daya dalam mengakses pendidikan tinggi. Investasi pada pendidikan tinggi dipandang sebagai langkah jangka panjang untuk mencetak tenaga profesional, akademisi, peneliti, dan pemimpin daerah pada masa mendatang.
Dengan kombinasi antara penguatan budaya belajar, perluasan akses pendidikan melalui beasiswa, dan pembinaan kewirausahaan melalui OSOP, Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya berharap dapat melahirkan generasi yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja baru.
Di tengah berbagai keterbatasan wilayah kepulauan, pendekatan tersebut menjadi strategi pembangunan yang menempatkan pendidikan dan ekonomi sebagai dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Sekolah dipersiapkan menjadi pusat lahirnya inovasi, sementara beasiswa menjadi jembatan bagi lahirnya SDM unggul yang akan menggerakkan pembangunan daerah pada dekade-dekade mendatang.*/Adi Suseno/llt




Komentar