WAIBAKUL,SELATANINDONESIA.COMย โ Di sebuah wilayah yang masih bergulat dengan keterbatasan akses dan ekonomi, investasi pada pendidikan mulai menunjukkan hasil yang nyata. Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah yang dipimpin Bupati Paulus S. K. Limu, melalui Program Beasiswa Abadi, perlahan memetik buah dari kebijakan yang dirancang untuk memutus rantai kemiskinan berbasis pendidikan.
Salah satu potret keberhasilan itu hadir dari sosok Rene Elyzondo Umbu Kabali Deta. Lulusan Universitas Kristen Artha Wacana Kupang ini menyelesaikan studi Sarjana Akuntansi dalam waktu 3,5 tahun dengan indeks prestasi kumulatif 3,8 dan predikat cum laude, capaian yang tidak lahir dari ruang hampa.
Di balik keberhasilannya, terdapat peran program beasiswa daerah yang mulai dijalankan sejak 2019 di bawah kepemimpinan Bupati Paulus S. K. Limu. Program tersebut menyasar mahasiswa dari keluarga kurang mampu dengan skema pembiayaan berkelanjutan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
โBeasiswa ini bukan sekadar bantuan biaya, tetapi juga memberi keyakinan untuk terus melangkah,โ ujar Rene kepada SelatanIndonesia.com, Jumat (24/4/2026). Ia mengenang masa-masa ketika keluarganya harus berjuang memenuhi biaya registrasi kuliah.
Program Beasiswa Abadi dirancang sebagai kebijakan jangka panjang, bukan bantuan sesaat. Pada tahun pertama pelaksanaannya, hampir 500 mahasiswa menerima manfaat dari program ini. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah penerima relatif stabil di kisaran ratusan mahasiswa per tahun, mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam memperluas akses pendidikan tinggi.
Di tengah berbagai keterbatasan, pendekatan ini menjadi signifikan. Pemerintah daerah menempatkan pendidikan sebagai instrumen utama pembangunan manusia, sekaligus strategi untuk menekan angka kemiskinan. Dengan alokasi anggaran yang pada tahap awal mencapai sekitar Rp10 miliar, program ini menjadi salah satu intervensi fiskal terbesar di sektor pendidikan di tingkat kabupaten.
Bagi Rene, dampak program tersebut tidak hanya terasa pada aspek finansial. Dukungan beasiswa memberinya ruang untuk berkembang. Ia mengikuti lomba debat nasional di Universitas Nusa Cendana, aktif dalam organisasi GMKI Kupang, hingga terpilih sebagai peserta program pertukaran mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka selama tujuh bulan.
Pengalaman tersebut memperluas jejaring sekaligus mengasah daya saing. Bahkan, dalam masa pertukaran, ia menjadi satu-satunya mahasiswa dari perguruan tinggi swasta yang lolos dalam program tersebut, serta berhasil menuntaskan seminar proposal di kampus tujuan, capaian yang jarang terjadi.
Kisah Rene menjadi ilustrasi konkret bahwa intervensi kebijakan yang tepat dapat menghasilkan dampak berlapis. Akses pendidikan yang terbuka mendorong lahirnya kepercayaan diri, prestasi akademik, hingga peluang yang lebih luas bagi generasi muda di daerah.
Meski demikian, tantangan belum sepenuhnya usai. Setelah menyelesaikan studi sarjana, Rene mengaku masih menghadapi kendala dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang magister akibat keterbatasan akses beasiswa lanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa kesinambungan kebijakan pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah.
Program Beasiswa Abadi, dalam konteks ini, menjadi fondasi awal. Ke depan, keberlanjutan program serta perluasan dukungan hingga jenjang pendidikan lebih tinggi dinilai penting untuk memastikan investasi sumber daya manusia benar-benar memberikan dampak jangka panjang.
Di Sumba Tengah, upaya itu telah dimulai. Dan dari kisah-kisah seperti Rene, arah kebijakan tersebut perlahan menemukan pembenarannya.*/llt













Komentar