GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Hari Ini NTT Pendidikan
Beranda / Pendidikan / Mahasiswa UNDANA Soroti Peran Perempuan dalam Ketangguhan Bencana di NTT

Mahasiswa UNDANA Soroti Peran Perempuan dalam Ketangguhan Bencana di NTT

Acara memperingati International Women’s Day (IWD) 2026 dengan tema “Perempuan NTT Berbagi untuk Berdaya”. Kegiatan ini digelar oleh Program SIAP SIAGA Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bekerja sama dengan BEM UNDANA, Forum Pengurangan Risiko Bencana NTT, dan Tenggara Youth Community di Auditorium Pascasarjana Undana Kupang, Senin (30/3/2026). Foto: Dok. SIAPSIAGA

KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Puluhan mahasiswa Universitas Nusa Cendana (UNDANA) memadati Auditorium Pascasarjana, Senin (30/3/2026) untuk memperingati International Women’s Day (IWD) 2026 dengan tema “Perempuan NTT Berbagi untuk Berdaya”. Kegiatan ini digelar oleh Program SIAP SIAGA Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bekerja sama dengan BEM UNDANA, Forum Pengurangan Risiko Bencana NTT, dan Tenggara Youth Community.

Dalam keterangan tertulis yang diterima SelatanIndonesia.com, sekitar 90 mahasiswa dari berbagai fakultas hadir untuk mengikuti diskusi dan lokakarya yang menyoroti peran perempuan, terutama perempuan muda, dalam menghadapi bencana dan perubahan iklim—tantangan yang nyata di wilayah rawan bencana seperti NTT.

Lucy Dickinson, Team Leader Program SIAP SIAGA Indonesia, menekankan pentingnya pengakuan terhadap perempuan di garis depan respons bencana. “Perempuan sering berada di depan, baik di rumah maupun di komunitas, namun suara mereka belum selalu didengar dalam pengambilan keputusan. Ketika kita berbagi pengetahuan dan pengalaman, kita sedang membangun kekuatan untuk diri sendiri, orang lain, dan masa depan bersama,” ujarnya.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNDANA, Dr. Siprianus Suban Garak, M.Si, membuka kegiatan ini dengan menyatakan harapannya agar mahasiswa tidak hanya menjadi peserta pasif, tetapi juga bagian dari solusi dalam menghadapi tantangan sosial dan kebencanaan di daerah.

Nelayan Perempuan dan Perubahan Garis Pantai

Bupati Ratu Wulla: Gereja Mitra Strategis Bangun Karakter Generasi Muda Sumba

Talk show “Perempuan dalam Resiliensi Bencana dan Perubahan Iklim” menghadirkan dua narasumber inspiratif: Yasinta Adoe, nelayan perempuan muda dari komunitas pesisir Kota Kupang, dan Melsi Anita Mansula, pendiri Bank Sampah Mutiara Timor.

Yasinta Adoe menceritakan pengalamannya mendirikan komunitas Majelis Nelayan Bersatu pada 2023. Komunitas ini didominasi perempuan yang aktif memperjuangkan akses laut, pembangunan pemecah gelombang, asuransi aset nelayan, serta fasilitas pinjaman perbankan tanpa jaminan.

“Perubahan garis pantai bukan lagi ancaman masa depan, tapi realitas yang kami hadapi hari ini. Pantai kami perlahan hilang, dan pembangunan beton seperti hotel membatasi akses ke laut,” kata Yasinta. Ia menekankan, perempuan muda di komunitasnya menjadi penggerak informasi dan aksi nyata dalam menghadapi krisis ekosistem pesisir.

Mengubah Perilaku Masyarakat melalui Bank Sampah

Melsi Anita Mansula berbagi pengalaman membangun Bank Sampah Mutiara Timor sebagai gerakan perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah. Dengan pendekatan edukasi dan insentif, gerakannya kini menjangkau sekitar 3.000 kepala keluarga di Kota Kupang, membantu masyarakat memperoleh penghasilan tambahan sekaligus menjaga lingkungan.

Bank NTT Jadi Penyalur KUR untuk UMKM, Menteri Maman Abdurrahman Minta Perkuat Pendampingan

“Dua tahun pertama penuh tantangan. Banyak masyarakat awalnya menolak, tetapi ketika mereka melihat manfaat nyata, perubahan mulai terjadi. Orang muda jangan cepat menyerah untuk mewujudkan mimpi mengubah sesuatu,” ujar Melsi.

Mahasiswa sebagai Agen Perubahan

Selain talk show, kegiatan ini menghadirkan sesi refleksi dan mini lokakarya penyusunan ide kampanye media sosial bertema IWD 2026. Para peserta merumuskan pesan-pesan kunci tentang pentingnya keterlibatan perempuan dalam pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim di tingkat kampus maupun masyarakat.

Lucy Dickinson berharap, kegiatan ini bukan hanya menjadi inspirasi, tetapi juga melahirkan gerakan nyata dan berkelanjutan. “Perempuan muda adalah pemimpin. Ketika diberi ruang, kesempatan, dan dukungan, perubahan besar pasti terjadi. Mari kita terus berkarya dan saling menguatkan,” ujarnya.

Program SIAP SIAGA berharap kegiatan ini memperkuat jejaring mahasiswa sebagai agen perubahan sosial serta mendorong lahirnya narasi positif tentang kepemimpinan perempuan dalam membangun ketangguhan daerah terhadap krisis bencana dan perubahan iklim.

Di Labuan Bajo, Menteri Maman dan Gubernur Melki Ajak Pengusaha UMKM NTT Naik Kelas Lewat KUR

Tentang SIAP SIAGA

Program SIAP SIAGA adalah Program Kemitraan Pemerintah Australia dan Pemerintah Indonesia untuk Manajemen Risiko Bencana. Tujuan Program SIAP SIAGA adalah memperkuat manajemen risiko bencana di Indonesia, mendukung keterlibatan antara Australia dan Indonesia dalam penanggulangan bencana di Kawasan Indo-Pasifik. Program ini dilaksanakan di tingkat nasional dan sub-nasional (4 provinsi) dimana Provinsi NTT merupakan salah satu lokasi kerja program SIAP SIAGA.

Untuk Informasi lebih lanjut, hubungi:

Silvia Fanggidae, SIAP SIAGA NTT Area Manager

Telp: +62 811-3827-878

Matheos Messakh, SIAP SIAGA NTT Communication Officer

Telp: +62 813-3927-2155

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement