JAKARTA,SELATANINDONESIA.COM โ Di tengah ketatnya persaingan riset nasional, Universitas Kristen Wira Wacana Sumba (Unkriswina Sumba) mencatat capaian penting dengan menembus jajaran 122 inovator terpilih Program Bestari Saintek Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Program yang didukung pendanaan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ini menjadi salah satu skema strategis pemerintah untuk mendorong transformasi riset perguruan tinggi agar tidak berhenti pada publikasi ilmiah, melainkan menghasilkan dampak nyata melalui Non-Traditional Research Output (NTRO), seperti prototipe, model implementasi, hingga rekomendasi kebijakan.
Dari 2.449 proposal yang masuk dari seluruh Indonesia, hanya 122 inovator yang dinyatakan lolos pendanaan. Di tengah seleksi ketat tersebut, Unkriswina Sumba menjadi salah satu perguruan tinggi yang berhasil menembus daftar terpilih melalui inovasi berbasis kebutuhan lokal Nusa Tenggara Timur.
Inovasi garam dari lahan terbatas Sumba Timur
Tim peneliti Unkriswina mengusung gagasan bertajuk Geo-Tunnel Salt Processing (GTSP), sebuah inovasi teknologi pengolahan garam berbasis lahan terbatas. Model ini dirancang untuk menjawab tantangan produksi garam di wilayah pesisir yang memiliki keterbatasan ruang dan ketergantungan pada kondisi iklim.
Melalui pendekatan Co-DCIE dan konsep living lab quadruple helix, inovasi ini mengintegrasikan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat. Tujuannya bukan hanya meningkatkan produktivitas garam, tetapi juga membangun ekosistem produksi berkelanjutan yang dapat diterapkan langsung di tingkat lokal, khususnya di Kabupaten Sumba Timur.
Kolaborasi lintas disiplin
Kekuatan utama proposal ini terletak pada kolaborasi multidisiplin yang melibatkan peneliti dari berbagai latar belakang keilmuan, mulai dari perikanan, ekonomi, teknologi pertanian, hukum, hingga ilmu komputer. Pendekatan ini dinilai memperkuat aspek implementasi inovasi yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sosial dan kelembagaan.
Tim peneliti yang terlibat terdiri atas Krisman Umbu Henggu, Umbu Domu Wora, Adrianus Kabubu Hudang, Anggreni Madik Linda, Anita Tamu Ina, Rambu Hada Indah, dan Titania Aurelya Leo.
Penandatanganan kontrak hibah
Sebagai tindak lanjut program, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unkriswina Sumba, Dr. Nurbety Tarigan, turut hadir dalam penandatanganan kontrak hibah KemdiktisaintekโLPDP. Agenda tersebut juga dihadiri Project Management Office (PMO) Program Semesta serta Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D.
Riset berdampak dari wilayah timur Indonesia
Keberhasilan ini menegaskan posisi Unkriswina Sumba sebagai salah satu perguruan tinggi daerah yang mulai menunjukkan daya saing dalam ekosistem riset nasional. Lebih dari sekadar capaian institusional, inovasi GTSP juga mencerminkan upaya perguruan tinggi dalam menjawab persoalan konkret masyarakat melalui pendekatan sains dan teknologi yang kontekstual.
Dengan pendanaan yang telah disetujui, implementasi inovasi ini diharapkan dapat menjadi model pengembangan swasembada garam berkelanjutan, sekaligus memperkuat kontribusi riset dari kawasan timur Indonesia dalam peta inovasi nasional.*/unkriswina.ac.id/llt
ย













Komentar