KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Aroma laut yang segar, desir angin pantai, dan riuh aktivitas nelayan segera menemukan panggung barunya di pesisir Oeba, Kota Kupang. Dari kawasan ini, sebuah gagasan tentang kuliner berbasis hasil tangkapan lokal perlahan disiapkan menjadi wajah baru wisata gastronomi Nusa Tenggara Timur.
Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPD HIPMI) NTT menggagas pembangunan sentra kuliner seafood bertajuk “Ikan Nae di Pante”, yang direncanakan berdiri di kawasan Pantai Oeba, Kecamatan Kelapa Lima. Program ini menjadi salah satu langkah konkret HIPMI dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui penguatan potensi lokal.
Ketua BPD HIPMI NTT, Restu Herdani Baptista Dupe dalam pembukaan Rakerda, Diklatda, dan Forbisda HIMPI NTT, Jumat (1/5/2026) di Harper Hotel Kupang menegaskan bahwa gagasan ini bukan sekadar menghadirkan tempat makan, melainkan membangun ekosistem usaha yang menghubungkan nelayan, pelaku UMKM, hingga sektor perbankan dalam satu rantai nilai yang efisien.
“Ikan Nae di Pante” dirancang sebagai ruang temu antara hasil laut segar dan kreativitas kuliner masyarakat pesisir. Pengunjung nantinya dapat menikmati aneka olahan seafood langsung dari sumbernya, dengan suasana pantai yang tetap terjaga alami.
Kolaborasi dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menjadi kunci dalam merealisasikan proyek ini. Melalui program Desa BRILiaN, BRI memberikan dukungan pembiayaan penuh untuk pembangunan kawasan kuliner tersebut. Langkah ini sekaligus membuka akses permodalan yang lebih luas bagi pelaku usaha kecil yang akan terlibat di dalamnya.
Tidak hanya itu, kehadiran sentra kuliner ini juga diharapkan mampu memangkas rantai distribusi ikan. Selama ini, hasil tangkapan nelayan sering melewati jalur distribusi yang panjang sebelum sampai ke konsumen. Dengan konsep yang ditawarkan, ikan segar dapat langsung disalurkan dari nelayan ke pedagang, lalu disajikan kepada pengunjung dalam waktu yang lebih singkat.
Efisiensi ini bukan hanya menjamin kesegaran produk, tetapi juga berpotensi meningkatkan pendapatan nelayan serta menekan biaya bagi pelaku usaha kuliner.
Lebih jauh, “Ikan Nae di Pante” diproyeksikan menjadi ikon baru wisata kuliner di Kota Kupang. Di tengah geliat pariwisata yang terus berkembang, pendekatan berbasis lokal seperti ini dinilai mampu memberikan pengalaman autentik bagi wisatawan sekaligus memperkuat identitas daerah.
Dukungan terhadap inisiatif ini juga datang dari Pemerintah Provinsi NTT. Mewakili gubernur, Kepala Biro Ekonomi Setda NTT, Selvi Nange, menyampaikan apresiasi atas langkah HIPMI yang dinilai mampu menjawab tantangan ekonomi daerah.
Menurutnya, kolaborasi antara organisasi pengusaha, perbankan, dan pemerintah merupakan kunci dalam menciptakan ekosistem usaha yang sehat dan berkelanjutan. Pemerintah, kata dia, berkomitmen untuk terus menghadirkan kemudahan investasi, penguatan infrastruktur, serta pemberdayaan UMKM di berbagai sektor unggulan, termasuk perikanan dan kuliner.
Ia juga menekankan bahwa di tengah percepatan transformasi digital dan ketatnya persaingan global, dibutuhkan pengusaha muda yang adaptif, inovatif, dan mampu membaca peluang berbasis potensi lokal.
Inisiatif ini turut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan strategis HIPMI NTT melalui forum Rakerda, Diklatda, dan Forbisda. Kegiatan tersebut dihadiri oleh pengurus dari 22 BPC HIPMI kabupaten/kota se-NTT serta perwakilan pengurus pusat dari BPP HIPMI, sebagai wujud konsolidasi organisasi sekaligus penguatan jejaring usaha.
Melalui forum tersebut, HIPMI tidak hanya membahas program kerja, tetapi juga memperkuat kapasitas sumber daya manusia, membuka peluang investasi, serta memperluas akses pembiayaan bagi para anggotanya.
Selain pembangunan fisik, akses pembiayaan turut diperkuat dengan melibatkan Bank NTT sebagai penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR). Sinergi ini membuka peluang lebih luas bagi pelaku usaha, khususnya generasi muda, untuk mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.
Di tengah tantangan global dan dinamika ekonomi yang terus berubah, langkah seperti ini menjadi penting. Bukan hanya untuk menggerakkan ekonomi, tetapi juga memastikan bahwa potensi lokal, dari laut hingga dapur, tidak sekadar menjadi komoditas, melainkan sumber kesejahteraan bersama.
Dari Pantai Oeba, “Ikan Nae di Pante” diharapkan bukan hanya menjadi tempat makan, tetapi juga simbol bagaimana kolaborasi, keberanian, dan kearifan lokal dapat berpadu menciptakan masa depan ekonomi NTT yang lebih kuat.*/llt













Komentar