ENDE,SELATANINDONESIA.COM โ Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Uskup Agung Ende Mgr. Paul Budi Kleden, S.V.D., dan penggagas Camino de Flores, Mari Elka Pangestu, menandai penutupan perjalanan ziarah lintas wilayah Flores melalui Misa Kudus di Gereja Kristus Raja Katedral Ende, Senin (26/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengembangkan wisata religius yang memadukan spiritualitas, budaya, persaudaraan, dan kepedulian sosial.
Gubernur Melki Laka Lena menghadiri misa penutupan bersama istrinya, Asty Laka Lena. Perayaan ekaristi yang dipimpin Uskup Agung Ende tersebut sekaligus menandai berakhirnya perjalanan para peziarah yang menempuh jarak sekitar 70 kilometer, melintasi Bajawa, Kabupaten Ngada, Nagekeo, Mataloko, hingga Ende.
Bagi Pemerintah Provinsi NTT, Camino de Flores bukan sekadar kegiatan wisata dengan berjalan kaki. Perjalanan ini memperlihatkan bagaimana kekayaan iman, tradisi, dan kehidupan masyarakat Flores dapat menjadi fondasi pengembangan pariwisata yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat setempat.
Gubernur Melki menyampaikan apresiasi kepada Ibu Mari Elka Pangestu sebagai penggagas Camino de Flores, serta Kementerian Pariwisata dan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) yang mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut.
โCamino de Flores merupakan terobosan baru dalam pengembangan wisata religius di Indonesia. Kami berharap kegiatan ini dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang dan menjadi salah satu kekhasan wisata religius di Flores,โ kata Gubernur Melki.
Menurut dia, pengembangan pariwisata di NTT perlu terus diarahkan pada pendekatan yang inklusif dengan mengangkat kekayaan budaya, sejarah, dan spiritualitas. Dengan demikian, kegiatan pariwisata tidak hanya mendatangkan pengunjung, tetapi juga membuka ruang bagi keterlibatan masyarakat dan memberikan dampak nyata bagi kehidupan mereka.
Ziarah yang Menghadirkan Kepedulian
Nilai kemanusiaan menjadi salah satu pesan penting dalam pelaksanaan Camino de Flores tahun ini. Di tengah perjalanan ziarah, para peserta juga menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat Flores yang masih menghadapi proses pemulihan pascagempa.
Gubernur Melki mengapresiasi inisiatif para peziarah yang turut menggalang bantuan untuk mendukung pemulihan wilayah terdampak bencana. Kepedulian itu juga mencakup dukungan bagi perbaikan fasilitas Katedral Ende menjelang perayaan 100 tahun katedral tersebut pada 2027.
Bagi masyarakat Flores, bantuan tersebut memiliki arti lebih dari sekadar dukungan material. Solidaritas yang tumbuh melalui perjalanan bersama mempertemukan pengalaman iman dengan kebutuhan konkret masyarakat yang sedang berupaya bangkit setelah bencana.
Pemerintah Provinsi NTT, kata Gubernur Melki, menyadari masih terdapat keterbatasan dalam memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan seperti Camino de Flores. Namun, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, gereja, pelaku pariwisata, komunitas, dan masyarakat.
Pengembangan wisata religius, menurut dia, memerlukan kesinambungan program serta dukungan berbagai pihak agar tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Potensi perjalanan ziarah perlu dikelola dengan memperhatikan warisan budaya, kehidupan masyarakat lokal, kelestarian lingkungan, dan manfaat ekonomi yang dapat dirasakan warga.
Mari Elka Pangestu Tinggalkan Hati di Flores
Salah satu ungkapan yang membekas dalam penutupan Camino de Flores datang dari Mari Elka Pangestu. Penggagas kegiatan tersebut menyampaikan kesan mendalam atas pengalaman perjalanan bersama masyarakat Flores.
Seperti dikutip Gubernur Melki, Mari menyampaikan, โHati kami, kami tinggalkan di Flores.โ
Bagi Gubernur Melki, ungkapan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi kenangan emosional setelah perjalanan berakhir. Ia berharap keterikatan para peziarah dengan Flores dapat berlanjut melalui karya, perhatian, dan kontribusi nyata bagi kemajuan daerah serta kesejahteraan masyarakat NTT.
Harapan itu sejalan dengan upaya menjadikan Camino de Flores sebagai agenda wisata religius yang berkelanjutan. Perjalanan ziarah berpotensi memperkenalkan Flores melalui pengalaman langsung para peziarah, sekaligus memperkuat hubungan antarkomunitas yang tumbuh sepanjang rute perjalanan.
Pada kesempatan tersebut, Gubernur Melki juga menyampaikan ucapan selamat ulang tahun ke-70 kepada Ibu Mari Elka Pangestu. Ia berharap Camino de Flores terus berkembang dan membawa manfaat bagi Flores serta seluruh masyarakat NTT.
Penutupan Camino de Flores di Katedral Ende menjadi pengingat bahwa perjalanan wisata dapat memiliki makna yang lebih luas ketika disertai kepedulian terhadap sesama. Di Flores, langkah para peziarah tidak hanya menyusuri jalan antardaerah, tetapi juga membawa pesan persaudaraan, solidaritas, dan harapan bagi masyarakat yang tengah membangun kembali kehidupan pascagempa.*/edy/llt



Komentar