KUPANG,SELATANINDONESIA.COM โ Kinerja ekonomi Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan tren yang semakin menguat. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi provinsi ini tercatat sebesar 5,14 persen (year on year), meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 3,87 persen. Di saat yang sama, inflasi tetap terkendali pada level 2,39 persen.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menilai capaian tersebut menjadi indikasi semakin kokohnya fondasi ekonomi daerah di tengah dinamika transformasi ekonomi nasional.
โPertumbuhan ini mencerminkan arah yang positif, apalagi ditopang oleh sektor-sektor yang langsung menyentuh masyarakat,โ ujarnya dalam Flobamora Business and Economic Forum 2026 di Kupang, Kamis (23/4/2026).
Menurut Gubernur Melki, karakter pertumbuhan ekonomi NTT relatif inklusif karena ditopang oleh sektor pertanian yang masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar. Dengan demikian, dampak pertumbuhan dinilai menjangkau sebagian besar masyarakat, terutama di wilayah pedesaan.
Namun, ia mengakui bahwa struktur ekonomi yang masih bertumpu pada sektor primer menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, pemerintah provinsi kini mendorong transformasi ekonomi berbasis potensi daerah melalui peningkatan produksi sekaligus penguatan nilai tambah.
Salah satu strategi utama yang ditempuh adalah hilirisasi komoditas unggulan. Pemerintah daerah menaruh perhatian pada pengembangan produk turunan dari sektor pertanian, perikanan, dan perkebunan, seperti rumput laut, jambu mete, dan kopi.
โHilirisasi menjadi kunci agar nilai ekonomi tidak keluar dari daerah, tetapi bisa dinikmati masyarakat NTT sendiri,โ kata Gubernur Melki.
Selain itu, pengembangan kawasan ekonomi berbasis potensi lokal juga terus didorong. Sejumlah inisiatif strategis tengah berjalan, seperti pengembangan produksi garam di Rote, industri perikanan dan udang di Sumba Timur, hingga penguatan klaster ekonomi di berbagai wilayah.
Pendekatan pembangunan pun diarahkan tidak lagi terpusat pada satu kawasan. Pemerintah mengusung konsep polisentris dengan mendorong tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru di berbagai daerah.
Di sisi lain, Gubernur Melki menyoroti masih terbatasnya jumlah pelaku usaha sebagai hambatan utama dalam percepatan transformasi ekonomi. Ia menekankan pentingnya membangun ekosistem kewirausahaan yang lebih kuat, terutama bagi generasi muda dan mahasiswa.
โKolaborasi antara pemerintah, Bank Indonesia, akademisi, dan pelaku usaha harus diperkuat untuk menciptakan lebih banyak wirausaha produktif,โ ujarnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Adidoyo Prakoso, memandang kinerja ekonomi NTT pada 2025 cukup solid, bahkan sedikit melampaui pertumbuhan nasional. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh sektor pertanian, perdagangan, serta konsumsi dan ekspor yang tetap terjaga.
Memasuki 2026, tantangan eksternal dan domestik diperkirakan masih membayangi, mulai dari ketidakpastian geopolitik, kenaikan harga komoditas global, hingga gangguan rantai pasok. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi NTT diproyeksikan tetap berada pada kisaran 4,94 persen hingga 5,54 persen.
Optimisme ini antara lain didorong oleh penguatan ekonomi kerakyatan, percepatan proyek strategis, serta peningkatan produksi komoditas unggulan.
Forum ekonomi yang digelar tersebut juga menandai peluncuran program kajian kebijakan โKarsa Nusaโ, yang diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi strategis berbasis riset. Program ini melibatkan akademisi, pelaku usaha, dan aparatur sipil negara sebagai upaya memperkuat arah pembangunan ekonomi NTT ke depan.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah daerah berharap pertumbuhan ekonomi tidak hanya terjaga, tetapi juga semakin berkualitas dan merata, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.*/meldo/llt













Komentar