TAMBOLAKA,SELATANINDONESIA.COM – Festival Bahari “K’O di Sumba!” menjelma menjadi lebih dari sekadar panggung hiburan rakyat di pesisir Desa Pero Konda, Kabupaten Sumba Barat Daya. Ia hadir sebagai penanda arah baru: desa pesisir bangkit dengan identitasnya sendiri, menatap laut bukan lagi sebagai batas, melainkan masa depan.
Sabtu (14/2/2026), denyut Pantai Pero terasa berbeda. Deru ombak berpadu dengan riuh warga, derap langkah aparat dan pejabat daerah, serta semangat pelaku UMKM yang menata produk olahan hasil laut mereka. Di antara barisan tamu yang hadir mulai dari kepala perangkat daerah, Camat Kodi, Babinsa, hingga Tim PANA LPDP Pero Konda, terlihat wajah-wajah optimistis akan perubahan yang sedang bertumbuh.
Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Ngadu Bonnu Wulla dalam sambutannya menegaskan, festival ini adalah simbol kebangkitan masyarakat pesisir dalam mengelola potensi laut secara berkelanjutan.
“Ini bukan sekadar festival, bukan sekadar perlombaan, bukan sekadar hiburan rakyat. Ini adalah gerakan bersama untuk membangun dari desa, dari laut, dan dari identitas kita sendiri,” ujarnya.
Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Sejak September 2025 hingga Februari 2026, Program PANA LPDP berjalan intensif di Pero Konda. Hasilnya mulai terlihat: kapasitas sumber daya manusia menguat, UMKM olahan hasil laut lebih terorganisasi, kelembagaan BUMDes diperkuat, dan kesadaran akan potensi wisata bahari meningkat. Lebih dari itu, tumbuh rasa percaya diri masyarakat sebagai tuan rumah di kampungnya sendiri.
Bagi pemerintah daerah, pembangunan seperti inilah yang ingin ditegaskan, bertumpu pada potensi lokal, bergerak dari bawah, dan berorientasi jangka panjang. Laut, dalam perspektif ini, bukan hanya ruang ekonomi, tetapi ruang kebudayaan dan keberlanjutan.
Potensi perikanan, wisata pantai, olahraga bahari, hingga ekonomi kreatif berbasis kelautan menjadi kekuatan strategis yang kini diarahkan secara lebih terencana. Pemerintah daerah mendorong agar produk UMKM pesisir memiliki nilai tambah dan daya saing, generasi muda bangga pada tradisi bahari seperti dayung sampan, serta lingkungan laut tetap terjaga melalui kesadaran kolektif.
Festival ini juga menjadi etalase bahwa wilayah pesisir Kodi siap dilirik investor dan dunia usaha. Pariwisata bahari, menurut Bupati, bukan sekadar soal angka kunjungan, melainkan tentang rantai ekonomi panjang yang melibatkan nelayan, pengolah hasil laut, pedagang, pengrajin, hingga pelaku seni budaya.
Namun, di tengah optimisme itu, pesan kehati-hatian tetap digaungkan. Kemajuan ekonomi tidak boleh dibayar dengan kerusakan lingkungan. Pantai harus tetap bersih, laut lestari, dan budaya terjaga.
Rekam jejak Pero Konda dalam menyelenggarakan berbagai event sejak 2023 hingga 2025 termasuk peringatan Hari Pariwisata Internasional 2025 menjadi modal sosial penting. Pemerintah Kabupaten berharap Festival Bahari “K’O di Sumba!” dapat ditetapkan sebagai agenda tahunan daerah dan masuk dalam kalender pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Di ujung senja Pantai Pero, ketika cahaya matahari perlahan tenggelam di cakrawala Sumba, pesan festival itu terasa jelas: kebangkitan desa pesisir bukan sekadar wacana. Ia sedang tumbuh pelan, kolektif, dan berakar kuat pada laut serta identitas masyarakatnya sendiri.*/KominfoSBD/llt













Komentar