TAMBOLAKA,SELATANINDONESIA.COM – Komitmen menghadirkan generasi sehat ditegaskan Bupati Sumba Barat Daya (SBD) Ratu Ngadu Bonnu Wulla saat peluncuran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Wee Rena, Senin (20/4/2026). Di tengah tingginya angka stunting, program ini disebut sebagai langkah strategis untuk memastikan anak-anak di Sumba Barat Daya tidak lagi tumbuh dalam kekurangan gizi.
Bagi Bupati Ratu Wulla, sepiring makanan bergizi bukan sekadar soal mengenyangkan perut, melainkan fondasi masa depan daerah. Ia menegaskan, kehadiran Program MBG hingga ke pelosok menjadi jawaban atas tantangan serius yang dihadapi Sumba Barat Daya, di mana angka stunting masih berada di kisaran 40,2 persen. Sebuah kondisi yang, jika tidak segera diatasi, berisiko menggerus lahirnya generasi emas di masa mendatang.
“Kami bersyukur program ini hadir hingga ke pelosok. Ini sangat relevan dengan kondisi daerah kita yang angka stuntingnya masih tinggi, yakni 40,2 persen. Jika tidak ditangani, kita bisa kehilangan generasi emas Sumba Barat Daya,” ujarnya.
Peluncuran MBG di SPPG Wee Rena menjadi penanda dimulainya upaya yang lebih terstruktur dalam menjawab persoalan gizi anak. Program ini tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan harian, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia.
“Melalui program ini kita tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga mempersiapkan masa depan anak-anak agar tumbuh menjadi generasi yang kuat, berkarakter, sehat, dan cerdas,” tegasnya.
Lebih jauh, Bupati Ratu Wulla berharap agar program ini dapat berjalan secara berkelanjutan, tepat sasaran, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya memperkuat ketahanan pangan, baik di tingkat keluarga maupun daerah, agar intervensi yang dilakukan tidak berhenti sebagai program sesaat.
Di balik kebijakan dan komitmen itu, ada kisah-kisah sederhana yang menjadi alasan utama program ini hadir. Ketua Yayasan Nduate Sumba Kasih, Theresia Abriana Talu, mengisahkan pengalaman yang membekas ketika anak-anak datang dengan pertanyaan yang sangat mendasar.
“Ada satu momen yang membuat saya terenyuh saat anak-anak datang dan bertanya, kapan kami bisa makan? Pertanyaan sederhana, tapi sangat membekas,” tuturnya.
Bagi Theresia, kehadiran SPPG Wee Rena adalah jawaban atas kerinduan yang telah lama terpendam. Program MBG tidak hanya menyentuh aspek pemenuhan pangan, tetapi juga menjadi ruang edukasi dan pembentukan masa depan generasi muda.
Ia menegaskan komitmen yayasan untuk terus berjalan seiring dengan regulasi pemerintah dan membuka kolaborasi dengan berbagai pihak demi keberlanjutan program.
Sementara itu, Koordinator Wilayah SPPI Sumba Barat Daya, Christian Lete Boro, menilai peluncuran ini sebagai langkah awal yang penting, namun belum cukup. Ia mengungkapkan bahwa dari target sekitar 50 dapur SPPG, baru delapan yang saat ini beroperasi.
Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya pekerjaan rumah dalam memperluas jangkauan layanan, terutama di 11 kecamatan yang belum terlayani secara optimal.
“Kami mohon dukungan semua pihak agar percepatan pembangunan SPPG bisa berjalan lancar. Ini juga menjadi pesan dari Presiden agar ke depan tidak ada lagi pembangunan yang tertunda,” katanya.
Peluncuran program di Wee Rena turut dihadiri berbagai unsur, mulai dari legislatif, TNI, kepolisian, hingga para pengelola SPPG. Kehadiran mereka menegaskan bahwa persoalan gizi anak bukan semata tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan bersama.
Di tengah segala keterbatasan yang masih dihadapi, sepiring makanan yang kini tersaji di Wee Rena membawa makna lebih dari sekadar asupan gizi. Ia menjadi simbol hadirnya perhatian, kolaborasi, dan komitmen untuk memastikan anak-anak tidak lagi tumbuh dalam kekurangan.
Di Sumba Barat Daya, upaya menjaga masa depan itu kini dimulai dari hal yang paling mendasar, makanan yang layak bagi setiap anak. Sepiring sederhana, tetapi menyimpan harapan besar bagi generasi yang akan datang.*/kominfoSBD/llt













Komentar