KUPANG,SELATANINDONESIA,COM — Penjajakan kerja sama antara sejumlah pemerintah daerah di Nusa Tenggara Timur dan Provinsi Jiangxi, Tiongkok, berawal dari inisiatif Bupati Belu Willybrodus Lay. Kerja sama yang mula-mula diarahkan untuk memperkuat pendidikan, pariwisata, dan pertukaran budaya itu kini berkembang menjadi peluang kemitraan yang melibatkan sejumlah kabupaten di NTT, dengan harapan mempercepat pengembangan potensi ekonomi dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Perkembangan tersebut terlihat dalam pertemuan Pemerintah Provinsi NTT bersama delegasi Pemerintah Rakyat Kota Jinggangshan, Provinsi Jiangxi, di Kota Kupang, Selasa (27/10/2026) malam. Pertemuan yang dikemas dalam acara silaturahmi dan perkenalan itu dihadiri Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma serta sejumlah kepala daerah yang ingin menjajaki peluang kerja sama sesuai dengan keunggulan wilayah masing-masing.
Hadir dalam pertemuan tersebut Bupati Belu Willy Lay, Bupati Timor Tengah Utara Falen Kebo, Bupati Sabu Raijua Krisman Riwu Kore, Bupati Rote Ndao Paulus Henuk, dan Wakil Bupati Kupang Aurum Titu Eki. Delegasi Tiongkok dipimpin antara lain oleh Executive Vice President Jiangxi People’s Association for Friendship with Foreign Countries, Tu Anbo.
Pertemuan ini menandai perluasan penjajakan kerja sama yang sebelumnya telah dirintis melalui hubungan antara Kabupaten Belu dan mitra dari Jiangxi. Inisiatif tersebut membuka ruang bagi daerah lain di NTT untuk mengidentifikasi peluang kolaborasi, mulai dari pendidikan dan pelatihan tenaga kerja hingga pengembangan industri berbasis potensi lokal.
Berawal dari Belu, Berkembang ke Daerah Lain
Kabupaten Belu menjadi salah satu pintu awal pengembangan hubungan kerja sama tersebut. Pada 31 Mei 2025, kerja sama yang melibatkan Belu, Bali, dan Jiangxi telah diarahkan pada penguatan pendidikan, pariwisata, pertukaran budaya, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia.
Sejumlah program yang dirancang dalam kerja sama itu mencakup pendirian China Center untuk pembelajaran bahasa Mandarin, pengembangan International Vocational Training Center bagi sektor pariwisata, serta pelatihan kuliner Tiongkok. Program pertukaran pelajar dan dosen, sertifikasi keterampilan, serta riset pariwisata berkelanjutan juga menjadi bagian dari agenda kolaborasi.
Bagi Belu, kerja sama tersebut memiliki arti strategis karena wilayah ini berbatasan langsung dengan Timor Leste. Penguasaan bahasa Mandarin dan keterampilan profesional dinilai dapat memperluas kesempatan masyarakat untuk memasuki dunia kerja, membangun jejaring internasional, dan meningkatkan daya saing ekonomi daerah.
Bupati Belu Willy Lay sebelumnya menegaskan pentingnya kerja sama internasional untuk memperkuat kapasitas masyarakat di wilayah perbatasan. Pengembangan kompetensi bahasa, menurut dia, dapat membuka peluang kerja dan memperluas interaksi ekonomi lintas negara.
Dari fondasi tersebut, peluang kerja sama kemudian dibuka bagi kabupaten lain di NTT. Setiap daerah memiliki kesempatan untuk mengajukan potensi dan kebutuhan pembangunan yang dapat dikembangkan bersama mitra dari Jiangxi.
Potensi Daerah Menjadi Pintu Masuk Investasi
Dalam pertemuan di Kupang, Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma mengatakan, provinsi kepulauan itu memiliki potensi besar di bidang pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, kelautan, dan pariwisata. Namun, pengembangan potensi tersebut masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan infrastruktur, pemerataan pelayanan pendidikan dan kesehatan, serta penguatan ekonomi masyarakat.
“NTT memiliki sumber daya alam yang sangat kaya. Jika dikelola dengan baik, potensi tersebut dapat membawa dampak positif bagi masyarakat. Karena itu, kami membutuhkan kemitraan, pengetahuan, inovasi, dan pengalaman dari berbagai pihak untuk mendukung pembangunan daerah,” ujar Wagub Johni.
Menurut dia, kerja sama dengan mitra internasional perlu diarahkan pada kegiatan yang menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat. Kemitraan tidak cukup berhenti pada pertemuan atau penandatanganan dokumen, tetapi harus diterjemahkan menjadi program yang dapat dilaksanakan dan dievaluasi.
Pemerintah Provinsi NTT juga mendorong penguatan ekonomi lokal melalui program Dasa Cita, One Village One Product (OVOP), Gerakan Beli NTT, NTT Mart, dan Dapur Flobamorata. Inisiatif tersebut diarahkan untuk memperluas pasar produk lokal, meningkatkan nilai tambah hasil produksi, serta memperkuat usaha masyarakat.
Kerja sama dengan Jiangxi berpotensi melengkapi upaya itu, terutama apabila dapat mempertemukan kebutuhan pengembangan produk lokal dengan teknologi pengolahan, akses pasar, investasi, dan peningkatan keterampilan tenaga kerja.
Garam, Rumput Laut, Perikanan, dan Pariwisata
Dalam forum tersebut, sejumlah kepala daerah menyampaikan potensi unggulan yang dapat menjadi dasar pembahasan kerja sama lanjutan.
Bupati Rote Ndao Paulus Henuk menyoroti potensi garam dan pariwisata. Ia berharap kemitraan dengan pihak Tiongkok dapat membuka peluang pengembangan industri garam sekaligus memperkuat sektor pariwisata.
Sementara itu, Bupati Sabu Raijua Krisman Riwu Kore menyampaikan potensi industri garam, rumput laut, dan perikanan yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.
Kabupaten Belu memiliki kepentingan pada pengembangan sumber daya manusia, pendidikan, dan pariwisata. Adapun keterlibatan Kabupaten Timor Tengah Utara dan Kabupaten Kupang membuka peluang penjajakan yang disesuaikan dengan kebutuhan serta potensi masing-masing wilayah.
Meski demikian, berbagai peluang tersebut masih memerlukan pembahasan teknis lebih lanjut. Bentuk investasi, nilai pendanaan, pembagian peran para pihak, serta target pelaksanaan program belum dirinci dalam informasi pertemuan tersebut.
Menunggu Tindak Lanjut Konkret
Perwakilan delegasi Jiangxi, Tu Anbo, menyampaikan apresiasi atas sambutan Pemerintah Provinsi NTT. Ia berharap pertemuan tersebut menjadi landasan bagi kerja sama yang positif dan berkelanjutan.
Pemerintah Provinsi NTT juga menyambut rencana kunjungan delegasi pemerintah provinsi dan kabupaten dari NTT ke Jiangxi pada November 2026. Kunjungan itu diharapkan menjadi kesempatan untuk mengenali potensi kedua wilayah, bertukar pengalaman, dan merumuskan bidang kerja sama yang dapat ditindaklanjuti.
Wagub Johni menekankan bahwa keberhasilan kemitraan harus diukur dari manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat kedua daerah, bukan semata-mata dari kesepakatan formal.
Dengan Belu sebagai salah satu titik awal penjajakan, perluasan kerja sama ke sejumlah kabupaten di NTT membuka peluang bagi daerah untuk membangun kemitraan internasional secara lebih terarah. Tantangan berikutnya ialah memastikan setiap peluang diterjemahkan menjadi program yang jelas, memiliki sasaran terukur, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Bagi NTT, ukuran keberhasilan kerja sama ini pada akhirnya bukan seberapa luas jejaring yang terbentuk, melainkan sejauh mana kemitraan tersebut mampu memperkuat kualitas sumber daya manusia, mengembangkan potensi unggulan daerah, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.*/dio/llt



Komentar