KUPANG,SELATANINDONESIA.COM โ Pulau Sumba kembali bersiap menjadi pusat perhatian dunia olahraga berkuda Indonesia. Pengurus Pusat Federasi Nasional (FN) Pordasi Pacu secara resmi menyetujui Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai tuan rumah Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pacuan Kuda Tradisional 2026 yang direncanakan berlangsung di Gelora Pada Eweta, Waikabubak, pada Agustus mendatang.
Persetujuan tersebut tertuang dalam surat Ketua Umum PP FN Pordasi Pacu, Teddy Soediro, Nomor 012/PP/PACU/A/VI/2026 tertanggal 8 Juni 2026 yang ditujukan kepada Pengurus Provinsi FN Pordasi Pacu NTT.
Keputusan ini menjadi capaian penting bagi komunitas pacuan kuda di NTT. Di tengah persaingan sejumlah daerah yang juga mengajukan diri sebagai penyelenggara, Sumba Barat akhirnya dipercaya menjadi arena penyelenggaraan ajang nasional yang akan mempertemukan para atlet, joki, dan kuda-kuda terbaik dari berbagai provinsi.
Dalam surat persetujuannya, PP FN Pordasi Pacu menekankan sejumlah syarat yang wajib dipenuhi panitia daerah, mulai dari pelaksanaan kejuaraan yang mengacu pada peraturan organisasi, penggunaan steward bersertifikat nasional, koordinasi intensif dengan pengurus pusat, hingga jaminan keamanan bagi atlet, kuda, dan penonton.
Bagi Ketua Pengprov FN Pordasi Pacu NTT, Dr. Umbu Rudi Kabunang, penunjukan Sumba Barat bukan sekadar keberhasilan menghadirkan sebuah event olahraga nasional. Lebih dari itu, Kejurnas menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan Sumba secara utuh kepada Indonesia. Disebutkan Umbu Rudi, peserta yang dipastikan ikut abmil bagian dalam kejurnas pacuan kuda tradisional tanpa pelana ini sekitar delapan propinsi.
“Yang ingin kita tunjukkan bukan hanya pacuan kudanya, tetapi juga kekuatan budaya, tradisi, dan pariwisata Sumba. Ketika ribuan orang datang, hotel akan terisi, penginapan bertambah ramai, UMKM bergerak, dan ekonomi masyarakat ikut tumbuh,” ujar Umbu Rudi.
Ia menilai olahraga pacuan kuda memiliki daya tarik yang unik karena berakar kuat dalam kehidupan masyarakat Sumba. Tradisi berkuda telah menjadi bagian dari identitas budaya yang diwariskan turun-temurun dan masih hidup hingga saat ini.
Karena itu, penyelenggaraan Kejurnas di Gelora Pada Eweta diharapkan menjadi etalase nasional bagi tradisi pacuan kuda Sumba yang selama ini dikenal dengan karakter khasnya, yakni balapan tanpa pelana yang mengandalkan keberanian, keterampilan, dan kedekatan joki dengan kudanya.
Mendorong Kuda Sandelwood Menjadi Ikon Nasional
Lebih jauh, Umbu Rudi menegaskan bahwa agenda besar yang sedang diperjuangkan FN Pordasi Pacu NTT dan Pengkab FN Pordasi Pacu se daratan Sumba adalah mengangkat Kuda Sandelwood sebagai simbol kebanggaan olahraga berkuda Indonesia. โPenyelenggaraan Kejurnas Pacuan Kuda Tradisional tanpa pelana ini atas kolaborasi antara Pengprov FN Pordasi pacu NTT dan Pengkab FN Pordasi Pacu Sumba barat bersama Bupati dan Wakil Bupati Sumba Barat.
Menurut dia, kuda lokal asal Sumba memiliki nilai historis dan genetik yang kuat untuk dikembangkan sebagai ikon nasional. Karena itu, berbagai event pacuan kuda yang digelar di Sumba tidak hanya diarahkan sebagai kompetisi olahraga, tetapi juga sebagai sarana pelestarian plasma nutfah kuda asli Indonesia.
“Kita ingin masyarakat kembali bersemangat beternak kuda. Ketika olahraga ini berkembang, nilai ekonomi kuda akan meningkat dan masyarakat akan melihat bahwa kuda bukan hanya warisan budaya, tetapi juga aset ekonomi yang bernilai tinggi,” katanya.
Upaya tersebut juga sejalan dengan agenda besar olahraga berkuda nasional menjelang Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028 yang akan digelar di NTT dan NTB.
Pacuan kuda tradisional tanpa pelana yang menjadi ciri khas Sumba bahkan didorong dan diterima untuk memperoleh ruang yang lebih luas dalam kalender olahraga nasional. Kehadiran Kejurnas di Sumba Barat dipandang sebagai salah satu tahapan penting dalam proses pembinaan atlet dan pengembangan nomor tradisional menuju panggung yang lebih besar yaitu kini lolos menjadi kelas yang diperlombakan dalam PON XXII tahun 2028. Dan selanjutnya pada PON-PON berikutnya nomor kuda tradisional tanpa pelana akan terus diperlombakan dimanapun PON digelar.
Paket Wisata Budaya dan Olahraga
Selain aspek olahraga, FN Pordasi Pacu NTT juga mendorong pemerintah daerah menyusun peta jalan pengembangan sport tourism berbasis budaya.
Konsep yang sedang disiapkan adalah mengintegrasikan pacuan kuda tradisional dengan agenda budaya unggulan Sumba seperti Pasola sehingga wisatawan dapat menikmati dua atraksi khas dalam satu rangkaian kunjungan.
Menurut Umbu Rudi, kepastian jadwal yang rutin setiap tahun akan membantu membangun citra Sumba sebagai destinasi wisata budaya dan olahraga yang memiliki kalender tetap.
“Kalau kegiatan ini dilaksanakan secara konsisten pada waktu yang sama setiap tahun, wisatawan akan menjadikannya sebagai agenda kunjungan. Mereka datang bukan hanya untuk menonton pacuan kuda, tetapi juga melihat kekayaan budaya Sumba secara keseluruhan,” ujarnya.
Menuju Agustus 2026
Kejurnas Pacuan Kuda Tradisional 2026 diproyeksikan menjadi salah satu agenda olahraga berkuda terbesar yang pernah digelar di NTT dalam beberapa tahun terakhir.
Panitia daerah kini mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan teknis dan infrastruktur untuk menyambut peserta dari delapan provinsi. Kejurnas ini akan memperebutkan piala Presiden RI, serta ada piala per kelas yaitu; piala Ketua Umum KONI Pusat, piala Gubernur NTT, piala Bupati Sumba Barat, piala Anggota DPR RI, piala Ketua Umum PP FN Pordasi Pacu, Ketua Pengprov FN Pordasi Pacu NTT, dan piala Ketua KONI Sumba Barat, piala Ketua Pengkab FN Pordasi Pacu Sumba Barat dan lainnya.
Jika seluruh persiapan berjalan sesuai rencana, derap langkah kuda-kuda terbaik Indonesia di Gelora Pada Eweta pada Agustus nanti tidak hanya akan menjadi pertarungan memperebutkan gelar juara nasional. Lebih dari itu, Kejurnas akan menjadi panggung besar untuk memperkenalkan Sumba, mengangkat martabat Kuda Sandelwood, serta menegaskan bahwa olahraga tradisional dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi dan pariwisata daerah.
Ketua Pengkab Federasi Nasional Pordasi Pacu Sumba Barat, Frengky Tarawatu Susanto menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas persetujuan Pengurus Pusat FN Pordasi Pacu atas digelaranya Kejurnas Pacuan Kuda Tradisional di Sumba Barat. “Kami sia penyukseskan agenda nasional ini dengan sebaik-baiknya, karena membawa dampak positif yang luar biasa bagi Sumba Barat” sebut Frengky.
Penunjukan Sumba Barat sebagai tuan rumah Kejurnas juga sejalan dengan berbagai agenda nasional pengembangan pacuan kuda dan persiapan menuju PON 2028, di mana Gelora Pada Eweta telah diproyeksikan menjadi salah satu pusat kegiatan berkuda pacu di NTT.*/llt




Komentar