ATAMBUA,SELATANINDONESIA.COM – Riuh tepuk tangan dan aroma cat kayu bercampur semangat kreativitas memenuhi pelataran Plaza Perizinan Kabupaten Belu, Sabtu (9/5/2026). Di kota perbatasan RI–RDTL itu, pemerintah daerah bersama Avian Brands mulai merajut mimpi besar menjadikan Atambua sebagai kota festival, ruang hidup yang memberi tempat bagi kreativitas warga tumbuh di tengah denyut ekonomi dan hiburan rakyat.
Lomba Finishing Avian Brands yang digelar dalam rangkaian Car Free Day (CFD) dan Night Market bukan sekadar agenda promosi produk. Kegiatan itu menjadi simbol kolaborasi antara pemerintah daerah dan sektor swasta dalam membangun wajah baru Atambua sebagai kota yang hidup, kreatif, dan terbuka bagi partisipasi masyarakat.
Sekretaris DPRD Kabupaten Belu, Vinsensius Mau, yang membuka kegiatan mewakili Bupati Belu, mengatakan bahwa pemerintah daerah tengah mendorong berbagai kegiatan publik agar ruang kota tidak hanya menjadi tempat aktivitas ekonomi, tetapi juga ruang interaksi sosial dan kreativitas masyarakat.
“Setiap Sabtu kami ingin masyarakat punya ruang untuk beristirahat, berkreasi, dan menikmati hiburan yang sehat. Karena itu CFD sekarang dikembangkan sampai malam melalui Night Market. Kehadiran Avian Brands menjadi bagian penting dari upaya mewujudkan Atambua sebagai Kota Festival,” ujarnya.
Menurut Vinsensius, tingginya antusiasme peserta dalam lomba tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Belu memiliki potensi kreatif yang besar. Potensi itu, kata dia, perlu terus dirawat melalui kegiatan kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak.
Sejak pagi, pelataran Plaza Perizinan dipenuhi peserta lomba finishing cat kayu dari berbagai kalangan. Mereka tampak serius menyelesaikan teknik pengecatan dan finishing menggunakan produk Boyo, cat kayu unggulan dari Avian Brands. Dalam waktu 15 menit, peserta ditantang menghasilkan tampilan akhir terbaik sebelum karya mereka dipajang untuk dinilai.
Marketing Manager Avian Brands, Regina Sukoco, mengaku terkesan dengan sambutan masyarakat Belu dan atmosfer kegiatan yang dinilainya penuh semangat.
“Saya datang langsung dari Surabaya ke Atambua dan merasa senang sekali bisa bertemu masyarakat di sini. Terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Belu yang memberi kesempatan bagi kami untuk terlibat dalam kegiatan positif seperti ini,” katanya.
Ia menilai kegiatan kreatif berbasis komunitas seperti lomba finishing dapat menjadi medium yang efektif untuk mengembangkan keterampilan masyarakat sekaligus mempererat hubungan antara dunia usaha dan pemerintah daerah.
Di tengah geliat pembangunan kawasan perbatasan, langkah Pemerintah Kabupaten Belu menghadirkan festival rakyat setiap akhir pekan menjadi strategi tersendiri untuk menghidupkan ruang kota. Tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku UMKM dan komunitas kreatif lokal.
Bagi Atambua, kota yang berada di beranda timur Indonesia dan berbatasan langsung dengan Timor Leste, festival bukan lagi sekadar perayaan. Festival perlahan menjadi identitas baru kota, tempat kreativitas, ekonomi rakyat, dan ruang publik bertemu dalam semangat kolaborasi.*/prokopimbelu/llt













Komentar