Bupati Sumba Tengah Paulus S. K. Limu menyambut program “Undana Berdampak”, Sinergi Perguruan Tinggi–Daerah untuk Tekan Kemiskinan
WAIBAKUL,SELATANINDONESIA.COM — Upaya menekan angka kemiskinan di Kabupaten Sumba Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Timur, terus diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi.
Bupati Paulus S. K. Limu menerima kunjungan tim dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang untuk membahas implementasi program “Undana Berdampak”, sebuah inisiatif yang mendorong penguatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat melalui kemitraan dengan pemerintah daerah.
Audiensi yang berlangsung di ruang kerja Bupati Sumba Tengah, Kamis (5/2/2026), turut dihadiri Kepala Bapperida Sumba Tengah. Pertemuan tersebut menjadi forum awal untuk merancang kerja sama strategis antara Undana dan pemerintah daerah, khususnya dalam memetakan persoalan pembangunan yang dihadapi masyarakat.
Melalui program “Undana Berdampak”, tim akademisi Undana akan melakukan survei di sejumlah wilayah untuk mengidentifikasi berbagai persoalan yang menjadi tantangan pembangunan daerah. Hasil survei tersebut selanjutnya akan menjadi dasar pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan para dosen di daerah mitra.
Dalam program tersebut, disiapkan dana sekitar Rp1 miliar yang akan dialokasikan untuk mendukung kegiatan pengabdian masyarakat oleh dosen Undana. Program ini juga dirancang dengan mekanisme evaluasi berkala guna memastikan kegiatan yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi pemerintah daerah dan masyarakat.
Hasil evaluasi tersebut nantinya akan dimasukkan dalam sebuah sistem informasi atau aplikasi khusus yang memungkinkan pemantauan program secara berkelanjutan. Mengingat program ini baru pertama kali dilaksanakan, evaluasi rutin dinilai penting untuk memastikan efektivitas dan keberlanjutannya.
Bupati Paulus menyambut baik inisiatif tersebut. Menurut dia, kerja sama antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah seharusnya telah lama dilakukan secara sistematis karena mampu membantu pemerintah daerah dalam mengidentifikasi sekaligus mencari solusi atas berbagai persoalan pembangunan.
“Konsep kolaborasi seperti ini sangat penting dan perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan pendekatan multidimensi,” ujar Bupati Paulus.
Ia menambahkan, Sumba Tengah masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan karena termasuk wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Tingkat kemiskinan yang relatif tinggi, indeks pembangunan manusia yang masih rendah, serta pertumbuhan ekonomi desa yang belum optimal menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara bertahap.
Program Rumah Mandiri
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah daerah telah menjalankan sejumlah program strategis. Salah satu yang menjadi perhatian adalah Program Rumah Mandiri, yang kini bahkan menjadi model penanganan kemiskinan di Nusa Tenggara Timur.
Program ini menargetkan pemenuhan tujuh dari 14 indikator kemiskinan, yaitu rumah yang memiliki atap seng, dinding tembok, lantai semen, sanitasi atau MCK, akses air bersih, listrik, serta luas ruangan minimal 9 meter persegi.
Setiap unit rumah dibangun dengan anggaran sekitar Rp70 juta menggunakan sistem gotong royong. Program ini diprioritaskan bagi kelompok rentan seperti janda, duda, serta anak yatim piatu.
Tak hanya menyediakan hunian layak, pemerintah daerah juga menyiapkan beasiswa abadi bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia menuju visi Indonesia Emas 2045.
Pemberdayaan Ekonomi Melalui PK POM Model
Selain program perumahan, pemerintah daerah juga menjalankan PK POM Model, yaitu program pemberdayaan ekonomi masyarakat yang dirancang untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga miskin.
Melalui program ini, setiap kepala keluarga penerima manfaat memperoleh bantuan berupa tiga ekor kambing, 11 ekor bebek, 300 ekor ikan lele, serta kebun hortikultura seluas dua are.
Program tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan pendapatan, tetapi juga menyasar berbagai aspek kesejahteraan keluarga. Di antaranya pemenuhan kebutuhan protein dan gizi, dukungan pendidikan berupa buku, sepatu, dan seragam sekolah bagi anak dari keluarga tidak mampu, serta layanan kesehatan gratis bagi balita stunting, anak dengan gizi buruk, dan ibu hamil dengan kekurangan energi kronis.
Selain itu, program ini juga mencakup pelatihan kerja, pemberian beasiswa, serta penguatan kesejahteraan keluarga secara menyeluruh.
Saat ini program tersebut telah diterapkan kepada 30 keluarga penerima manfaat yang berada pada kategori desil 1 dengan pendapatan sekitar Rp300 ribu per bulan. Program mulai berjalan selama tiga bulan pada 2025 dan dibiayai melalui dana bela rasa atau non-APBD yang bersumber dari kontribusi Bupati, Wakil Bupati, staf ahli, para asisten, pimpinan organisasi perangkat daerah, hingga aparatur sipil negara di lingkungan pemerintah daerah.
Dengan kombinasi berbagai program tersebut, pemerintah daerah menargetkan dapat menuntaskan seluruh 14 indikator kemiskinan di Sumba Tengah secara bertahap.
Sejuta Pohon Kopi Robusta
Upaya lain yang tengah dikembangkan adalah program PK POM Plus melalui gerakan “Menanam Sejuta Harapan Kopi Robusta”. Program ini bertujuan mengubah pola pikir petani agar tidak hanya bergantung pada sektor pangan seperti padi, tetapi juga mengembangkan komoditas perkebunan bernilai ekonomi tinggi.
Menurut Bupati Paulus, kopi robusta dipilih karena merupakan tanaman yang relatif tahan dan mampu dipanen berulang kali setelah sekali tanam.
“Ini berpotensi menjadi pengungkit ekonomi masyarakat dalam jangka panjang,” katanya.
Saat ini pemerintah daerah tengah menyiapkan sekitar 200 ribu bibit kopi robusta beserta jumlah yang sama untuk tanaman pelindung. Penanaman dijadwalkan dimulai pada November tahun ini, dengan target dalam tiga tahun ke depan dapat tertanam satu juta pohon kopi robusta di berbagai wilayah Sumba Tengah.
Sebelumnya, pemerintah daerah juga telah menyalurkan 50 ribu bibit kopi robusta kepada kelompok tani dan gabungan kelompok tani di sejumlah desa.
Melalui kerja sama dengan Undana, pemerintah daerah berharap berbagai program pembangunan yang sedang berjalan dapat diperkuat dengan dukungan riset, pendampingan, dan inovasi dari kalangan akademisi.
Bupati Paulus menegaskan bahwa keberhasilan kerja sama tersebut harus dilandasi komitmen bersama untuk membangun masyarakat.
“Kerja sama ini harus didasari niat baik, ketulusan, dan keikhlasan agar benar-benar memberi dampak nyata bagi masyarakat serta menurunkan angka kemiskinan di Sumba Tengah,” ujarnya.*/prokopimSTeng/llt













Komentar