G-RDVF5GTVXM

Tag: Johan Oematan

  • Saat Kedukaan Sarlince Kolianang Menemukan Jalan Pulang: Program Gubernur Melki Menjaga 100.000 Pekerja Rentan NTT

    Saat Kedukaan Sarlince Kolianang Menemukan Jalan Pulang: Program Gubernur Melki Menjaga 100.000 Pekerja Rentan NTT

    Duka yang menyelimuti keluarga almarhum Soleman Haning di Kabupaten Kupang perlahan berubah menjadi harapan ketika santunan jaminan sosial dari BPJS Ketenagakerjaan hadir menopang kehidupan mereka. Program perlindungan bagi 100.000 pekerja rentan yang digagas Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena, tak hanya menghadirkan bantuan materi, tetapi juga memastikan keberlanjutan masa depan anak-anak yang ditinggalkan. “Kami sangat berterima kasih. Program ini benar-benar membantu kami sebagai keluarga yang ditinggalkan,” ujar Sarlince Kolianang, istri almarhum, dengan suara bergetar.

    KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Di sebuah rumah sederhana di Desa Tanah Merah, Kabupaten Kupang, duka yang semula menyelimuti keluarga almarhum Soleman Haning perlahan berganti dengan harapan. Kepergian Soleman akibat kecelakaan saat mencari hasil dagang berupa udang dan kepiting di perairan Sulamu meninggalkan beban berat bagi istrinya, Sarlince Kolianang, yang kini harus menghidupi tujuh anak. Namun, di tengah situasi itu, hadir sebuah intervensi negara yang mengubah arah cerita keluarga ini.

    Beberapa minggu setelah kepergian sang suami, Sarlince menemukan kartu kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan milik almarhum. Penemuan itu menjadi titik awal terbukanya akses terhadap perlindungan sosial yang sebelumnya tidak pernah mereka ketahui. Bersama aparat desa, ia mendatangi kantor BPJS Ketenagakerjaan untuk memastikan status tersebut. Dari situlah terungkap bahwa Soleman telah terdaftar sebagai peserta aktif dalam program perlindungan pekerja rentan yang iurannya dibayarkan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

    Pada 12 Februari 2026, keluarga ini menerima santunan dengan nilai total mencapai Rp217 juta. Rinciannya, Rp70 juta berasal dari jaminan kecelakaan kerja, sementara Rp147 juta dialokasikan untuk beasiswa pendidikan dua anak hingga jenjang perguruan tinggi. Bagi Sarlince, bantuan tersebut bukan sekadar angka, melainkan penopang utama keberlangsungan hidup keluarganya.

    “Ini sangat membantu kami. Anak-anak bisa tetap sekolah sampai kuliah,” ujarnya lirih di Rumah Jabatan Gubernur NTT, Sabtu (28/3/2026).

    Program ini merupakan bagian dari kebijakan perlindungan pekerja rentan yang diinisiasi Pemerintah Provinsi NTT di bawah kepemimpinan Melki Laka Lena. Sebanyak 100.000 pekerja informal—mulai dari pedagang, nelayan, tukang ojek, hingga petani didaftarkan sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan dengan iuran sebesar Rp16.800 per orang per bulan, yang seluruhnya ditanggung melalui APBD NTT.

    Dalam konteks daerah dengan tingkat kemiskinan yang masih tinggi, kebijakan ini menjadi bentuk intervensi langsung yang menyasar kelompok paling rentan terhadap guncangan ekonomi. Risiko kecelakaan kerja atau kematian yang sebelumnya dapat menjatuhkan keluarga ke jurang kemiskinan ekstrem, kini memiliki jaring pengaman.

    Kasus yang dialami keluarga Soleman memperlihatkan bagaimana perlindungan sosial bekerja secara konkret. Santunan tunai memang membantu memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi dampak yang lebih mendalam justru terletak pada jaminan pendidikan anak. Beasiswa hingga jenjang sarjana membuka peluang mobilitas sosial yang sebelumnya nyaris tertutup.

    Di sisi lain, peristiwa ini juga mengungkap persoalan mendasar: rendahnya literasi masyarakat terhadap program perlindungan sosial. Sarlince mengakui, keluarganya sama sekali tidak mengetahui bahwa Soleman telah terdaftar sebagai peserta. Bahkan, mereka baru memahami manfaat program tersebut setelah proses klaim berjalan.

    Akses dan Literasi: Celah yang Mulai Terlihat

    Pengalaman keluarga ini sekaligus membuka gambaran tentang bagaimana masyarakat dapat mengakses program tersebut. Untuk memastikan apakah seseorang terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, warga sebenarnya dapat melakukan beberapa langkah sederhana: memeriksa kartu kepesertaan, menanyakan kepada perangkat desa atau pemberi kerja, atau datang langsung ke kantor BPJS Ketenagakerjaan terdekat dengan membawa identitas diri seperti KTP dan Kartu Keluarga.

    Selain itu, pengecekan juga dapat dilakukan secara mandiri melalui layanan digital, seperti aplikasi resmi BPJS Ketenagakerjaan atau kanal layanan pelanggan. Namun, di wilayah pedesaan seperti Sulamu, akses informasi digital masih menjadi tantangan tersendiri.

    Sementara itu, proses klaim santunan, seperti yang dijalani keluarga Soleman, umumnya dilakukan dengan melengkapi sejumlah dokumen penting. Di antaranya adalah kartu kepesertaan, identitas ahli waris, surat keterangan kematian, serta dokumen pendukung terkait kejadian kecelakaan kerja. Setelah dokumen dinyatakan lengkap dan valid, BPJS Ketenagakerjaan akan memproses pencairan manfaat sesuai ketentuan yang berlaku.

    Dalam praktiknya, pendampingan dari aparat desa atau petugas setempat menjadi faktor kunci, terutama bagi keluarga yang belum familiar dengan prosedur administrasi. Proses inilah yang akhirnya membantu Sarlince hingga santunan dapat diterima.

    Dampak Nyata dan Tantangan ke Depan

    Belajar dari pengalaman tersebut, Sarlince kini aktif bersama pemerintah desa menyosialisasikan program itu kepada warga di Kecamatan Sulamu. Ia menyampaikan bahwa meski iuran terlihat kecil dan bahkan dibayarkan pemerintah, manfaat yang diterima bisa sangat besar ketika risiko terjadi.

    Upaya ini menjadi penting, mengingat keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh desain kebijakan, tetapi juga oleh tingkat partisipasi dan pemahaman masyarakat. Tanpa sosialisasi yang memadai, perlindungan yang tersedia berpotensi tidak dimanfaatkan secara optimal.

    Di tengah berbagai keterbatasan, program perlindungan pekerja rentan di NTT memberikan gambaran tentang bagaimana kebijakan publik dapat menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung. Dari sebuah keluarga yang kehilangan tulang punggung, lahir cerita tentang bagaimana negara hadir, bukan hanya untuk memberi santunan, tetapi juga menjaga masa depan generasi berikutnya.*/jendralpurek/llt

  • Johan Oematan Berbagi Ilmu tentang Complaint Handling untuk Humas Rumah Sakit di NTT

    Johan Oematan Berbagi Ilmu tentang Complaint Handling untuk Humas Rumah Sakit di NTT

    KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Politisi Golkar NTT, Johan Julius Oematan berbagi pengetahuan tentang penanganan komplain atau complaint handling dengan petugas humas seluruh Rumah Sakit di NTT.

    Kepuasan pasien adalah salah satu indikator mutu pelayanan di rumah sakit. Meski rumah sakit berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan yang terbaik sesuai standar, kenyataannya rumah sakit tetap tak luput dari komplain yang disampaikan pengguna jasa. Untuk itu, penanganan komplain (complaint handling) menjadi sangat penting agar rumah sakit bisa berkembang dengan baik.

    Johan Julius Oematan mengatakan itu ketika membawa materi pada seminar mengenai peran humas dalam penanganan komplain di rumah sakit. Seminar ini digelar di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Ben Mboi, Kupang, Sabtu (27/7/2024), usai pelantikan badan pengurus Perhimpunan Humas Rumah Sakit Indonesia (Perhumasri) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Anggota Fraksi Golkar DPRD Provinsi NTT yang terpilih dua periode dari Dapil NTT 2 yang meliputi Kabupaten Kupang, Rote Ndao dan Sabu Raiju aitu mengatakan, komplain dari pasien merupakan hal yang manusiawi. Sebab ketika sakit, orang berada dalam suasana yang serba tidak nyaman. Dengan demikian, rumah sakit harus menyiapkan personil yang bisa menghadapi komplain.

    “Rumah sakit sudah beri pelayanan sesuai standar pun tetap terasa kurang oleh pasien. Jadi rumah sakit harus punya personil yang bisa hadapi komplain. Personil seperti ini tentu banyak syaratnya, terutama harus sabar dan tenang,” ujarnya di hadapan puluhan staf humas rumah sakit se-NTT.

    Menurut Johan, penanganan komplain adalah kunci agar rumah sakit terus berkembang di tengah menjamurnya fasilitas kesehatan. Sebab dengan penanganan komplain yang baik, pengguna jasa bisa loyal dan tidak beralih ke faskes kompetitor.

    “Pasien kadang komplain karena kurang puas dengan pelayanan, dan lain sebagainya. Selain menangani komplain, kita (rumah sakit) harus tetap bangun relasi baik ketika mereka selesai dapat perawatan. Telepon dan tanyakan keadaan mereka. Ini untuk bangun loyalitas karena kita butuh orang untuk ceritera hal baik tentang rumah sakit kita. Kita mau pasien yang sudah sembuh menjadi tim marketing kita,” jelas mantan Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bekasi itu.

    Johan menjelaskan, yang bertanggungjawab terhadap komplain adalah semua pihak yang mengelola rumah sakit mulai dari direktur sampai cleaning service.

    “Jangan berpikir kalau komplain ini hanya jadi tanggungjawab direktur, para dokter, dan humas. Jadi semua harus bertanggungjawab termasuk cleaning service, tukang kebun, dan tukang parkir,” terangnya.

    Menurut Johan, salah satu unit di rumah sakit yang menjadi ujung tombak dalam penanganan komplain adalah humas. Sebab semua komplain pasti bermuara ke humas. Selanjutnya humas mendistribusikan keluhan yang masuk ke unit-unit tertentu, bahkan sampai ke direktur untuk diselesaikan persoalannya.

    “Tapi tidak semua keluhan harus bawa ke direktur. Humas harus bisa menyelesaikan keluhan karena humas adalah terompetnya rumah sakit. Humas adalah jembatan antara rumah sakit dan masyarakat,” jelasnya.

    Johan berharap rumah sakit mempersiapkan humas dengan SDM yang baik dan mumpuni, sehingga ketika ada komplain, humas mampu menanganinya.

    “Meskipun bukan dokter, tapi humas harus tahu tentang medis. Humas harus tahu tentang hukum sehingga ketika ada komplain, mereka betul-betul siap menghadapinya,” kata anggota DPRD NTT yang kembali terpilih di periode 2024-2029 ini.

    Johan pada kesempatan itu juga membagikan kiat-kiat kepada staf humas rumah sakit dalam menangani keluhan pelanggan. Antara lain, keluhan pelanggan harus diterima dengan baik dan ditanggapi 1X24 jam; Tunjukan empati; Meminta maaf atas kejadian yang menimpa pasien; Menjadikan komplain sebagai cermin untuk perbaikan demi kemajuan di masa akan datang; Mengucapkan terima kasih kepada pelanggan yang komplain; Meningkatkan kualitas pelayanan; Memberikan ulasan yang positif jika masalah telah selesai dan bangun kembali relasi positif dengan pasien (service recovery); Pencatatan dan dokumentasi untuk dijadikan peringatan sehingga tidak terulang di waktu akan datang.

    Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Wilayah NTT, dr. Yudith Kota mengapresiasi pemaparan materi yang dibawakan Johan Oematan.

    Menurut dr. Yudith, dalam menerima komplain, tak jarang rumah sakit cenderung defense atau membela diri. Padahal komplain sebagaimana dijelaskan Johan Oematan, tidak selalu buruk. Sebaliknya, komplain adalah bentuk kepedulian pasien/pengguna jasa terhadap pelayanan rumah sakit.

    “Kita kalau ada komplain cenderung defense. Itu jeleknya di rumah sakit. Padahal seperti yang dikatakan pak Johan, kita perlu mendengar dan sampaikan terima kasih untuk masukannya. Kemudian kita telusuri apa persoalannya. Selain itu, kita jarang sekali menelepon kembali ke pasien setelah mereka pulang. Jadi ini yang perlu kita ingatkan ke staf,” ungkap Direktur RS Kartini itu.

    Ia berharap rumah sakit perlu menyediakan saluran pengaduan yang bisa terbaca dengan jelas. Dan seiring dengan kemajuan teknologi, saluran pengaduan bisa juga disediakan melalui website.*/TomyAq

  • Johan Oematan Politisi Golkar Berbagi Ilmu Kepemimpinan dengan Nakes di RSCB

    Johan Oematan Politisi Golkar Berbagi Ilmu Kepemimpinan dengan Nakes di RSCB

    UPANG,SELATANINDONESIA.COM – Johan Oematan anggota Fraksi Golkar DPRD Provinsi NTT untuk kedua kalinya berbagai ilmu kepemimpinan dengan manajemen dan tenaga Kesehatan (nakes) di RS St. Carolus Borromeus (RSCB) Kota Kupang. Beragam pengetahuan tentang kepemimpinan dan layanan kepada Masyarakat yang menggunakan fasilitas Kesehatan itu disampaikan dengan lugas oleh Johan Oematan.

    Direktris RSCB, dr. Ariyanti Yusnita mengaku kagum dengan paparan yang disampaikan Johan Oematan. “Ini kali kedua kami mengundang Pak Johan Oematan. Kami khususnya rekan-rekan karyawan ingin menimbah ilmu bagaimana sih memimpin yang benar, karena mereka inikan para kepala unit, kepala jaga, ketua komite, ketua tim dan lainnya butuh pengetahuan tentang skill leadership, karena banyak yang belum berpengalaman,” sebut dr. Ariyanti kepada SelatanIndonesia.com, Selasa (18/6/2024).

    Tidak hanya itu, dr. Ariyanti juga menyebut, Johan Oematan berbicara banyak soal service excellent dan kemampuan menangani keluhan. “Itu menjadi satu skill yang sangat penting di Rumah Sakit. Jadi kita bekali teman-teman dengan pengetahuan itu. Kami bersyukur, karena Pak Johan Oematan yang kami tahu sering membawakan materi – materi leadership, service excellent. Dan kami senang sekali dengan tawaran itu dan pak Johan bersedia. Bahkan pada waktu itu pak Johan tidak meminta bayaran sama sekali. Jadi benar-benar beliau memberikan secara free,” ujar dr. Ariyanti.

    Ia bertekad ingin menghadirkan RSCB yang bisa memberikan pelayanan prima baik kepada pasien pelanggan, keluarga pasien bahkan kepada rekan kerja. “Yang disampaikan Pak Johan Oematan tadi bahwa pelanggan kita bukan hanya pelanggan eksternal tapi juga pelanggan internal itu juga harus menerima service excellent kita,” ujarnya.

    Disebutkan dr. Ariyanti, pada sesi berikutnya pihaknya akan mengadakan pelatihan itu secara rutin dua bulan sekali. “Tujuan kita adalah melengkapi leader-leader di unit, komite tim, dan juga kepala jaga sebagai kaki dan tangan manajemen yang punya skil yang bagus di dalam memberikan pelayanan prima maupun dalam memimpin teman-temannya di unit,” sebutnya.

    Driektris RS St. Carolus Borromeus Kupang, dr. Ariyanti Yusnita

    Johan Oematan dalam paparanya dihadapan puluhan nakes dan manajemen RSCB menyebut, kepemimpinan adalah proses. Dan, kepemimpinan berkembang setiap hari bukan terjadi dalam satu hari. “Ukuran sejati dari kepemimpinan adalah pengaruh. Semain besar pengaruh seorang pemimpin maka semakin kuat kepemimpiannya,” sebut Johan Oematan.

    Politisi Golkar yang terpilih dua periode dari dapil NTT 2 yang meliputi Kabupaten Kupang, Rote Ndao dan sabu Raiju aini mengatakan, kepemimpinan adalah visi. Dan visi memberikan arah serta kepercayaan diri kepada para anggota tim. Ia juga menyebut pemimpin adalah penyalur harapan. “Kita butuh instrument kepemimpinan yaitu tetap konsisten, berkomunikasilah dengan jelas dan jaga kesopanan,” sebutnya.

    Ia juga membeberkan soal kompetensi kepemimpinan yaitu tetap meningkatkan diri, lanjutkan pekerjaan sampai tuntas dengan keunggulan, capailah hasil lebih dari yang diharapkan dan berikan sinpirasi kepada orang lain. “Pemimpin juga harus mengembangkan orang lain dengan menghargai anggota tim, menambahkan nilai bagi anggota tim, dan membuat diri mereka jauh lebih berharga,” sebutnya. ***Laurens Leba Tukan

  • Golkar Soroti TPP dan Tukin ASN Pemprov NTT yang Mandek

    Golkar Soroti TPP dan Tukin ASN Pemprov NTT yang Mandek

    KUPANG,SELATANINDONESIA.COMFraksi Partai Golkar DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur menyoroti mandeknya pemberian Tunjangan Perbaikan Penghasilan dan Tunjungan Kinerja kepada ASN Provinsi NTT.

    Padahal, kinerja Pemda NTT khususnya dalam memberikan pelayanan publik amat ditentukan oleh kinerja ASN lingkup Pemprov NTT. Kinerja para ASN pada galibnya ditentukan juga oleh tingkat kesejahtraannya.

    “Fraksi Partai Golkar mengamati, bahwa TPP justru turun dan tidak lancar pembayarannya di TA 2023 ini. Tentu hal ini menjadi kedala berat bagi Saudara Penjabat Gubernur. Bagaimana ASN mau dituntut meningkatkan kinerja, sementara kesejahtraannya justru menurun. Oleh karena itu Saudara Penjabat Gubernur  perlu memberi perhatian lebih kepada realisasi TPP dan Tunjangan Kinerja ASN,” sebut juru bicara Fraksi Partai Golkar DPRD NTT Johan Oematan ketika menyampaikan Pandangan Umum Fraksi Golkar DPRD NTT terhadap Rancangan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi NTT dalam Sidang Paripurna DPRD NTT, Selasa (19/9/2023).

    Sidang paripurna itu dipimpin Wakil Ketua DPRD NTT Dr. Inche Sayuna dan dihadiri Penjabat Gubernur NTT Ayodhia G.L. Kalake serta Anggota DPRD NTT dan Pimpinan OPD Provinsi NTT.

    Johan Oematan menyebut, permasalahan yang dihadapi dalam bidang pendapatan daerah yang dicantumkan dalam buku Nota Keuangan, jika dicermati semuanya merupakan kendala manajemen dan keterbatasan Sumber Daya Manusia aparatur pemerintah daerah. “Karena itu saudara Penjabat Gubernur perlu menjelaskan tentang kebijakan yang akan ditempuh dalam membenahi aspek manajemen birokrasi dan kinerja ASN termasuk memenuhi hak-hak keuangan ASN,” sebut Fraksi Golkar.

    Selain itu, Fraksi Golkar yang dipimpin Ketua Hugo Rehi Kalembu dan Sekretaris Mohammad Ansor mengingatkan soal penggunaan dana pinjaman PEN sebesar kurang lebih Rp.1 trilyun. “Fraksi Partai Golkar ingin Penjabat Gubernur memberikan penjelasan yang berkaitan kualitas out put yang dihasilkan berupa ruas jalan hotmix, ruas jalan GO, ruas jalan GO plus,  pembangunan SPAM dan embung-embung yang tersebar di Kabupaten/Kota se NTT. Sejauh hasil pengamatan Fraksi Partai Golkar, bahwa  kualitas ruas jalan konstruksi GO dan GO plus sangat memprihatinkan,  juga kualitas SPAM dan embung-embung,” sebut Fraksi Golkar.

    Masih dalam kaitan dengan pemanfaatan dana pinjaman PEN yang tak sesuai dengan akta perjanjian kreditnya sebesar Rp 76 milyar yang sudah menjadi temuan BPK, Fraksi Partai Golkar minta penjelasan.

    Fraksi Golkar juga menyebut, capaian realisasi pendapatan daerah khususnya PAD sebesar 43,43% keadaan 8 September 2023 merupakan capaian terendah dalam periode ini. Sementara rancangan perubahan PAD menurun sebesar 21% dari anggaran murni.

    “Persoalanya sisa waktu efektif hanya tiga bulan lebih, apakah bisa mencapai target Rp1,699 triliun lebih, mengingat dalam 8 bulan anggaran murni, realisasinya hanya mencapai Rp 929 milyard lebih. Fraksi Partai Golkar meminta penjelasan tentang kiat, upaya terukur dan tekad pencapaiannya,” ujar Johan Oematan.

    Ia menambahkan, realisasi Belanja Modal pada 8 September 2023 hanya mencapai 27,31%, merupakan capaian yang sangat rendah. “Mengingat bahwa belanja modal sangat penting untuk peningkatan aset daerah yang menjadi indikator kemampuan otonomi daerah maka perlu menempatkan pos belanja daerah dengan proporsi target dan realisasi yang memadai karena pada gilirannya aset daerah dapat dikelola menjadi sumber pendapatan daerah dan oleh pemerintah pusat menjadi dasar penilaian untuk  alokasi dana pusat kepada daerah,” jelas jubir Fraksi Golkar, Johan Oematan.***Laurens Leba Tukan

  • Politisi Golkar Johan Oematan Beri Pelatihan Kepemimpinan Bagi Guru PAUD

    Politisi Golkar Johan Oematan Beri Pelatihan Kepemimpinan Bagi Guru PAUD

    KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Anggota Fraksi Partai Golkar DPRD NTT, Johan Jhon Oematan memberikan materi tentang Pelatihan Kepemimpinan kepada Kepala Lembaga PAUD di Kabupaten Kupang. Acara tersebut diselenggarakan di Aula Kantor DPD RI Perwakilan NTT, Selasa pekan lalu.

    John Oematan memberikan apresiasi kepada para Kepala Lembaga PAUD. Pasalnya, dengan penghasilan yang minim, tidak menjamin kesejahteran, mereka rela berkorban untuk mengabdi dalam mencerdaskan anak-anak.

    “Kami sebagai anggota DPRD NTT menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya buat guru-guru PAUD. Karena mereka betul-betul lebih banyak bobotnya melayani sehingga kita semua harus peduli terhadap kesulitan mereka. Dan apa yang bisa kita bantu maka harus dilakukan karena pendidikan dasar itu berjalan dari waktu ke waktu dan kualitasnya perlu ditingkatkan lagi,” sebut Johan Oematan, Anggota DPRD NTT dari Dapil NTT II yang meliputi Kabupaten Kupangm Rote Ndao dan Sabu Raijua.

    Dia mengatakan, pada prinsipnya PAUD merupakan pendidikan dasar dan mendasar yang akan berpengaruh terhadap masa depan bangsa ini. Karena anak-anak usia dini adalah masa depan bangsa.

    “Mereka adalah pemimpin masa depan bangsa sehingga kita harus tanamkan sekarang tentang prestasi dan bagaimana pendidikan sehingga pada saatnya nanti mereka menjadi dewasa dan siap menjadi pemimpin yang bisa memajukan bangsa ini,” katanya dilansir dari SuaraNTT.com.

    “Kalau guru-guru PAUD bobotnya lebih besar adalah pelayanan. Karena mereka tidak bisa mendapatkan penghasilan seperti dosen maupun guru-guru baik SD, SMP dan SMA/SMK. Kita harus berterima kasih karena mereka terus dengan pendapatan pas-pas masih mau berjuang untuk kemajuan bangsa ini dan masih peduli dengan pendidikan,” katanya menambahkan.

    Doly Beis, guru pada PAUD Anugerah Siuf, Amarasi Timur mengatakan, di daerahnya masih kekurangan dana dan tenaga pendidik sehingga berkoordinasi dengan kepala desa menggunakan sebagian dana desa untuk membiayai honor dua orang guru.

    Namun dana yang mereka diperoleh tidak menjamin untuk membiayai kebutuhan sehari-hari setiap bulannya. Dia meminta agar anggota DPRD untuk menyampaikan aspirasi ini. “Kami sudah berjuang dan rela berkorban dalam melayani anak-anak. Yang kami minta tolong pemerintah perhatikan kami guru-guru PAUD. Bisakah perjuangkan kesejahteraan kami. Bagi kami yang sudah mengabdi lima tahun ke atas tolong perjuangakan nasib kami. Karena kami sudah berbuat untuk anak-anak usia dini,” katanya.

    Dikatakan, kesuksesan bangsa ini selama 10 tahun terakhir karena jasa para guru PAUD. Dimana mereka menjadi fondasi bagi dunia pendidikan sehingga jika fondasinya tidak kuat maka semuanya menjadi sia-sia.

    Lebih lanjut kata dia, anak-anak usia dini menjadi harapan dan masa depan bangsa ini. “Dan itu menjadi harapan dan impian kami sehingga tolong perhatikan nasib kami,” katanya.*/)HT

    Editor: Laurens Leba Tukan

  • Vaksinasi di NTT Baru 50 Persen, Yellow Clinic Golkar Desak Dinkes Galang Dukungan Semua Pihak

    Vaksinasi di NTT Baru 50 Persen, Yellow Clinic Golkar Desak Dinkes Galang Dukungan Semua Pihak

    KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, sejak Senin (22/11/2021) silam secara resmi membebaskan kewajiban tes PCR dan juga Antigen bagi para pelaku perjalanan dalam wilayah provinsi NTT. Padahal, jangkauan vaksinasi di NTT masih jauh dari standar minimum kekebalan komunitas.

    Dilansir dari Kompas.id, dari target 3.842.439 warga NTT yang harus divaksinasi, ternyata baru 1.937.248 orang atau 50,56 % yang sudah menerima dosis pertama. Bahkan, jauh lebih rendah lagi untuk dosis kedua yang baru menjangkau 972.526 orang atau 25,64 %. Capaian itu masih sangat jauh dari standar kekebalan komunitas dengan target minimum 80 % vaksinasi dosis kedua.

    Koordinator Yellow Clinic Golkar NTT, Johan Oematan mendesak Dinas Kesehatan Provinsi NTT agar menggalangan dukungan berbagai pihak untuk bersama-sama mempercepat vaksinasi bagi masyarakat. “Diharapkan Dinkes terus menggenjot tingkatan prosentase vaksinasi dan libatkan semua pihak agar lebih banyak berpartisipasi dalam vaksinasi,” sebut Johan Oematan kepada SelatanIndonesia.com, Sabtu (27/11/2021).

    Anggota Komisi II DPRD Provinsi NTT ini mengatakan, daerah lain sudah lebih tinggi prosentase vaksinasi sehingga diharapkan agar NTT lebih cepat dan lebih gencar lagi melakukan vaksinasi. “Jangan kerja sendiri, libatkan paritisipasi berbagai pihak selain Golkar dan beberapa partai lain yang selama ini sudah gencar. Kami di Golkar sudah lakukan vaksinasi pertama 30 ribu dosisi, dan saat ini sedang berjalan 150 ribu dosis vaksin,” katanya.

    Johan Oematan menambahkan, dengan meningkatkan prosentase vaksinasi untuk mencapai minimal 80 % warga NTT tervaksin maka akan selaras dengan kebijakan Gubernur NTT membebaskan kewajiban tes PCR dan juga Antigen bagi para pelaku perjalanan dalam wilayah provinsi NTT. “Kebijakan Pak Gubernur itu harus didukung dengan percepatan vaksinasi sehingga ekonomi masyarakat bisa beranjak. Maka perlu kolaborasi degan semua elemen termasuk TNI/Polri, Kejaksaan, LSM dan lainnya,” ujar Johan Oematan.***Laurens Leba Tukan