G-RDVF5GTVXM

Tag: Dominikus Alpawan Rangga Kaka

  • 45 Helm dan Body Protector untuk Joki Cilik Sumba dari Ibu Triwatty Marciano, Umbu Rudi Kabunang Dipercaykan Kelola Pacuan Kuda Tradisional Menuju PON 2028

    45 Helm dan Body Protector untuk Joki Cilik Sumba dari Ibu Triwatty Marciano, Umbu Rudi Kabunang Dipercaykan Kelola Pacuan Kuda Tradisional Menuju PON 2028

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM — Di tengah sorak ribuan penonton yang memadati Arena Gelora Pada Eweta, Waikabubak, Kamis (16/7/2026), sebuah momen penting bagi masa depan pacuan kuda Indonesia terjadi. Bukan ketika seekor kuda melintasi garis finis, melainkan saat 45 helm dan 45 body protector diserahkan kepada para joki cilik Sumba.

    Bantuan perlengkapan keselamatan dari Ketua Umum Federasi Nasional Pordasi Berkuda Memanah Triwatty Marciano itu menjadi simbol dimulainya babak baru pacuan kuda tradisional tanpa pelana di Pulau Sumba. Tradisi yang telah diwariskan turun-temurun kini tidak lagi hanya dipandang sebagai kearifan lokal, tetapi mulai memasuki panggung olahraga nasional setelah dipastikan menjadi salah satu nomor yang dipertandingkan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028 di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.

    Penyerahan perlengkapan keselamatan itu turut disaksikan Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman, Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena, Wakil Ketua Umum VI KONI Pusat Josef Nae Soi, Anggota DPR RI sekaligus Ketua Pengprov Federasi Nasional Pordasi Pacu NTT Umbu Rudi Kabunang, Ketua Harian PP Federasi Nasional Pordasi Pacu Eddy Wijaya, serta pemerintah daerah.

    Bagi Ibu Triwatty Marciano, momentum tersebut sekaligus menjadi pemenuhan janji yang pernah ia sampaikan kepada masyarakat Sumba beberapa tahun silam.

    “Saya pernah berjanji bahwa pacuan kuda tradisional tanpa pelana di Sumba harus terus kita angkat. Hari ini, perjuangan itu mulai terwujud. Pacuan tradisional sudah mendapat tempat sebagai cabang olahraga PON, dan kami ingin memastikan anak-anak yang menjadi joki cilik juga mendapatkan perlindungan yang layak,” ujarnya.

    Menurut Ibu Triwatty, keselamatan para joki menjadi perhatian utama di tengah semakin besarnya perhatian nasional terhadap pacuan tradisional Sumba. Para joki cilik yang selama ini tumbuh dari tradisi masyarakat diyakini merupakan bibit atlet yang kelak mampu bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.

    Ia pun menitipkan kelanjutan pengembangan pacuan kuda tradisional kepada Ketua Pengprov Federasi Nasional Pordasi Pacu NTT Umbu Rudi Kabunang agar cita-cita menjadikan Sumba sebagai pusat pacuan kuda nasional dapat diwujudkan.

    Umbu Rudi menyebut pengakuan terhadap pacuan tradisional sebagai cabang olahraga PON merupakan kebanggaan terbesar masyarakat Sumba. Selama berabad-abad, kuda bukan sekadar alat transportasi ataupun simbol budaya, melainkan telah menjadi bagian dari identitas masyarakat pulau itu.

    “Hari ini menjadi momentum yang sangat bersejarah bagi seluruh masyarakat Sumba. Kuda Sumba akhirnya memperoleh pengakuan sebagai bagian dari olahraga prestasi nasional,” katanya.

    Ia juga mengapresiasi bantuan perlengkapan keselamatan bagi para joki cilik. Menurutnya, pembinaan atlet tidak hanya berbicara mengenai prestasi, tetapi juga mengenai perlindungan terhadap anak-anak yang sejak dini menekuni olahraga tersebut.

    Momentum itu sekaligus mempertegas posisi Sumba sebagai salah satu pusat pengembangan olahraga berkuda nasional. Selain ditetapkan menjadi lokasi penyelenggaraan cabang olahraga berkuda pacu pada PON XXII Tahun 2028, daerah ini juga diproyeksikan menjadi tuan rumah berbagai agenda nasional, mulai dari Kejuaraan Nasional hingga babak kualifikasi PON.

    Bupati Sumba Barat Yohanis Dade menyebut perhatian pemerintah pusat dan pengurus olahraga nasional sebagai berkah bagi masyarakat Sumba Barat. Ia menilai keputusan memasukkan pacuan tradisional tanpa pelana ke dalam PON merupakan sejarah baru yang akan mendorong pertumbuhan olahraga sekaligus ekonomi daerah.

    Pemerintah Kabupaten Sumba Barat, kata dia, siap mendukung penyelenggaraan Kejurnas, Pra-PON, hingga PON 2028 melalui penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan.

    Sementara itu, Ketua Harian PP Federasi Nasional Pordasi Pacu Eddy Wijaya menegaskan bahwa tradisi tidak akan dihilangkan ketika pacuan kuda Sumba memasuki sistem olahraga nasional. Sebaliknya, regulasi nasional akan disandingkan dengan nilai-nilai lokal agar pertandingan berlangsung lebih aman tanpa menghilangkan kekhasan budaya Sumba.

    “Yang akan kita bangun adalah standar keselamatan. Tradisi tetap dipertahankan, tetapi perlindungan terhadap atlet, terutama joki cilik, harus menjadi prioritas,” ujarnya.

    Pacuan Kuda Bupati Cup Sumba Barat tahun ini pun menjadi lebih dari sekadar kompetisi tahunan. Arena Gelora Pada Eweta berubah menjadi panggung awal perjalanan pacuan tradisional Sumba menuju PON XXII 2028. Di sana, tradisi, prestasi, dan keselamatan bertemu dalam satu lintasan yang sama.*/laurens leba tukan

  • Waketum KONI Pusat Josef Nae Soi Menyaksikan Mimpi yang Diperjuangkannya: Sumba Resmi Jadi Arena Pacuan Kuda Tradisional PON 2028

    Waketum KONI Pusat Josef Nae Soi Menyaksikan Mimpi yang Diperjuangkannya: Sumba Resmi Jadi Arena Pacuan Kuda Tradisional PON 2028

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM — Di tengah gemuruh derap kuda dan sorak ribuan penonton yang memenuhi Arena Gelora Pada Eweta, Waikabubak, Kamis (16/7/2026), senyum Josef A. Nae Soi tak pernah lepas. Wakil Ketua Umum VI KONI Pusat itu bukan sekadar menyaksikan semifinal Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup 2026. Ia sedang menyaksikan sebuah mimpi yang diperjuangkannya selama bertahun-tahun akhirnya menjadi kenyataan: Nusa Tenggara Timur resmi menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028 bersama Nusa Tenggara Barat, dengan Sumba dipercaya menggelar cabang olahraga pacuan kuda tradisional.

    Bagi Josef Nae Soi, mantan Wakil Gubernur NTT sekaligus mantan Ketua Umum KONI NTT, keputusan itu bukan datang begitu saja. Lima tahun silam, ketika banyak pihak masih meragukan kemampuan NTT menjadi tuan rumah PON, ia termasuk figur yang paling gigih memperjuangkan agar provinsi kepulauan itu memperoleh kepercayaan nasional.

    “Hari ini yang paling bahagia adalah saya karena lima tahun yang lalu saya berusaha supaya NTT menjadi tuan rumah pelaksanaan PON XXII Tahun 2028 dan hari ini sudah dinyatakan menjadi tuan rumah. Terima kasih kepada seluruh masyarakat NTT dan masyarakat Indonesia yang telah mempercayakan NTT dan NTB menjadi tuan rumah PON,” kata Josef.

    Menurutnya, keraguan yang dulu mengiringi perjuangan tersebut kini telah terjawab melalui berbagai event olahraga nasional yang mampu diselenggarakan di NTT.

    “Dulu banyak yang meragukan NTT menjadi tuan rumah PON. Tetapi hari ini kita menunjukkan kepada Indonesia bahkan dunia bahwa Sumba Barat dan NTT mampu melaksanakan kejuaraan nasional. Kalau ada kejuaraan internasional pun saya yakin bisa dilaksanakan di sini,” ujarnya.

    Josef kemudian mengajak seluruh masyarakat NTT menjadikan PON 2028 sebagai momentum bersama untuk mempercepat pembangunan olahraga sekaligus meningkatkan daya saing daerah.

    “Mari kita sukseskan PON XXII Tahun 2028 dan bekerja keras membangun NTT agar sejajar dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia,” katanya.

    Momentum yang membuat kebahagiaan Josef semakin lengkap hadir beberapa saat kemudian. Di hadapan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, jajaran KONI Pusat, pemerintah daerah, dan ribuan penonton, Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman menetapkan Arena Gelora Pada Eweta sebagai lokasi penyelenggaraan cabang olahraga pacuan kuda tradisional pada PON XXII Tahun 2028. Keputusan itu disambut tepuk tangan panjang yang menggema di seluruh arena.

    Marciano mengaku keputusan tersebut lahir setelah menyaksikan langsung kualitas penyelenggaraan serta kuatnya tradisi pacuan kuda yang hidup di tengah masyarakat Sumba.

    “Setelah hari ini saya melihat langsung pacuan kuda ini, maka pada PON XXII Tahun 2028, pacuan kuda tradisional dilaksanakan di sini,” ujarnya.

    Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menilai keputusan tersebut menjadi tonggak sejarah baru bagi olahraga di Nusa Tenggara Timur. Menurutnya, pacuan kuda Sumba bukan hanya olahraga, melainkan identitas budaya yang telah diwariskan lintas generasi.

    “Kuda merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Sumba. Pacuan kuda bukan hanya menjadi ajang olahraga dan hiburan, tetapi juga ruang mempererat persaudaraan, menumbuhkan sportivitas, sekaligus melestarikan tradisi yang menjadi kebanggaan daerah,” kata Gubernur Melki.

    Ia optimistis semakin banyak kompetisi berkualitas akan memperkuat pembinaan atlet muda menuju PON 2028, sekaligus memberi dampak ekonomi melalui tumbuhnya sektor pariwisata dan UMKM.

    Turnamen Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup 2026 yang berlangsung pada 6–18 Juli itu memang bukan sekadar perlombaan. Sebanyak 16 kelas dipertandingkan dengan melibatkan ratusan kuda pacu dan joki dari berbagai kabupaten di NTT. Di sela perlombaan, KONI Pusat bersama Federasi Nasional Pordasi Pacu juga menyerahkan perlengkapan keselamatan berupa helm dan body protector kepada para joki cilik sebagai bagian dari penguatan budaya keselamatan dalam olahraga berkuda.

    Momentum bersejarah itu turut disaksikan Ketua Umum PP Pordasi Berkuda Memanah Triwatty Marciano, Anggota DPR RI yang juga Ketua FN Pordasi Pacu NTT Dr. Umbu Rudi Kabunang, Ketua Harian Pengurus Pusat Federasi Nasional Pordasi Pacu Eddy Wijaya, Bupati Sumba Barat Yohanis Dade, Wakil Bupati Sumba Barat yang juga Ketua KONI Sumba Barat, Thimotius Ragga, Wakil Bupati Sumba Barat Daya Dominikus Alpawan Rangga Kaka, jajaran Forkopimda, Ketua Pengkab Federasi Nasional Pordasi Pacu Sumba Barat Frangki Tarawatu Susanto serta ribuan masyarakat yang memenuhi Arena Gelora Pada Eweta.

    Kini, derap kuda di Gelora Pada Eweta tidak lagi hanya menjadi kebanggaan masyarakat Sumba. Arena yang selama puluhan tahun menjadi rumah tradisi pacuan kuda itu telah resmi memasuki panggung olahraga nasional. Di sana, seperti yang dikatakan Gubernur Melki, yang berpacu bukan hanya kuda-kuda terbaik Sumba, melainkan juga mimpi sebuah daerah untuk membuktikan diri di hadapan Indonesia.*/laurens leba tukan

  • Gubernur NTT: Selamat Pak Umbu Rudi Kabunang yang Membawa Pak Ketum KONI Pusat ke Sumba, Gelora Pada Eweta Jadi Arena PON

    Gubernur NTT: Selamat Pak Umbu Rudi Kabunang yang Membawa Pak Ketum KONI Pusat ke Sumba, Gelora Pada Eweta Jadi Arena PON

    WAIKABUBAK,SELATANINDONESIA.COM — Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) yang juga Ketua Umum KONI Provinsi NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena menyampaikan ucapan selamat kepada Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar sekaligus Ketua Pengprov Federasi Nasional Pordasi Pacu NTT, Dr. Umbu Rudi Kabunang, yang dinilainya berhasil menghadirkan Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman ke Pulau Sumba. Kehadiran pimpinan tertinggi KONI itu berujung pada keputusan penting, yakni penetapan Arena Gelora Pada Eweta di Kabupaten Sumba Barat sebagai lokasi penyelenggaraan cabang olahraga pacuan kuda tradisional pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Tahun 2028.

    Ucapan tersebut disampaikan Gubernur Melki saat menghadiri Semifinal Pacuan Kuda Bupati Sumba Barat Cup 2026 di Arena Gelora Pada Eweta, Kamis (16/7/2026). Di hadapan ribuan masyarakat yang memadati arena, Gubernur Melki menilai kehadiran Ketua Umum KONI Pusat di Sumba menjadi momentum bersejarah bagi perkembangan olahraga pacuan kuda di Nusa Tenggara Timur.

    “Selamat kepada Pak Umbu Rudi Kabunang yang telah berhasil menghadirkan Bapak Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI Purn. Marciano Norman dan Ibu Triwatty Norman ke Sumba, khususnya di Arena Gelora Pada Eweta. Ini menjadi momentum besar bagi olahraga dan masyarakat Nusa Tenggara Timur,” ujar Gubernur Melki.

    Riuh tepuk tangan ribuan penonton belum sepenuhnya reda ketika sebuah keputusan penting kemudian lahir di Arena Gelora Pada Eweta. Di tengah atmosfer semifinal Pacuan Kuda Bupati Cup Sumba Barat 2026, Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman menetapkan arena pacuan kebanggaan masyarakat Sumba itu sebagai lokasi penyelenggaraan cabang olahraga pacuan kuda tradisional pada PON XXII Tahun 2028.

    Keputusan tersebut langsung disambut sorak gembira masyarakat yang memadati tribun. Bagi dunia pacuan kuda Sumba, momentum itu bukan sekadar penunjukan arena pertandingan, melainkan pengakuan nasional terhadap tradisi yang telah hidup turun-temurun di pulau yang dikenal sebagai tanah Marapu dan rumah bagi kuda Sandelwood.

    Menurut Gubernur Melki, keberhasilan menghadirkan Ketua Umum KONI Pusat ke Sumba menjadi langkah strategis yang membuka jalan lahirnya keputusan bersejarah tersebut. Ia menilai penetapan Gelora Pada Eweta sebagai arena PON merupakan sejarah baru bagi NTT karena untuk pertama kalinya provinsi kepulauan itu dipercaya menjadi tuan rumah pelaksanaan salah satu cabang olahraga pada pesta olahraga nasional.

    “Keputusan ini menjadi kebanggaan masyarakat NTT. Ini akan kami laporkan dalam Rapat Kerja Daerah KONI Provinsi NTT besok malam karena telah diputuskan langsung oleh Ketua Umum KONI Pusat. Selamat kepada masyarakat Sumba Barat, para pencinta pacuan kuda, Bupati dan Wakil Bupati Sumba Barat, serta Wakil Bupati Sumba Barat Daya,” kata Gubernur Melki.

    Lebih jauh, Gubernur Melki menilai keputusan tersebut tidak hanya mengangkat prestise olahraga pacuan kuda, tetapi juga membuka peluang besar bagi pengembangan ekonomi daerah melalui sektor pariwisata, UMKM, hingga pembinaan atlet.

    Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman didampingi isterinya Ibu Triwatty Norman yang juga Ketua Umum PP Pordasi Berkuda Memanah dan Gubernur NTT yang juga Ketua Umum KONI Provinsi NTT Emanuel Melkiades Lakka Lena serta Wakil Ketua Umum KONI Pusat Josef Nae Soi, Anggota DPR RI Umbu Rudi Kabunang, Ketua Harian Pengurus Pusat Federasi Nasional Pordasi Pacu Eddy Wijaya, Bupati Sumba Barat Yohanis Dade, Wakil Bupati Sumba Barat Daya Dominikus Alpawan Rangga Kaka, jajaran Forkopimda, Ketua Pengkab Federasi Nasional Pordasi Pacu Sumba Barat Frangki Tarawatu Susanto saat pose bersama usai penyerahan helem dan body protecktor kepada para joki cilik usai pelaksanaan semi final Pacuan Kuda Bupati Cup Sumba Barat 2026 di Gelora Pada Eweta, Kabupaten Sumba Barat, Kamis (16/7/2026). foto ocep

    “Yang berpacu hari ini bukan hanya kuda. Yang berpacu adalah mimpi anak-anak Sumba,” ujar Gubernur Melki.

    Kalimat itu seolah merangkum suasana yang tersaji sepanjang perlombaan. Joki-joki cilik tanpa pelana memacu kuda mereka dengan keberanian dan keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di balik setiap lintasan, tersimpan tradisi, disiplin, dan identitas budaya yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Sumba.

    Sementara itu, Ketum KONI Pusat Letjen TNI Purn. Marciano Norman mengatakan keputusan menetapkan Gelora Pada Eweta sebagai arena PON diambil setelah menyaksikan langsung kualitas penyelenggaraan serta atmosfer pacuan kuda tradisional yang dinilai memiliki karakter kuat sebagai olahraga sekaligus warisan budaya.

    “Setelah hari ini saya melihat langsung pacuan kuda ini, maka pada PON XXII Tahun 2028, pacuan kuda tradisional dilaksanakan di sini,” ujar Marciano yang langsung disambut gemuruh tepuk tangan ribuan penonton.

    Penetapan tersebut sekaligus menjadi angin segar bagi pengembangan olahraga berkuda di Indonesia. Selama ini, pacuan kuda tradisional Sumba dikenal memiliki kekhasan tersendiri karena para joki berlomba tanpa pelana dengan teknik berkuda yang diwariskan secara turun-temurun dan masih lestari hingga kini.

    Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman bersama Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar yang juga Ketua Pengprov FN Pordasi Pacu NTT, Dr. Umbu Rudi Kabunang, dan Bupati Sumba Barat Yohanis Dade, Wakil usai pelaksanaan semi final Pacuan Kuda Bupati Cup Sumba Barat 2026 di Gelora Pada Eweta, Kabupaten Sumba Barat, Kamis (16/7/2026). foto: SelatanIndonesia.com/Laurens Leba Tukan

    Momentum bersejarah itu turut disaksikan Ketua Umum PP Pordasi Berkuda Memanah Triwatty Marciano, Wakil Ketua Umum KONI Pusat Josef Nae Soi, Anggota DPR RI Umbu Rudi Kabunang, Ketua Harian Pengurus Pusat Federasi Nasional Pordasi Pacu Eddy Wijaya, Bupati Sumba Barat Yohanis Dade, Wakil Bupati Sumba Barat Daya Dominikus Alpawan Rangga Kaka, jajaran Forkopimda, Ketua Pengkab Federasi Nasional Pordasi Pacu Sumba Barat Frangki Tarawatu Susanto serta ribuan masyarakat yang memenuhi Arena Gelora Pada Eweta.

    Bagi NTT, penunjukan Gelora Pada Eweta bukanlah garis akhir, melainkan awal dari pekerjaan besar menyiapkan infrastruktur, pembinaan atlet, serta tata kelola penyelenggaraan menuju PON XXII Tahun 2028. Namun, di atas semua itu, keputusan tersebut menjadi pengakuan bahwa pacuan kuda tradisional Sumba telah melampaui batas sebagai tradisi lokal. Kini, olahraga warisan leluhur itu resmi menempatkan diri di panggung olahraga nasional, membawa harapan agar budaya, prestasi, pariwisata, dan ekonomi masyarakat Nusa Tenggara Timur dapat melaju secepat derap kuda-kuda terbaik Sumba.*/laurens leba tukan

  • Dari Jagung Kodi Utara, Gubernur Melki Menata Jalan Swasembada Pangan NTT

    Dari Jagung Kodi Utara, Gubernur Melki Menata Jalan Swasembada Pangan NTT

    KODI,SELATANINDONESIA.COM — Hamparan jagung yang menguning di Kampung Ikit, Desa Hameli Ate, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten  Sumba Barat Daya (SBD) Jumat (3/7/2026), bukan sekadar menandai musim panen. Di balik bulir-bulir jagung varietas Lamuru yang dipetik petani, tersimpan harapan agar sektor pertanian Nusa Tenggara Timur tidak lagi hanya menjadi penyangga pangan, tetapi juga penggerak utama ekonomi pedesaan.

    Momentum panen raya yang dihadiri Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena memperlihatkan bahwa jagung semakin menempati posisi strategis dalam agenda pembangunan daerah. Kabupaten Sumba Barat Daya, salah satu sentra produksi jagung terbesar di provinsi itu, kini menjadi tumpuan dalam mendorong target swasembada pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

    Data Dinas Pertanian Provinsi NTT menunjukkan luas tanam jagung di Kabupaten Sumba Barat Daya pada Musim Tanam I Oktober 2025–Maret 2026 hingga Musim Tanam II April–Juni 2026 mencapai 36.393 hektare. Sekitar 8.260 hektare berada di Kecamatan Kodi Utara. Skala produksi tersebut menempatkan wilayah ini sebagai salah satu kantong jagung terpenting di NTT, terutama untuk pengembangan lahan kering.

    Bagi Gubernur Melki, angka-angka tersebut bukan sekadar statistik pertanian. Luas tanam yang terus berkembang menunjukkan besarnya kontribusi petani terhadap ketahanan pangan daerah dan nasional. Namun, peningkatan produksi, menurutnya, harus diikuti dengan perbaikan ekosistem usaha tani agar produktivitas tidak berhenti pada luas lahan semata.

    “Kalau tidak ada petani, kita mau makan dari mana?” ujar Gubernur Melki saat berdialog dengan petani. Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa keberhasilan program swasembada pangan pada akhirnya bertumpu pada kemampuan petani mempertahankan produktivitas lahannya.

    Di lapangan, persoalan yang dihadapi petani masih relatif klasik. Ketersediaan pupuk bersubsidi belum memenuhi kebutuhan, akses terhadap benih unggul masih terbatas, sementara fasilitas pascapanen seperti mesin pengering dan mesin perontok belum memadai. Akibatnya, biaya produksi tetap tinggi dan kualitas hasil panen kerap menurun ketika musim hujan datang bersamaan dengan masa panen.

    Karena itu, pemerintah provinsi memilih mendorong perbaikan dari hulu hingga hilir. Koordinasi dengan Kementerian Pertanian, Komisi IV DPR RI, dan PT Pupuk Indonesia akan dilakukan untuk memperjuangkan tambahan kuota pupuk. Di sisi lain, pembangunan irigasi, penyediaan benih unggul, serta penguatan sarana pascapanen diposisikan sebagai investasi yang menentukan daya saing pertanian jagung NTT dalam jangka panjang.

    Komoditas jagung juga dipandang memiliki peluang ekonomi yang semakin luas. Pemerintah Provinsi NTT berharap kebutuhan bahan baku bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat dipenuhi dari hasil pertanian lokal. Skema ini diharapkan menciptakan pasar yang lebih pasti bagi petani sekaligus memperpendek rantai pasok pangan di daerah.

    Ketua Kelompok Tani Paghili Mere, Agustinus Wokur Kaka, mengatakan sebagian besar petani di Desa Hameli Ate mengelola lahan sedikitnya satu hektare, bahkan tidak sedikit yang menanam jagung hingga tiga kali dalam setahun. Menurutnya, apabila dukungan pupuk, benih, dan alat pascapanen dapat dipenuhi, produktivitas maupun pendapatan petani berpotensi meningkat secara signifikan.

    Senada dengan itu, Wakil Bupati Sumba Barat Daya Dominikus Alpawan Rangga Kaka menilai sektor jagung telah menjadi fondasi ekonomi keluarga di wilayahnya. Ia mengibaratkan keberhasilan bertani sebagai jalan membiayai pendidikan anak-anak hingga menjadi dokter, guru, maupun tenaga kesehatan.

    Panen raya di Kampung Ikit akhirnya tidak hanya menjadi penanda keberhasilan satu musim tanam. Lebih dari itu, panen tersebut memperlihatkan bahwa transformasi ekonomi pertanian di NTT bergantung pada kemampuan pemerintah menghadirkan kebijakan yang menjawab kebutuhan petani, mulai dari benih, pupuk, irigasi, hingga kepastian pasar. Dari hamparan jagung di Kodi Utara, upaya membangun kedaulatan pangan sesungguhnya dimulai dari penguatan ekonomi rumah tangga petani.Naskah ini menggunakan pendekatan naratif dan analitis khas rubrik ekonomi pertanian, dengan fokus pada makna data, tantangan struktural, dan implikasi ekonomi, bukan sekadar rangkaian kegiatan seremonial.*/Baldus Sae/llt

  • Wabup Sumba Barat Daya Canangkan Sensus Ekonomi 2026, Data Akurat Jadi Fondasi Arah Pembangunan Daerah

    Wabup Sumba Barat Daya Canangkan Sensus Ekonomi 2026, Data Akurat Jadi Fondasi Arah Pembangunan Daerah

    TAMBOLAKA,SELATANINDONESIA.COM – Tepat saat aktivitas pemerintahan mulai berjalan di tengah pagi yang cerah, suasana di Halaman Kantor Bupati Sumba Barat Daya, Rabu (17/6/2026), tampak berbeda. Ratusan aparatur sipil negara berbaris mengikuti Apel Kesadaran yang kali ini dirangkaikan dengan pencanangan Sensus Ekonomi 2026. Di hadapan para asisten, staf ahli, pimpinan OPD, dan ASN, Wakil Bupati Sumba Barat Daya, Dominikus Alpawan Rangga Kaka, secara resmi menandai dimulainya pelaksanaan sensus ekonomi di daerah tersebut.

    Bagi pemerintah daerah, agenda ini bukan sekadar kegiatan pendataan rutin. Sensus Ekonomi 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik merupakan upaya memotret secara menyeluruh wajah perekonomian Indonesia, mulai dari usaha mikro hingga perusahaan berskala besar. Kegiatan ini juga menjadi sensus ekonomi kelima yang dilaksanakan secara berkala setiap sepuluh tahun sekali sejak 1986.

    Dalam arahannya, Wabup Rangga Kaka menegaskan bahwa data merupakan fondasi utama dalam pembangunan. Tanpa data yang akurat, kebijakan berisiko meleset dari kebutuhan masyarakat. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen pemerintah dan masyarakat untuk mendukung pelaksanaan sensus yang berlangsung hingga akhir Agustus 2026.

    “Data yang baik akan menghasilkan kebijakan yang baik. Sebaliknya, data yang tidak lengkap akan menyulitkan pemerintah dalam menentukan arah pembangunan,” ujarnya.

    Berdasarkan hasil Sensus Ekonomi 2016, tercatat sebanyak 22.576 unit usaha tersebar di berbagai wilayah Sumba Barat Daya. Angka tersebut menunjukkan besarnya aktivitas ekonomi masyarakat yang menjadi tulang punggung pertumbuhan daerah. Namun, dalam satu dekade terakhir, dinamika ekonomi terus berubah. Munculnya usaha-usaha baru, perkembangan UMKM, serta transformasi ekonomi digital membutuhkan pemetaan yang lebih mutakhir agar pemerintah memiliki gambaran riil mengenai kondisi ekonomi terkini. Sejalan dengan tujuan nasional, Sensus Ekonomi 2026 dirancang untuk menghasilkan data dasar seluruh aktivitas ekonomi sebagai landasan penyusunan kebijakan pembangunan dan penguatan sektor usaha.

    Menurut Wabup Ranggak Kaka, hasil sensus nantinya akan menjadi referensi penting bagi pemerintah daerah dalam menyusun berbagai kebijakan strategis, mulai dari pengembangan UMKM, peningkatan investasi, pembangunan infrastruktur ekonomi, hingga penyusunan dokumen perencanaan pembangunan daerah seperti RPJMD dan RKPD.

    Ia menilai keberhasilan sensus tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas statistik, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan. Karena itu, ASN diminta menjadi garda terdepan dalam menyukseskan pelaksanaan sensus.

    Ada empat pesan utama yang disampaikan kepada jajaran pemerintah daerah. Pertama, memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan pendataan. Kedua, membangun koordinasi aktif dengan petugas BPS di wilayah masing-masing. Ketiga, menyosialisasikan kepada masyarakat bahwa seluruh data yang diberikan dijamin kerahasiaannya dan tidak digunakan untuk kepentingan perpajakan maupun audit. Keempat, mengajak para pelaku usaha untuk memberikan informasi yang jujur, lengkap, dan akurat.

    Penekanan terhadap kualitas data bukan tanpa alasan. Di tengah upaya pemerintah memperkuat fondasi ekonomi nasional dan daerah, data statistik yang akurat menjadi instrumen penting untuk membaca peluang sekaligus tantangan pembangunan. BPS sendiri menempatkan Sensus Ekonomi 2026 sebagai salah satu agenda strategis nasional untuk memperoleh peta ekonomi Indonesia yang lebih komprehensif dan menjadi dasar pengambilan keputusan di berbagai sektor.

    Bagi Sumba Barat Daya, sensus ini juga dipandang sebagai momentum memperkuat visi pembangunan daerah menuju Kabupaten Sumba Barat Daya yang hebat, berkarakter, sehat, cerdas, berketahanan pangan, dan berbudaya menuju Indonesia Emas 2045.

    Menutup sambutannya, Wabup Rangga Kaka menyampaikan harapan agar seluruh tahapan pendataan dapat berlangsung lancar, aman, dan sukses. Dengan memohon rahmat Tuhan Yang Maha Esa, ia kemudian secara resmi mencanangkan dimulainya Sensus Ekonomi 2026 di Kabupaten Sumba Barat Daya.

    Di balik prosesi yang berlangsung sederhana itu, tersimpan harapan besar bahwa setiap data yang dicatat selama beberapa bulan ke depan akan menjadi pijakan bagi lahirnya kebijakan yang lebih tepat sasaran, investasi yang lebih terarah, serta kesejahteraan yang semakin merata bagi masyarakat Sumba Barat Daya.*/ Adi Suseno/llt

  • Wakil Bupati SBD Hadir di Mali Iha, “SMK Membangun Desa” Menjadi Nyala Baru dari Pelosok

    Wakil Bupati SBD Hadir di Mali Iha, “SMK Membangun Desa” Menjadi Nyala Baru dari Pelosok

    TAMBOLAKA,SELATANINDONESIA.COM — Upaya membangun kemandirian ekonomi masyarakat desa kembali ditegaskan melalui peluncuran program berbasis pendidikan vokasi. Wakil Bupati Sumba Barat Daya, Dominikus Alpawan Rangga Kaka, secara resmi membuka kegiatan “SMK Membangun Desa” di Desa Mali Iha, Kabuppaten Sumba Barat Daya (SBD), Selasa (31/3/2026), sebagai bagian dari strategi penguatan kapasitas masyarakat berbasis potensi lokal.

    Peresmian program ini menjadi penanda keseriusan pemerintah daerah dalam mendorong transformasi desa melalui keterampilan praktis yang langsung menyentuh kebutuhan warga.

    Dalam sambutannya, Wakil Bupati yang akrab disapa Angga Kaka menekankan bahwa pembangunan desa tidak cukup hanya bertumpu pada infrastruktur, tetapi juga harus menyasar peningkatan kualitas sumber daya manusia.

    Program “SMK Membangun Desa” merupakan tindak lanjut kebijakan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Inisiatif ini dirancang untuk menjembatani dunia pendidikan vokasi dengan kebutuhan riil masyarakat desa, khususnya dalam menciptakan peluang ekonomi baru berbasis potensi lokal.

    “Pelatihan yang diberikan tidak berhenti pada teori, tetapi langsung pada praktik yang bisa dikerjakan dan dikembangkan oleh masyarakat. Ini penting agar hasilnya nyata dan berkelanjutan,” ujar Wabup Angga Kaka.

    Kegiatan ini menyasar kelompok masyarakat yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan dan keterampilan, seperti warga putus sekolah dan ibu rumah tangga. Melalui pelatihan yang terstruktur, mereka didorong untuk memiliki kemampuan produktif yang dapat meningkatkan pendapatan keluarga.

    Adapun bentuk pelatihan yang diberikan meliputi keterampilan menenun serta pengolahan bahan pangan lokal. Kedua bidang ini dipilih karena memiliki keterkaitan erat dengan potensi dan budaya setempat, sekaligus memiliki nilai ekonomi yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

    Menariknya, program ini tidak hanya berhenti pada tahap pelatihan. Para peserta juga akan menerima hibah peralatan setelah menyelesaikan pelatihan, sehingga mereka dapat langsung memulai usaha secara mandiri. Skema ini diharapkan mampu mempercepat proses pemberdayaan ekonomi masyarakat.

    Pelaksanaan program ini melibatkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, satuan pendidikan SMK, hingga pemerintah desa. Sinergi tersebut diperkuat melalui penandatanganan perjanjian kerja sama yang menjadi dasar hukum pelaksanaan program di tingkat desa.

    Kolaborasi ini dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan program, sekaligus memperkuat peran pendidikan vokasi sebagai motor penggerak pembangunan desa.

    Ke depan, program ini diharapkan mampu melahirkan sumber daya manusia yang terampil, mandiri, dan adaptif terhadap perkembangan ekonomi. Lebih dari itu, peningkatan keterampilan masyarakat diyakini akan berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga di Desa Mali Iha.

    “Melalui kegiatan ini, kita sedang menyiapkan generasi yang tangguh untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. Kuncinya adalah kesungguhan dalam belajar dan kemauan untuk berkembang,” kata Wabup Angga Kaka.

    Dengan pendekatan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, program “SMK Membangun Desa” menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat fondasi ekonomi desa sekaligus memperkecil kesenjangan pembangunan antarwilayah.*/Adi Suseno/llt