Sehari sebelum Ryan Silet Open Up tampil menggetarkan Istana Negara dengan lagu ”Tabola Bale”, Gubernur NTT Melki Laka Lena menelpon Ryan. Sebuah perhatian sederahan namun sangat membekas.
KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Suasana Istana Merdeka, Jakarta, Minggu pagi itu, (17/8/2025), dipenuhi aroma khidmat. Langit cerah seolah memberi restu pada peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Ribuan pasang mata, dari kepala negara sahabat, pejabat tinggi negara, hingga masyarakat undangan, menanti prosesi demi prosesi upacara kenegaraan.
Di tengah rangkaian itu, muncul sosok penyanyi muda asal Nusa Tenggara Timur, Ryan Silet Open Up. Mengenakan busana adat NTT dengan Ti’i Langga, topi khas Lelaki Rote, ia berdiri tegap di panggung. Suara khasnya yang penuh tenaga dan emosional segera memecah kesunyian. Lantang, namun penuh lirih haru, ia melantunkan lagu ”Tabola Bale” yang berhasil menggetarkan istana. Semua hadiri larut dalam joged dengan irama yang gembira termasuk Presiden Prabowo.
Bagi Ryan, tampil di Istana bukan sekadar prestasi seni. Itu adalah panggung sejarah, ketika suara anak Ngada bisa menggaung di jantung republik. Namun, ada satu hal yang membuatnya semakin mantap: sebuah telepon singkat sehari sebelumnya dari Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena. “Bapak Melki bilang, tampil dengan baik, bawa nama NTT. Saat itu saya merasa besar,” kenang Ryan di Mataloko, usai misa syukur setekah kembali ke kampung halamannya, Selasa (26/8/2025).
Telepon singkat itu bagai doa restu. Di balik gemerlap kamera dan protokol istana, Ryan berdiri bukan hanya sebagai seniman, tapi juga sebagai wakil dari NTT, provinsi kepulauan di ujung timur yang sering dicap tertinggal, tapi terus mengirimkan cahaya-cahaya kecil ke panggung nasional.
Sambutan Emosional di Kampung Halaman
Sepekan lebih setelah penampilan heroiknya di Jakarta, Ryan pulang. Selasa, 26 Agustus 2025, jalanan menuju Mataloko, Kabupaten Ngada, penuh sesak. Warga, anak-anak sekolah, hingga tokoh masyarakat berbaris menyambut. Teriakan sorak bercampur tangisan haru, seolah mereka kedatangan pahlawan dari medan juang.
Ryan berdiri di panggung sederhana. Ia tak kuasa menahan emosi ketika menyampaikan sambutan. “Selain kaka ade di sini yang ikut upacara dan live, tapi mari kita tepuk tangan untuk Pak Melki Laka Lena. Terima kasih bapak Gubernur,” ucapnya dengan suara bergetar.
Sambutan itu mengejutkan banyak orang. Ryan memilih membagi panggung kegemilangannya dengan sang gubernur. Baginya, dukungan itu nyata, sederhana, tapi menyentuh. Bahkan ketika bertemu Bupati Ngada Raymundus Bena dan Wakil Bupati, Ryan kembali menyinggung perhatian Gubernur Melki.
Sorak-sorai warga Mataloko semakin keras. Mereka bangga, bukan hanya karena putra daerah bisa bernyanyi di Istana Negara, tapi karena cerita itu diwarnai sentuhan solidaritas, bahwa seorang pemimpin daerah tak hanya bicara soal proyek infrastruktur atau angka APBD, melainkan juga hadir memberi semangat pribadi pada warganya yang hendak tampil di panggung nasional.
Makna Politik-Kultural dari Perhatian Gubernur
Di balik cerita Ryan, ada lapisan makna politik dan kultural yang patut dicatat. Nusa Tenggara Timur dikenal sebagai provinsi dengan gudang talenta seni, olahraga, hingga pendidikan yang sering mencuri perhatian nasional. Namun, talenta-talenta ini kerap melangkah sendiri, tanpa sokongan simbolik dari daerah asal.
Perhatian Gubernur Melki Laka Lena, meski hanya lewat telepon, menjadi isyarat penting. Ia menunjukkan model kepemimpinan yang personal, bukan semata administratif. Di tengah jarak antara rakyat dan pemimpin yang sering terasa lebar, Gubernur Melki memilih menjembatani dengan kata-kata sederhana.
Secara politik, langkah itu memperkuat citranya sebagai gubernur yang membumikan kebanggaan daerah dalam narasi kebangsaan. Ia tak hanya mengurus pembangunan jalan dan sekolah, tapi juga membangun ekosistem apresiasi bagi prestasi individu. Secara kultural, dukungan itu menegaskan bahwa setiap pencapaian anak NTT adalah bagian dari identitas kolektif daerah.
Bagi masyarakat NTT, Ryan bukan hanya penyanyi. Ia adalah simbol bahwa “orang kecil” dari kampung bisa berdiri di panggung negara. Dan bagi Gubernur Melki Laka Lena, sebuah telepon singkat menjadi medium politik-kultural yang membuat kepemimpinannya hadir dalam ruang batin warganya.
“Ini perhatian sederhana, tapi menyentuh hati,” ujar seorang tokoh adat Ngada usai acara penyambutan.
Di panggung besar republik, Ryan sudah menyalakan api kebanggaan NTT. Tapi di kampung halamannya, kisah itu menjelma menjadi narasi kolektif: tentang pentingnya pemimpin yang tahu cara menyalakan keberanian rakyatnya.*/Laurens Leba Tukan
Komentar