KUPANG,SELATANINDONESIA.COM โ Keterlambatan lima hari pengiriman obat-obatan hemodialisis nyaris berujung krisis kesehatan di RS Leona Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ratusan pasien penyakit ginjal kronis terancam tidak mendapatkan layanan cuci darah tepat waktu, sebuah kondisi yang dapat berujung fatal akibat penumpukan racun dalam tubuh.
Keterlambatan itu dipicu dua faktor beruntun: cuaca buruk yang menghambat pelayaran serta insiden kapal di Surabaya yang menyebabkan kontainer berisi bahan medis tertunda pengirimannya.
Insiden tersebut terjadi saat kapal kargo Pasific 88 miring ketika proses bongkar muat di Dermaga Jamrud Selatan, Pelabuhan Tanjung Perak, Senin (2/2/2026) dini hari. Sekitar 30 kontainer dilaporkan jatuh ke laut. Di antara muatan itu terdapat bahan habis pakai milik RS Leona Kupang, termasuk obat-obatan penting untuk hemodialisis.
Direktur RS Leona Kupang, dr. Monica Salim, menuturkan, keterlambatan tersebut segera berdampak pada jadwal layanan pasien. Rata-rata rumah sakit itu melayani 30โ35 pasien cuci darah per hari. Dalam kondisi normal pun, layanan hemodialisis berjalan dalam jadwal ketat karena sebagian besar pasien harus menjalani terapi dua hingga tiga kali dalam sepekan.
โJika terlambat, risiko penumpukan cairan dan racun (uremia) bisa membahayakan nyawa pasien. Kami benar-benar berpacu dengan waktu,โ ujar Monica, Sabtu (14/2/2026).
Jalur Koordinasi Darurat
Dalam situasi mendesak itu, pihak rumah sakit menghubungi Wakil Ketua DPRD NTT, Fernando Soares, guna mencari solusi percepatan distribusi. Upaya tersebut kemudian berlanjut pada koordinasi lintas lembaga, termasuk dengan Indonesian National Shipowners Association (INSA) Kupang dan otoritas pelabuhan.
Ketua INSA NTT, Yusak Benu, mengatakan, atas dasar kemanusiaan pihaknya berinisiatif berkoordinasi dengan pengelola pelabuhan untuk memajukan jadwal sandar Kapal Calypso yang membawa kontainer berisi obat-obatan tersebut.
Awalnya, kapal dijadwalkan sandar pada Sabtu (14/2/2026). Namun, setelah koordinasi intensif, jadwal dimajukan sehari menjadi Jumat (13/2/2026) agar muatan dapat segera dibongkar dan diprioritaskan keluar dari pelabuhan menuju rumah sakit.
โIni menyangkut nyawa manusia. Kami juga sudah berkomunikasi dengan pemilik kapal lain yang jadwalnya bergeser. Puji Tuhan semua memahami karena ini misi kemanusiaan,โ kata Yusak.
Langkah percepatan itu terbukti krusial. Pada Sabtu pagi, distribusi obat telah tiba di rumah sakit dan layanan hemodialisis kembali berjalan.
โPuji Tuhan, hari ini pasien sudah bisa menjalani terapi kembali,โ ujar Monica.
Rentannya Rantai Pasok Daerah Kepulauan
Peristiwa ini kembali menegaskan rapuhnya rantai pasok logistik kesehatan di wilayah kepulauan seperti NTT. Ketergantungan pada jalur laut membuat distribusi sangat rentan terhadap cuaca ekstrem maupun insiden di pelabuhan besar.
Keterlambatan lima hari saja telah menimbulkan kekhawatiran besar. Dalam layanan hemodialisis, jeda terapi bukan sekadar soal kenyamanan pasien, melainkan soal keselamatan.
Seorang pasien gagal ginjal kronis, yang enggan disebutkan namanya, mengaku sempat cemas ketika jadwal terapinya terancam mundur. โKami hidup dari jadwal cuci darah. Kalau terlambat, badan terasa berat, sesak, dan lemas,โ tuturnya.
Koordinasi cepat antara rumah sakit, legislatif daerah, asosiasi pelayaran, dan otoritas pelabuhan menjadi penentu terselamatkannya layanan medis tersebut.
Kepala Cabang PT Suntraco Intim Transport Kupang, Rudy Irawan, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang memberi prioritas sandar bagi Kapal Calypso.
โKami bersyukur obat bisa segera keluar dari pelabuhan dan didistribusikan. Banyak pasien bisa tertolong,โ ujarnya.
Di balik krisis singkat itu, terselip pelajaran penting: dalam situasi darurat kesehatan, kolaborasi lintas sektor bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Lima hari keterlambatan hampir menjadi batas yang tak termaafkan. Namun, kali ini, waktu masih berpihak pada para pasien.*/llt













Komentar