GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Hari Ini NTT Daerah Ekonomi Gubernur NTT
Beranda / Gubernur NTT / NTT Mart Diluncurkan di Malaka, Pemerintah Dorong Kedaulatan Ekonomi Berbasis UMKM Lokal

NTT Mart Diluncurkan di Malaka, Pemerintah Dorong Kedaulatan Ekonomi Berbasis UMKM Lokal

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wakil Bupati Malaka Henri Melki Simu bersama Ketua DPRD Malaka Adrianus Bria Seran dan para Forkopimda saat peluncuran NTT Mart di Malaka, JUmat (23/1/2026). Foto: jendarlpurek

BETUN,SELATANINDONESIA.COM — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memperkuat agenda kedaulatan ekonomi daerah melalui peluncuran NTT Mart by Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Malaka, Jumat (23/1/2026).

Kehadiran NTT Mart di wilayah perbatasan ini ditujukan untuk membuka akses pasar yang lebih adil bagi petani, nelayan, peternak, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Peresmian dilakukan langsung oleh Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena di Dusun Wemalai, Desa Wehali, Kecamatan Malaka Tengah. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Provinsi NTT dan Dekranasda Kabupaten Malaka sebagai bagian dari strategi pembenahan struktur ekonomi daerah.

Setibanya di Malaka, Gubernur Melki dan rombongan disambut secara adat oleh Wakil Bupati Malaka dan jajaran pemerintah daerah melalui pengalungan selendang dan tarian adat penjemputan tamu.

Dalam sambutannya, Gubernur Melki menegaskan bahwa NTT Mart dirancang sebagai instrumen kebijakan untuk memutus ketimpangan antara produsen dan pedagang yang selama ini merugikan masyarakat penghasil.

Uang Berputar, Harapan UMKM Lokal Tumbuh di NTT Mart Sumba Tengah

“NTT Mart disiapkan sebagai pasar bagi produk rakyat. Dari ladang dan laut langsung ke pasar, dengan harga yang pantas dan menguntungkan bagi produsen,” ujar Gubernur Melki.

Menurut dia, struktur ekonomi NTT masih menghadapi persoalan serius karena nilai tambah hasil produksi belum dinikmati secara adil oleh petani, nelayan, dan pelaku UMKM. Kondisi tersebut turut berkontribusi terhadap defisit perdagangan daerah, di mana belanja masyarakat terhadap produk luar NTT masih lebih besar dibandingkan nilai produk lokal yang keluar dari daerah.

Gubernur Melki juga menempatkan Kabupaten Malaka sebagai wilayah strategis, baik secara ekonomi maupun historis. Ia menyinggung keterkaitan sejarah antara Malaka, Maluku, dan Papua, termasuk posisi kain tenun Timor yang hingga kini digunakan sebagai alat mas kawin bernilai tinggi di Papua Barat dan Papua Barat Daya.

“Fakta ini menunjukkan adanya jalur pergerakan sejarah orang-orang Timor, termasuk dari Malaka, yang seharusnya juga kita maknai sebagai peluang ekonomi,” kata Gubernur Melki.

Selain aspek budaya, Malaka dinilai memiliki keunggulan pengetahuan lokal, seperti pengobatan tradisional yang telah dibukukan, serta potensi pertanian yang subur dan strategis di Pulau Timor. Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, pemerintah daerah juga mendorong penguatan infrastruktur logistik, termasuk rencana pengembangan dermaga di wilayah pesisir Malaka.

Setiap Pohon Kopi, Satu Warisan untuk Generasi Sumba Tengah

“Jika akses distribusi dibenahi, biaya logistik bisa ditekan dan produk Malaka akan lebih kompetitif,” ujarnya.

Dalam mendukung keberlanjutan NTT Mart, Pemerintah Provinsi NTT menetapkan empat fokus kebijakan utama bagi UMKM, yakni permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan potensi penyaluran di NTT mencapai lebih dari Rp 3,7 triliun, pendampingan usaha, penguatan literasi keuangan, serta perluasan akses pasar melalui NTT Mart.

“Modal kami siapkan, pendampingan ada, literasi keuangan diperkuat, dan pasar disediakan. Tinggal UMKM berani naik kelas,” kata Gubernur Melki.

Sebagai langkah afirmatif, Pemerintah Provinsi NTT juga merencanakan kebijakan agar aparatur sipil negara (ASN) membelanjakan minimal Rp 100.000 per bulan untuk produk lokal melalui NTT Mart. “Ini bukan bagi-bagi uang, tetapi memastikan uang belanja berputar di daerah sendiri,” ujarnya.

Wakil Bupati Malaka Henri Melki Simu menyatakan bahwa kehadiran NTT Mart menjadi tonggak penting pembangunan ekonomi Kabupaten Malaka yang selama ini berada di wilayah perbatasan.

Kebun Sekolah, Ekonomi Kerakyatan yang Menyemai

“NTT Mart bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan langkah strategis untuk mendorong ekonomi berbasis sumber daya lokal,” ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa Malaka memiliki beragam produk unggulan, mulai dari tenun ikat yang dihasilkan 127 desa, kerajinan gerabah, olahan hasil pertanian dan perkebunan, anyaman berbahan lokal, hingga hasil perikanan air payau seperti ikan bandeng dan garam.

“NTT Mart menjadi gerbang agar produk Malaka tidak hanya berhenti di perbatasan, tetapi menembus pasar yang lebih luas,” kata Wabup Henri.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTT Zet Libing menjelaskan bahwa peluncuran NTT Mart di Malaka merupakan yang ke-15 di tingkat provinsi dan yang keempat pada 2026.

Saat ini, NTT Mart Kabupaten Malaka menampilkan sekitar 648 jenis produk dari 21 pelaku UMKM, yang seluruhnya dibeli langsung menggunakan anggaran pemerintah daerah sebagai bentuk keberpihakan terhadap produk lokal.

“Kami akan terus mengembangkan kualitas produk melalui pelatihan, pendampingan perbankan, serta pemasaran berbasis digital,” ujar Zet.

Peluncuran NTT Mart ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTT dan Dekranasda Kabupaten Malaka, penandatanganan berita acara penggunaan aset, serta serah terima produk. Acara ditutup dengan peninjauan langsung NTT Mart oleh Gubernur dan jajaran.

Kehadiran NTT Mart di Malaka menjadi bagian dari agenda berkelanjutan Pemerintah Provinsi NTT dalam membangun jejaring pasar produk lokal di seluruh kabupaten dan kota, sekaligus memperkuat fondasi ekonomi daerah dari wilayah pinggiran.*/jendralpurek/llt

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement