KUPANG,SELATANINDONESIA.COM โ Kepastian penyelenggaraan El Tari Memorial Cup (ETMC) XXXV tahun 2026 di Kabupaten Flores Timur kembali mengemuka setelah sempat diwarnai polemik penundaan. Dalam pertemuan di Kupang, Senin (26/10/2026), Asosiasi Provinsi PSSI Nusa Tenggara Timur memutuskan turnamen tetap digelar di Flores Timur sesuai jadwal awal, yakni mulai 14 November 2026.
Keputusan tersebut diambil setelah Bupati Flores Timur Anton Doni Dihen, Ketua Ikatan Keluarga Lamaholot Kupang Don Arakian, dan panitia penyelenggara bertemu dengan Ketua Asprov PSSI NTT Christian Mboeik. Pertemuan itu menjadi momentum untuk menegaskan kembali komitmen penyelenggaraan turnamen sepak bola paling bergengsi di NTT tersebut.
“Setelah menggelar pertemuan santai bersama para panitia pelaksana, kita tetap putuskan ETMC XXXV di Flores Timur dan sesuai jadwal,” kata Christian Mboeik kepada SelatanIndonesia.com.
Bagi Flores Timur, keputusan itu bukan sekadar mempertahankan kalender kompetisi. Penyelenggaraan ETMC memiliki arti penting bagi daerah yang dikenal memiliki tradisi dan antusiasme sepak bola yang kuat. Turnamen ini sekaligus menjadi ruang pertemuan klub-klub dari berbagai kabupaten dan kota di NTT untuk memperebutkan supremasi sepak bola daerah.
Di tengah dinamika yang berkembang dalam beberapa hari terakhir, kepastian waktu pelaksanaan menjadi hal yang paling dinantikan oleh panitia, klub peserta, pemain, dan suporter.
Sempat ditunda ke Maret 2027
Sebelum keputusan terbaru tersebut, pelaksanaan ETMC XXXV sempat menghadapi ketidakpastian setelah Asprov PSSI NTT menerbitkan surat Nomor 47/PSSI-NTT/X/2026 tertanggal 22 Oktober 2026.
Dalam surat itu, pelaksanaan Piala Gubernur Liga IV ETMC XXXV yang semula dijadwalkan pada 14 November 2026 dinyatakan ditunda hingga Maret 2027. Alasan yang disampaikan adalah adanya perubahan dan penyesuaian regulasi Liga IV untuk musim kompetisi 2026/2027 yang akan disampaikan PSSI Pusat.
Keputusan penundaan tersebut memicu reaksi dari panitia penyelenggara di Flores Timur. Panitia menolak perubahan jadwal dan meminta agar turnamen tetap dilaksanakan sesuai rencana semula.
Dalam pemberitaan Aksara News dan NTT Kreatif pada 23 Oktober 2026, penolakan panitia disampaikan melalui surat resmi yang mempertanyakan landasan penundaan. Panitia menilai persiapan telah berjalan dan perubahan jadwal berpotensi menimbulkan persoalan bagi penyelenggaraan yang sudah dirancang sejak jauh hari.
Penundaan itu juga menimbulkan kekecewaan di kalangan publik sepak bola Flores Timur. Bagi masyarakat setempat, ETMC bukan hanya agenda olahraga, tetapi juga peristiwa sosial yang melibatkan kebanggaan daerah, aktivitas ekonomi masyarakat, dan persaudaraan antarkabupaten.
Perkembangan pada 26 Oktober ini membawa arah baru. Meski demikian, untuk memastikan tidak ada lagi perbedaan informasi, tindak lanjut administratif terhadap surat penundaan sebelumnya perlu diperjelas secara resmi oleh Asprov PSSI NTT.
Persiapan stadion dan peserta terus berjalan
Di sisi penyelenggaraan, Flores Timur sebelumnya telah memulai berbagai persiapan untuk menyambut puluhan tim peserta. Laporan NTT Hari Ini pada 22 September 2026 menyebutkan sebanyak 30 tim dari perserikatan dan klub anggota PSSI NTT dipersiapkan mengikuti ETMC XXXV. Saat itu, progres persiapan panitia dilaporkan mencapai sekitar 40โ50 persen.
Pekerjaan mencakup pembenahan lapangan, kebutuhan teknis pertandingan, persiapan acara pembukaan, serta koordinasi dengan peserta. Persiapan juga dilakukan oleh klub-klub yang akan berlaga, termasuk Perseftim Flores Timur dan Persami Maumere.
RRI pada 1 Oktober 2026 melaporkan Persami Maumere mulai membenahi manajemen dan menyusun komposisi tim. Penunjukan dr. Ekarini Katharina Yunarti Nabu sebagai manajer menjadi salah satu langkah untuk memperkuat kesiapan Laskar Nian Tana menghadapi kompetisi tersebut.
Sementara itu, panitia Flores Timur memusatkan perhatian pada kesiapan venue. Dalam laporan Metro Timor News pada 22 Oktober 2026, dua lapangan disebut menjadi fokus utama pembenahan, yakni Stadion Ile Mandiri di Larantuka dan Lapangan Gawerato di Desa Wailolong, Kecamatan Ile Mandiri.
Sebelumnya, panitia juga sempat merencanakan penggunaan tiga venue, termasuk Stadion Mini Ape Buan di Pulau Adonara. Namun, perkembangan mengenai penggunaan lapangan membuat skema venue mengalami penyesuaian. Stadion Ile Mandiri diproyeksikan menjadi lokasi pembukaan, sedangkan Lapangan Gawerato menjadi salah satu arena pertandingan.
Panitia juga telah memasarkan tiket terusan seharga Rp 200.000 dan menyiapkan tiket harian dengan tarif yang disesuaikan berdasarkan tahapan kompetisi, sebagaimana diberitakan Harian Warga pada 15 Oktober 2026.
Rangkaian persiapan tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan ETMC melibatkan pekerjaan yang lebih luas daripada sekadar menyiapkan jadwal pertandingan. Kesiapan lapangan, akomodasi, transportasi, keamanan, dan pelayanan bagi tim peserta menjadi bagian penting untuk memastikan turnamen berlangsung lancar.
Mengembalikan marwah sepak bola ke Flores Timur
Christian Mboeik menegaskan, penyelenggaraan ETMC XXXV di Flores Timur juga memiliki makna tersendiri bagi dirinya yang berada di penghujung masa bakti sebagai Ketua Asprov PSSI NTT.
“Di penghujung masa bakti sebagai Ketua Asprov PSSI NTT, saya kembalikan marwah sepak bola ke tanah kelahirannya, yaitu Flores Timur,” ujar Christian.
Pernyataan itu menegaskan bahwa ETMC tidak semata-mata dipandang sebagai kompetisi tahunan. Turnamen ini merupakan bagian dari identitas sepak bola NTT yang tumbuh melalui dukungan masyarakat, pembinaan pemain, dan persaingan antarklub daerah.
Bupati Anton Doni: Keputusan Terbaik dari Asprov PSSIย
Bupati Flores Timur Anton Doni Dihen menyampaikan apresiasi atas keputusan terbaik Asprov PSSI NTT yang tetap menempatkan daerahnya sebagai tuan rumah sesuai jadwal.
“Kita bersyukur dan berterima kasih kepada Ketua Asprov PSSI NTT yang telah menyetujui pelaksanaan ETMC XXXV digelar di Flotim sesuai jadwal, dan ini keputusan terbaik untuk Flores Timur,” kata Anton Doni.
Bagi pemerintah daerah, penyelenggaraan ETMC diharapkan memberikan manfaat yang melampaui pertandingan di lapangan. Kehadiran pemain, ofisial, suporter, dan pengunjung dari berbagai wilayah berpotensi menggerakkan sektor penginapan, transportasi, kuliner, perdagangan, serta usaha kecil masyarakat.
Namun, manfaat itu hanya dapat dirasakan secara optimal apabila penyelenggaraan berlangsung dengan persiapan yang matang dan kepastian regulasi.
Menanti kepastian hingga peluit pertama
Dengan keputusan terbaru tersebut, perhatian kini tertuju pada langkah konkret Asprov PSSI NTT dan panitia untuk memastikan seluruh persiapan berjalan sesuai jadwal 14 November 2026.
Kejelasan mengenai regulasi Liga IV, kepastian peserta, kesiapan venue, dan penyelesaian administrasi menjadi pekerjaan yang perlu segera dituntaskan.
Koordinasi yang konsisten antara Asprov, pemerintah daerah, panitia, dan klub peserta juga diperlukan agar perubahan keputusan tidak kembali mengganggu persiapan.
ETMC XXXV di Flores Timur kini kembali diarahkan menuju tanggal pelaksanaan yang telah direncanakan. Setelah sempat dihadapkan pada polemik penundaan, tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa turnamen dapat berlangsung dengan baik, tertib, dan menjunjung tinggi sportivitas.
Bagi masyarakat Flores Timur, harapannya sederhana: sepak bola kembali menjadi pesta bersama. Dari Larantuka, persaingan antarklub NTT diharapkan tidak hanya melahirkan juara, tetapi juga memperkuat pembinaan pemain dan menjaga gairah sepak bola daerah.
Pada akhirnya, keberhasilan ETMC XXXV tidak hanya diukur dari terlaksananya pertandingan pertama pada 14 November, tetapi juga dari kemampuan seluruh pemangku kepentingan menjaga kepercayaan klub, pemain, dan masyarakat terhadap tata kelola sepak bola NTT.*/llt



Komentar