KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Di beranda Rumah Jabatan Gubernur NTT di Kupang, Kamis pagi (28/8/2025), udara masih hangat. Emanuel Melkiades Laka Lena menerima tamu penting: jajaran manajemen PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra). Dari pintu masuk, General Manager Rizki Aftarianto memimpin rombongan, membicarakan satu hal yang belakangan menjadi kata kunci masa depan Nusa Tenggara Timur: energi baru terbarukan.
“NTT ini provinsi kepulauan yang punya hampir semua potensi energi bersih: surya, panas bumi, angin, sampai air. Tinggal bagaimana kita kelola dengan baik untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat,” kata Gubernur Melki kepada tamunya.
Audiensi ini berlangsung sehari setelah Gubernur Melki bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka. Dalam pertemuan itu, NTT beberapa kali disebut Presiden sebagai daerah prioritas dalam isu air, pangan, dan energi. “Pak Prabowo sebut NTT soal swasembada energi,” ujarnya, menegaskan bahwa perhatian pusat kini tertuju pada timur Indonesia.
PLN membawa kabar besar: selama satu dekade ke depan, perusahaan listrik negara itu menyiapkan 78 proyek energi baru terbarukan di NTT dengan total kapasitas 947 megawatt. “Ada PLTS, panas bumi, angin, termasuk tenaga air. Semua tersebar di pulau-pulau di NTT,” ujar Rizki.
Namun, Gubernur Melki memberi catatan. Proyek yang ada harus dikerjakan sesuai standar, tidak asal bangun, dan tetap berkomunikasi dengan masyarakat. Ia mengingatkan pengalaman pahit beberapa proyek panas bumi di Flores yang menuai penolakan. “Komunikasi jangan tertutup. Hal-hal baik yang dikerjakan PLN mesti disampaikan juga kepada masyarakat kita,” katanya.
Di ruang pertemuan itu, hadir pula Kepala Dinas ESDM NTT Rosye Maria Hedwine dan Kepala Dinas PUPR Benyamin Nahak. Mereka mendengar langsung komitmen PLN dan pemerintah daerah untuk bersinergi.
NTT selama ini dikenal sebagai daerah dengan rasio elektrifikasi yang masih tertinggal dibanding provinsi lain. Keterbatasan listrik membuat pertumbuhan ekonomi, terutama industri kecil dan menengah, berjalan lambat. Kehadiran proyek-proyek EBT diharapkan bukan hanya menyalakan lampu di rumah-rumah warga, tapi juga membuka jalan bagi investasi baru di sektor pangan, perikanan, dan pariwisata.
Di mata Gubernur Melki, energi bukan sekadar infrastruktur, melainkan fondasi kedaulatan. “Kalau listrik ada, pangan cukup, dan air tersedia, NTT bisa berdiri tegak sebagai provinsi yang mandiri,” ujarnya.*/Baldus Sae/Laurens Leba Tukan
Komentar