GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Hari Ini NTT Golkar Infrastruktur Pariwisata
Beranda / Pariwisata / DPR RI Umbu Rudi Kabunang Dorong Revitalisasi Kampung Wunga, Titik Awal Peradaban Orang Sumba

DPR RI Umbu Rudi Kabunang Dorong Revitalisasi Kampung Wunga, Titik Awal Peradaban Orang Sumba

Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Dr. Umbu Rudi Kabunang bersama Wunang Bakul Mehang Tanak ketika di Kampung Wunga, Desa Wunga, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, Minggu (1/3/2026). Foto: Gusti Dida

WAINGAPU,SELATANINDONESIA.COM โ€” Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari Fraksi Partai Golkar, Dr. Umbu Rudi Kabunang, menegaskan komitmennya mendorong revitalisasi Kampung Wunga di Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Kampung adat itu diyakini sebagai titik mula peradaban orang Sumba.

Minggu (1/3/2026), di atas bentang savana yang menguning, kampung adat di bebukitan itu berdiri dalam sunyi. Rumah-rumah adatnya sebagian telah lapuk, kubur batu leluhur ditumbuhi semak. Namun ingatan kolektif tentang Wunga belum pernah benar-benar padam.

Umbu Rudi Kabunang, datang untuk memastikan ingatan itu tidak terhapus waktu. Ia menegaskan komitmennya mendorong revitalisasi Kampung Wunga di Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Umbu Rudi Kabunang datang bersama jajaran pemerintah daerah diantaranya Kepala Dinas Perumahan Rakyat Sumba Timur Jacob Jefri Supusepa, Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata Yudi Umbu T. T. Rawambaku, dan Pamong Budaya Mahir Agustinus Dida, serta Jekson Hamba Pulu, seorang anak muda asli Wunga yang merupakan pemerhati budaya Sumba. Mereka disambut kepala desa, tokoh adat, serta warga setempat yang selama ini memendam harapan agar Wunga kembali mendapat perhatian pembanguna

โ€œKita tidak boleh membiarkan akar sejarah tercerabut. Kalau Wunga diyakini sebagai awal peradaban, maka menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaganya,โ€ ujar Umbu Rudi Kabunang di hadapan para tetua adat.

AGAR 9.000 ASN PPPK NTT TIDAK DIRUMAHKAN !

Simpul Sejarah dan Identitas

Bagi masyarakat Sumba, Wunga bukan sekadar lokasi geografis. Berdasarkan tutur lisan yang diwariskan turun-temurun, dari kampung inilah nenek moyang orang Sumba menyusun tatanan kehidupan, membangun struktur sosial, dan kemudian menyebar ke seluruh penjuru pulau.

Musyawarah adat digelar sebelum rombongan menapaki jalan setapak dan 135 anak tangga menuju kampung di puncak bukit. Dalam suasana khidmat yang kental dengan nilai-nilai Marapu, para tetua adat, pemerintah desa, dan warga menyampaikan kegelisahan yang sama: Wunga kian sepi.

Keterbatasan akses air bersih, listrik, sanitasi, dan jalan membuat warga perlahan berpindah. Rumah adat yang dulu menjadi pusat ritus dan pertemuan keluarga besar kini banyak yang rusak. Tradisi kembali ke Wunga untuk ritual syukuran leluhur pun semakin jarang dilakukan.

โ€œKampung ini tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Leluhur kami menyebar, tetapi kewajiban adat untuk kembali tetap ada,โ€ ujar Wunang Bakul Mehang Tanah, salah satu tokoh adat yang berperan sebagai juru bicara.

Sekjen Pordasi Pacu dan Umbu Rudi Kabunang Konsolidasikan Road to PON 2028, Gelora Pada Ewata Jadi Venue Pacuan

Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Dr. Umbu Rudi Kabunang dan rombongan didampingi para tetua adat di Kampung Wunga, Desa Wunga, Kecamatan Haharus, Kabupaten Sumba Timur, Minggu (1/3/2026). Foto: SelatanIndonesia.com/Laurens Leba Tukan

Revitalisasi Lebih dari Sekadar Fisik

Umbu Rudi menegaskan, revitalisasi yang didorongnya tidak berhenti pada pemugaran bangunan. Ia menginginkan pendekatan menyeluruh: pembenahan infrastruktur dasar, penguatan nilai budaya, hingga dokumentasi sejarah dalam bentuk buku. “Bersama adinda Jekson Hamba Pulu, dan menggalang dukungan dan masukan dari berbagai pihak terkait agar ceritra sejarah serta silsilah kampung Wunga bisa dibuat dalam bentuk buku. Ini penting karena menjadi referensi dan panduan bagi generasi muda Sumba dari masa ke masa,” jelas Umbu Rudi Kabunang.

Pembukuan sejarah Kampung Wunga dinilai mendesak agar narasi asal-usul tidak hilang ditelan modernisasi. โ€œGenerasi muda harus tahu dari mana mereka berasal,โ€ katanya.

Rombongan juga melakukan napak tilas dan ziarah ke situs-situs leluhur sebagai simbol penghormatan. Dari puncak bukit, hamparan savana dan laut lepas tampak menyatu. Lanskap alam yang kuat secara visual itu menyimpan potensi wisata budaya yang belum tergarap optimal.

Harapan Desa Wisata Berbasis Adat

Kapolda NTT Hadirkan Polisi di Pelosok Sumba Tengah melalui Peresmian Pospol Umbu Ratu Nggay Barat

Warga Desa Wunga menyatakan komitmen untuk kembali merawat kampung leluhur secara bertahap. Mereka siap memperbaiki rumah adat, membersihkan area kampung, dan menjaga kubur batu sebagai warisan budaya.

Namun, mereka berharap dukungan konkret pemerintah, mulai dari pembangunan akses jalan, penyediaan air bersih dan listrik, bantuan rehabilitasi rumah adat, hingga program pemberdayaan ekonomi berbasis pariwisata.

Umbu Rudi menyebut pengelolaan kampung adat yang berhasil di wilayah lain di Sumba sebagai contoh bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan. โ€œPembangunan tidak boleh memutus akar sejarah. Justru dari akar itulah kita membangun masa depan,โ€ ujarnya.

Ia juga membuka peluang mendorong penetapan Wunga sebagai kawasan cagar budaya agar perlindungan dan dukungan anggaran lebih terstruktur. Sinergi pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat dinilai menjadi kunci.

Revitalisasi Kampung Wunga, jika terwujud, bukan hanya tentang menghidupkan kembali permukiman lama di atas bukit. Lebih jauh, ia adalah upaya merawat memori kolektif tentang asal-usul, identitas, dan harga diri orang Sumba di tengah arus perubahan yang kian cepat.

Rudianto Kabunang menyatakan akan berupaya melakukan komunikasi tingkat atas guna pelestarian budaya dan pengembangan desa wisata berbasis adat di Kampung Wunga. Beliau juga akan berupaya semaksimal mungkin membantu proses Revitalisasi Kampung Adat Wunga ini.

Jekson Hamba Pulu, anak muda Wunga pemerhati budaya Sumba mengatakan, revitalisasi Kampung Wunga tidak hanya berdampak pada pelestarian budaya, tetapi juga berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata budaya yang berkelanjutan. “Kita perlu bercontoh pada Kampung Prai Ijing yg kampung adatnya telah dikelola dgn baik untuk Pariwisata dan mencatatkan pendapatan fantastis menembus angka Rp1,4 miliar sepanjang tahun 2025,” sebutnya.

โ€œKita harus memastikan bahwa pembangunan tidak memutus akar sejarah. Justru dari akar itulah kita membangun masa depan,โ€ ujarnya menambahkan.

Kunjungan ini menjadi momentum penting bagi kebangkitan kembali Kampung Wunga sebagai simbol peradaban awal orang Sumba, sekaligus membuka harapan baru bagi masyarakat Desa Wunga untuk kembali merawat dan menghuni kampung leluhur mereka.*/llt/umbu jeckson

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ร— Advertisement
ร— Advertisement