GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Hari Ini NTT
Beranda / Berita Hari Ini NTT / Bersama Tokoh Masyarakat Kupang, MPR RI Umbu Rudi Kabunang Serukan Penguatan Empat Pilar Kebangsaan

Bersama Tokoh Masyarakat Kupang, MPR RI Umbu Rudi Kabunang Serukan Penguatan Empat Pilar Kebangsaan

Anggota MPR RI, Dr. Umbu Rudi Kabunang ketika menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bersama tokoh masyarakat di Restoran Suka Ramai Kupang, NTT, Minggu (8/2/2026) Foto: llt

KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Dr. Umbu Rudi Kabunang mengingatkan kembali fondasi dasar kehidupan berbangsa: Pancasila.

Pesan itu ia sampaikan dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Minggu (8/2/2026), di hadapan sekitar 150 tokoh masyarakat dan pemuda. Di ruang pertemuan yang dipenuhi semangat dialog itu, Umbu Rudi berbicara lugas: tanpa Pancasila, Indonesia berpotensi terpecah oleh perbedaan yang tak terkelola.

โ€œKalau tidak ada Pancasila, saya yakin negara ini sudah pecah. Kita bisa hidup rukun sampai hari ini karena ada alat perekat bangsa, yaitu Pancasila,โ€ ujarnya.

Fondasi yang Tak Boleh Luntur

Menurut Umbu Rudi, pascareformasi, MPR memegang mandat strategis: melantik dan memberhentikan Presiden dan Wakil Presiden, mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta memasyarakatkan Empat Pilar kebangsaanโ€”Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

AGAR 9.000 ASN PPPK NTT TIDAK DIRUMAHKAN !

Ia menilai, gaung penguatan ideologi negara sempat meredup setelah era Reformasi. Pada masa sebelumnya, internalisasi nilai Pancasila dilakukan secara sistematis melalui program P4 dan Pendidikan Moral Pancasila. Namun, perubahan politik membawa pendekatan baru yang tidak selalu diikuti dengan strategi penguatan ideologi yang adaptif.

Sebagai anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar daerah pemilihan NTT II, Umbu Rudi menyinggung kekhawatiran yang pernah disampaikan almarhum Taufik Kiemas saat menjabat Ketua MPR pada 2011โ€“2012. Ketika itu, ancaman disintegrasi dinilai tidak lagi datang dalam bentuk fisik, melainkan melalui infiltrasi gagasan dan narasi di ruang digital.

โ€œLewat media sosial, narasi yang menjelekkan Pancasila bisa dengan mudah masuk sampai ke pelosok. Ini yang harus kita waspadai,โ€ katanya.

Belajar dari Sejarah Bangsa Lain

Umbu Rudi mengajak peserta melihat pengalaman sejumlah negara yang terjerumus dalam konflik berkepanjangan akibat rapuhnya ideologi pemersatu, seperti Yugoslavia, Irak, Libya, dan Suriah. Perpecahan, kata dia, sering kali berawal dari melemahnya kesepakatan bersama tentang identitas dan arah bangsa.

Sekjen Pordasi Pacu dan Umbu Rudi Kabunang Konsolidasikan Road to PON 2028, Gelora Pada Ewata Jadi Venue Pacuan

Indonesia, dengan hampir 300 juta penduduk dan ribuan suku bangsa, memiliki kompleksitas yang jauh lebih besar. Karena itu, fondasi ideologis tidak boleh sekadar menjadi hafalan, melainkan harus dihidupi dalam praktik sehari-hari.

Pendidikan sebagai Titik Awal

Penguatan ideologi, menurut Umbu Rudi, harus dimulai dari bangku sekolah. Ia mendorong agar pembacaan Pancasila dan menyanyikan lagu Indonesia Raya kembali ditegaskan sebagai bagian dari rutinitas sebelum kegiatan belajar mengajar.

โ€œKalau ini luntur, itu hanya soal waktu negara ini pecah. Pendidikan ideologi harus dimulai sejak dini,โ€ ujarnya.

Ia menegaskan, Empat Pilar bukanlah konsep yang berdiri sendiri-sendiri. Pancasila menjadi dasar nilai, UUD 1945 memberi kerangka hukum, NKRI menjamin keutuhan wilayah, dan Bhinneka Tunggal Ika meneguhkan komitmen hidup dalam keberagaman.

Kapolda NTT Hadirkan Polisi di Pelosok Sumba Tengah melalui Peresmian Pospol Umbu Ratu Nggay Barat

Di tengah pembangunan yang terus digenjot dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, Umbu Rudi mengingatkan bahwa kemajuan material tidak akan berarti tanpa ketahanan ideologi.

โ€œKita harus berpikir bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk anak dan cucu kita. Jangan sampai mereka hidup di negara yang terpecah,โ€ katanya.

Di Kupang, pesan itu disampaikan dengan nada seriusโ€”sekaligus harapanโ€”bahwa persatuan Indonesia tidak boleh diserahkan pada kebetulan, melainkan harus terus dirawat sebagai kesadaran kolektif.*/llt

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ร— Advertisement
ร— Advertisement