GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Hari Ini NTT Daerah Ekonomi Golkar Gubernur NTT Infrastruktur Kesehatan Pendidikan
Beranda / Pendidikan / Gubernur Melki Laka Lena Perpanjang Tanggap Darurat Gempa Flores hingga 12 September: Keselamatan Warga Jadi Prioritas

Gubernur Melki Laka Lena Perpanjang Tanggap Darurat Gempa Flores hingga 12 September: Keselamatan Warga Jadi Prioritas

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena bersama rombongan Komisi IX DPR RI menyerahkan bantuan untuk masyarakat korban gempa bumi Flores di Poka, Desa Longko, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, Jumat malam (21/8/2026). foto;hms

KUPANG,SELATANINDONESIA.COM — Bagi warga Flores yang masih berhadapan dengan rasa waswas akibat gempa susulan, pemulihan tidak cukup hanya dengan memastikan bantuan tiba. Sekolah harus kembali menjadi tempat belajar yang aman, layanan kesehatan harus tetap tersedia, dan aktivitas pemerintahan perlahan perlu dihidupkan kembali tanpa mengabaikan keselamatan.

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur memilih memperpanjang masa tanggap darurat gempa bumi Flores selama 14 hari, mulai 29 Agustus hingga 12 September 2026. Keputusan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena itu diambil setelah pemerintah mencermati kondisi di lapangan, termasuk aktivitas gempa susulan yang masih terjadi di sejumlah wilayah.

Perpanjangan status tanggap darurat bukan berarti masyarakat harus terus menunggu hingga keadaan sepenuhnya normal. Sebaliknya, masa tersebut digunakan untuk memastikan penanganan bencana tetap berjalan sekaligus mempersiapkan masyarakat memasuki tahap pemulihan.

Pemerintah memastikan pelayanan dasar tetap diberikan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi dan tingkat keamanan di setiap wilayah terdampak.

Pelayanan kesehatan terus berjalan. Sementara itu, sektor pendidikan mulai dipersiapkan untuk kembali aktif. Pemerintah juga menghidupkan kembali pelayanan pemerintahan secara bertahap.

Bank NTT Waibakul Perkuat Akses Pembiayaan dan Evaluasi Digitalisasi Keuangan 65 Desa di Sumba Tengah

Namun, pembukaan kembali fasilitas publik tidak dilakukan dengan mengabaikan kondisi bangunan. Pemeriksaan keamanan terhadap sekolah, kantor, rumah sakit, dan berbagai fasilitas publik terus dilakukan untuk memastikan tempat-tempat tersebut layak digunakan.

Gubernur Melki menegaskan, bangunan yang dinyatakan tidak aman tidak boleh dipaksakan untuk kembali digunakan.

“Kalau kategori merah jangan dipaksa,” kata Gubernur Melki, Jumat (28/8/2026).

Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa keinginan untuk segera kembali ke kehidupan normal harus berjalan beriringan dengan kehati-hatian. Dalam situasi bencana, kecepatan pemulihan tidak boleh mengorbankan keselamatan warga.

Di sektor pendidikan, misalnya, pemerintah menyiapkan sejumlah alternatif agar proses belajar tidak berhenti hanya karena bangunan sekolah belum dapat digunakan. Pembelajaran dapat dilakukan melalui sekolah lapangan maupun ruang belajar sementara, disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.

Sekolah Rakyat di Sumba Tengah Mulai Disiapkan, Pemerintah Tekankan Aspek Lingkungan dan Keselamatan

Bagi anak-anak di wilayah terdampak, keberlanjutan pembelajaran menjadi bagian penting dari proses pemulihan. Sekolah bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang untuk mengembalikan rutinitas dan rasa aman setelah bencana.

Di sisi lain, pemerintah daerah diminta memastikan bantuan menjangkau seluruh warga yang terdampak, termasuk mereka yang berada di wilayah yang sulit dijangkau.

Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma meminta para bupati, camat, lurah, dan kepala desa melakukan pemetaan secara rinci terhadap titik-titik yang belum tersentuh bantuan.

“Petakan betul titik-titik yang sampai saat ini belum tersentuh bantuan agar segera ditindaklanjuti,” ujar Wagub Johni.

Pemetaan tersebut penting agar penanganan tidak berhenti pada wilayah yang mudah dijangkau. Setiap warga yang terdampak harus mendapat perhatian dan bantuan sesuai kebutuhannya.

Delapan Bulan Menunggu, Fransiskus Sales Sodo Besok Dilantik Jadi Sekda NTT

Perpanjangan masa tanggap darurat menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga kesinambungan penanganan bencana sekaligus membuka jalan menuju pemulihan. Bantuan tetap disalurkan, pelayanan dasar dijaga, sementara keamanan bangunan dan fasilitas publik terus diperiksa.

Flores memang belum sepenuhnya kembali seperti sebelum gempa. Masih ada ketidakpastian akibat gempa susulan dan tantangan untuk mengembalikan aktivitas masyarakat. Namun, kehidupan harus perlahan bergerak maju.

Pemulihan tidak harus menunggu semua persoalan selesai sekaligus. Ia dapat dimulai dari hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan warga: memastikan orang sakit mendapat pelayanan, anak-anak kembali belajar, pemerintahan kembali melayani, dan bantuan sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Karena itu, 14 hari tambahan masa tanggap darurat bukan sekadar perpanjangan waktu penanganan. Masa tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat fondasi pemulihan Flores—dengan keselamatan sebagai syarat utama dan masyarakat sebagai pusat perhatian.

Flores masih menghadapi masa sulit. Namun, dari sekolah-sekolah yang mulai disiapkan, layanan publik yang perlahan dibuka, dan bantuan yang terus dikejar hingga ke pelosok, tanda-tanda kebangkitan mulai terlihat.

Flores belum selesai berjuang. Tetapi Flores juga tidak berjalan sendiri.*/llt

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement