G-RDVF5GTVXM
GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Hari Ini NTT Golkar Gubernur NTT Pendidikan
Beranda / Pendidikan / Pdt. Marlin Lomi Temui Gubernur Melki, Sidang Sinode GKS 2026 di Nggongi Diharapkan Berdampak bagi Masyarakat

Pdt. Marlin Lomi Temui Gubernur Melki, Sidang Sinode GKS 2026 di Nggongi Diharapkan Berdampak bagi Masyarakat

Ketua Sinode GKS, Pdt. Marlin Lomi, bersama Sekretaris Umum Sinode GKS, Pdt. Yakub Malo Bili, saat bertemu Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, di Kupang, Kamis (4/6/2026). foto: Foto : Rob Djehatu

WAINGAPU,SELATANINDONESIA.COM โ€” Persiapan pelaksanaan Sidang Sinode ke-44 Gereja Kristen Sumba (GKS) memasuki tahap akhir. Agenda empat tahunan yang akan dibuka pada 2 Juli 2026 di Jemaat Nggongi, Klasis Mahu Karera, Kabupaten Sumba Timur, itu tidak hanya menjadi ruang pengambilan keputusan gerejawi, tetapi juga momentum memperkuat kemitraan gereja dan pemerintah dalam menjawab berbagai persoalan sosial di Nusa Tenggara Timur.

Komitmen tersebut mengemuka dalam audiensi pimpinan Sinode GKS dengan Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, di Kupang, Kamis (4/6/2026). Ketua Sinode GKS, Pdt. Marlin Lomi, bersama Sekretaris Umum Sinode GKS, Pdt. Yakub Malo Bili, menyampaikan perkembangan terakhir persiapan sidang sekaligus mengundang gubernur untuk hadir dan memberikan materi dalam kegiatan tersebut.

Dalam pertemuan itu, Gubernur Melki Laka Lena menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan Sidang Sinode GKS. Ia menilai gereja memiliki kontribusi penting dalam pembangunan masyarakat, terutama dalam penguatan pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, serta pembinaan kehidupan sosial di berbagai wilayah NTT.

Bagi GKS, sidang sinode bukan sekadar forum organisasi. Sidang ini merupakan ruang refleksi bersama untuk mengevaluasi pelayanan gereja sekaligus merumuskan arah kebijakan dan program pelayanan untuk empat tahun mendatang. Karena itu, pelaksanaannya melibatkan perhatian berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah.

Jauh sebelum hari pelaksanaan, persiapan telah dimulai. Pada 17 Mei 2025, panitia Sidang Sinode ke-44 dikukuhkan di Jemaat Nggongi. Pengukuhan tersebut menandai dimulainya kerja besar jemaat dan masyarakat Klasis Mahu Karera sebagai tuan rumah perhelatan gerejawi terbesar di lingkungan GKS.

Bupati Ratu Wulla Tegaskan Pentingnya KIA, Hak Anak Dimulai dari Identitas yang Sah

Acara pengukuhan dihadiri Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, bersama jajaran pemerintah daerah, anggota DPRD, pimpinan Sinode GKS, para camat, kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, tokoh pemuda, serta warga jemaat.

Dalam berbagai kesempatan, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur menegaskan dukungannya terhadap penyelenggaraan sidang tersebut. Dukungan itu kembali ditegaskan dalam rapat persiapan yang berlangsung di Aula Gedung Serba Guna GKS Waingapu pada 5 Februari 2026. Rapat yang dipimpin Bupati Umbu Lili Pekuwali dan dihadiri Wakil Bupati Yonathan Hani itu membahas kesiapan setiap seksi kepanitiaan, mulai dari akomodasi, transportasi, konsumsi, keamanan, hingga pelayanan bagi peserta.

Setiap seksi diminta memastikan seluruh kebutuhan teknis dapat dipenuhi tepat waktu. Pemerintah daerah juga mengoordinasikan dukungan lintas organisasi perangkat daerah agar pelaksanaan sidang berlangsung tertib dan lancar.

Pemilihan Jemaat Nggongi sebagai lokasi penyelenggaraan membawa harapan tersendiri bagi masyarakat setempat. Kehadiran peserta dari berbagai wilayah pelayanan GKS diperkirakan akan menggerakkan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat sekaligus memperkenalkan potensi daerah kepada para tamu yang datang.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi NTT, mulai dari kemiskinan, stunting, kualitas pendidikan, hingga ketahanan sosial masyarakat, Sidang Sinode ke-44 GKS diharapkan tidak hanya menghasilkan keputusan-keputusan internal gereja. Lebih dari itu, forum ini diharapkan melahirkan gagasan dan komitmen bersama untuk memperkuat pelayanan yang berdampak langsung bagi kehidupan masyarakat.

Kantor Imigrasi Segera Hadir di TTU, Warga Tak Perlu Lagi ke Atambua Urus Paspor

Dari Nggongi, gereja hendak meneguhkan kembali panggilannya: hadir bukan hanya di mimbar, tetapi juga di tengah pergumulan nyata umat dan masyarakat. Sebuah pesan yang relevan ketika gereja dan pemerintah terus mencari titik temu untuk membangun Nusa Tenggara Timur yang lebih sejahtera dan bermartabat.*/yustin/llt

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ร— Advertisement
ร— Advertisement