ATAMBUA,SELATANINDONESIA.COM โ Riuh tepuk tangan dan sorak suporter menggema di Stadion Haliwen, Senin (18/5/2026). Di tengah semangat itu, Bupati Belu Cup 2026 resmi dibuka. Namun, turnamen kali ini tidak sekadar menjadi agenda tahunan sepak bola di perbatasan antara RI dan RDTL. Ada mimpi yang sedang disusun lebih besar: menjadikan Belu sebagai salah satu tuan rumah Pekan Olahraga Nasional mendatang.
Ketua PSSI Nusa Tenggara Timur, Petrus Christian Mboeik, menyebut atmosfer sepak bola di Nusa Tenggara Timur telah lama menjadi perhatian nasional. Antusiasme publik yang nyaris selalu memadati stadion dianggap sebagai modal utama daerah itu untuk naik kelas menjadi penyelenggara ajang olahraga nasional.
โKalau bicara gairah sepak bola, NTT punya kekuatan besar. Liga 4 saja bisa penuh stadion. Bahkan saat ETMC di Kupang beberapa tahun lalu, atmosfernya masih dibicarakan sampai sekarang di pusat,โ ujar Christian dalam sambutannya.
Optimisme itu semakin menguat ketika PSSI NTT mulai memetakan lokasi penyelenggaraan sepak bola untuk PON mendatang. Daratan Timor diproyeksikan menjadi pusat pertandingan sepak bola putra, sementara Flores disiapkan untuk sepak bola putri.
Di antara sejumlah stadion yang ditinjau, Stadion Haliwen disebut sebagai venue yang paling mendekati standar. Lapangan dinilai telah memenuhi ukuran resmi, meski masih membutuhkan pembenahan pada sisi tribun dan kapasitas penonton.
โSecara teknis, Stadion Haliwen potensinya sangat besar. Tinggal peningkatan fasilitas pendukung agar sesuai standar pertandingan nasional,โ kata Christian.
Bagi masyarakat Belu, pernyataan itu menjadi angin segar. Selama ini, Atambua dikenal sebagai salah satu daerah dengan kultur sepak bola paling hidup di NTT. Turnamen lokal kerap dipenuhi penonton, bahkan melibatkan klub-klub dari luar daerah hingga Timor Leste.
Sebanyak 32 klub ambil bagian dalam Bupati Belu Cup 2026. Kehadiran tim dari Kabupaten Malaka, Kabupaten Timor Tengah Utara, hingga Timor Leste mempertegas posisi turnamen ini sebagai panggung sepak bola kawasan perbatasan.
Lebih dari sekadar kompetisi, ajang tersebut juga dipandang memiliki dampak ekonomi yang luas. Aktivitas UMKM di sekitar stadion meningkat setiap kali pertandingan berlangsung. Perputaran ekonomi dari sektor kuliner, transportasi, hingga penginapan diyakini akan semakin terasa jika Belu benar-benar dipercaya menjadi tuan rumah PON.
Christian berharap turnamen ini dapat melahirkan talenta-talenta baru dari NTT. Menurut dia, gairah sepak bola yang besar harus diimbangi pembinaan yang berkelanjutan agar pemain-pemain muda daerah mampu bersaing di level nasional.
โNTT tidak boleh hanya dikenal karena fanatisme suporternya, tetapi juga karena kualitas pemainnya,โ ujarnya.
Pembukaan turnamen ditandai dengan tendangan pertama oleh Bupati Belu Wilibrodus Lay bersama Wakil Bupati Timor Tengah Utara dan Ketua PSSI NTT. Di bawah langit sore Atambua, sepak bola kembali menjadi bahasa persaudaraan, sekaligus harapan baru bagi mimpi besar olahraga Nusa Tenggara Timur.*/prokopimbelu/llt













Komentar