KUPANG,SELATANINDONESIA.COM โ Di bawah terik matahari halaman Kantor Wali Kota Kupang, sekelompok pengemudi transportasi daring tampak berlatih menekan dada manekin dengan ritme teratur. Bukan simulasi biasa, pelatihan ini menandai babak baru keterlibatan komunitas dalam penanganan darurat, ketika mitra pengemudi yang sehari-hari mengantar penumpang kini dipersiapkan menjadi penolong pertama dalam situasi krisis.
Program SIAP SIAGA bersama BPBD Kota Kupang dan Grab menggelar Training dan Simulasi Ruang SOP bagi kelompok yang disebut Top Ranger, akronim dari Transportasi Online Peduli Penanganan Bencana Terintegrasi. Inisiatif ini lahir dari kebutuhan mendesak akan respon cepat di menit-menit awal bencana, saat kehadiran petugas resmi kerap terkendala jarak dan waktu.
Bagi Yiyik Putri, Assistant Program Manager pada Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT), langkah ini merupakan terobosan strategis dalam memperkuat kesiapsiagaan berbasis masyarakat. Dalam banyak kasus, kata dia, keselamatan korban sangat ditentukan oleh kecepatan respons pertama di lapangan.
โMelibatkan pengemudi transportasi daring adalah cara cerdas memanfaatkan jaringan yang sudah ada dan aktif selama 24 jam. Mereka sering kali menjadi saksi pertama sebuah kejadian,โ ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima SelatanIndonesia.com.
Namun, kesiapsiagaan, menurut Yiyik, tidak hanya soal kecepatan. Ada dimensi lain yang tak kalah penting: inklusivitas. Kelompok rentan seperti penyandang disabilitas dan lansia, yang kerap terabaikan dalam situasi darurat, perlu menjadi bagian dari sistem yang dibangun.
Hal ini tercermin dari keterlibatan anggota PERTUNI dalam pelatihan tersebut. Mereka tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga bagian dari pendekatan yang lebih luasโmemastikan bahwa prosedur penanganan darurat mampu menjangkau semua lapisan masyarakat.
Team Leader SIAP SIAGA, Lucy Dickinson, menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam menghadapi kompleksitas risiko bencana di wilayah seperti Kupang. Pemerintah, katanya, tidak bisa bekerja sendiri.
โTransportasi daring seperti Grab menunjukkan bahwa sektor swasta dapat menjadi bagian penting dalam skema pentahelix. Ini bukan sekadar dukungan, tetapi kontribusi nyata dalam sistem respon awal,โ ujarnya.
Melalui pelatihan ini, para pengemudi dibekali keterampilan dasar yang krusial. Dari Resusitasi Jantung Paru (RJP) hingga teknik pemindahan korban, setiap sesi dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Dalam kondisi henti napas atau henti jantung mendadak, misalnya, tindakan cepat dalam beberapa menit pertama dapat mencegah kerusakan otak atau bahkan kematian.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Kupang, Ernest S. Ludji, melihat potensi besar dari keterlibatan para pengemudi ini. Mobilitas tinggi dan keberadaan mereka yang tersebar di berbagai titik kota menjadikan mereka aset penting dalam sistem deteksi dini.
โSering kali, mereka yang pertama mengetahui adanya kejadian. Dengan pelatihan ini, mereka tidak hanya melaporkan, tetapi juga dapat melakukan tindakan awal yang tepat,โ kata Ernest.
Simulasi juga mencakup penggunaan aplikasi Lapor Cepat yang terintegrasi dengan sistem BPBD Provinsi NTT. Melalui skema ini, informasi kejadian dapat disampaikan secara real-time, mempercepat koordinasi dan respons antarinstansi.
Meski saat ini baru melibatkan 15 pengemudi, program ini dirancang untuk diperluas secara bertahap. Harapannya, semakin banyak mitra pengemudi yang terlatih, semakin kuat pula jejaring respon cepat berbasis komunitas di Kota Kupang.
Di tengah meningkatnya risiko bencana akibat perubahan iklim dan urbanisasi, pendekatan seperti ini menjadi relevan. Ketangguhan kota tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur dan sistem formal, tetapi juga oleh kesiapan warganyaโtermasuk mereka yang selama ini mungkin tak pernah dibayangkan sebagai bagian dari garis depan penyelamatan.
Pelatihan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kesiapsiagaan Nasional 2026. Lebih dari sekadar seremoni, kegiatan ini menyiratkan satu pesan penting: dalam situasi darurat, setiap detik berarti, dan setiap orang bisa menjadi penolong pertama.*/llt
Tentang SIAP SIAGA
Program SIAP SIAGA adalah Program Kemitraan Pemerintah Australia dan Pemerintah Indonesia untuk Manajemen Risiko Bencana. Tujuan Program SIAP SIAGA adalah memperkuat manajemen risiko bencana di Indonesia, mendukung keterlibatan antara Australia dan Indonesia dalam penanggulangan bencana di Kawasan Indo-Pasifik. Program ini dilaksanakan di tingkat nasional dan sub-nasional (4 provinsi) dimana Provinsi NTT merupakan salah satu lokasi kerja program SIAP SIAGA.
Untuk Informasi lebih lanjut, hubungi:
Silvia Fanggidae, SIAP SIAGA NTT Area Manager
Telp: +62 811-3827-878
Matheos Messakh, SIAP SIAGA NTT Communication Officer
Telp: +62 813-3927-2155













Komentar