Tangis Sunyi dari Ngada: Negara Diminta Hadir Usai Bocah SD Akhiri Hidupnya
BAJAWA,SELATANINDONESIA.COM — Pohon cengkeh itu kini menjadi saksi bisu duka yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Di sanalah YBS, bocah kelas IV sekolah dasar berusia 10 tahun, ditemukan tak bernyawa. Kepergiannya menyisakan luka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi warga Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.
Dilansir dari Liputan6, YBS dikenal sebagai anak yang pendiam, baik, dan rajin belajar. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia tetap memelihara harapan sederhana: bersekolah dengan layak, memiliki buku dan pensil seperti teman-temannya. Harapan itu kandas ketika permintaannya tak dapat dipenuhi sang ibu karena ketiadaan uang.
Tragedi ini menyentuh perhatian wakil rakyat. Anggota Komisi XIII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, dari Dapil NTT 2, Umbu Rudi Kabunang, menyampaikan santunan duka kepada keluarga korban sebagai wujud empati dan tanggung jawab moral. Santunan tersebut disalurkan melalui Ketua Depicab SOKSI Kabupaten Ngada, Alexander Songkares.
Lebih dari sekadar bantuan, Umbu Rudi menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban atas kelalaian negara dalam melindungi anak-anak dari jerat kemiskinan dan keterabaian sosial. ”Terus terang, kami juga ikut merasa bersalah dan meminta maaf atas peristiwa ini, karena kami tidak mendapatkan informasi sejak dini. Kedepan, nomor kontak kami tertera disini, silahkan kontak kami.; 081325586253 dan 081353685869,” sebut Umbu Rudi Kabunang.
“Kami sangat prihatin. Atas nama kemanusiaan, kami memohon maaf kepada keluarga. Peristiwa ini harus menjadi cermin bagi kita semua terutama teman-teman pemerintah, dari pusat hingga desa, agar lebih peka dan hadir dalam kehidupan masyarakat, terutama anak-anak dari keluarga kurang mampu,” ujar Umbu Rudi.
YBS hidup dalam sunyi yang panjang. Ayahnya telah meninggal sebelum ia lahir. Sehari-hari, ia tinggal bersama neneknya yang telah berusia 80 tahun di sebuah pondok kebun, demi jarak yang lebih dekat ke sekolah. Kasih sayang ibunya terbatas oleh jarak dan himpitan hidup, sementara kebutuhan sekolah kerap tak terpenuhi.
Sehari sebelum ditemukan meninggal, YBS sempat menginap di rumah ibunya. Pagi harinya, ia diantar kembali ke pondok neneknya. Ia tak berangkat sekolah. Warga sempat melihatnya duduk diam, menulis sesuatu di buku. Tak ada yang menyangka, itulah pesan perpisahan terakhirnya.
Sepucuk surat dengan tulisan tangan sederhana ditemukan aparat kepolisian. Ditulis dalam bahasa daerah, isinya begitu lirih: permohonan agar sang ibu tak menangis dan merelakan kepergiannya. Surat itu kini menjadi pengingat pahit betapa rapuhnya jiwa seorang anak ketika beban hidup terasa terlalu berat.
Peristiwa ini kembali membuka mata publik tentang wajah kemiskinan struktural dan minimnya perlindungan sosial bagi anak-anak di daerah terpencil. Tragedi YBS bukan sekadar kisah duka sebuah keluarga, melainkan alarm keras bagi negara untuk lebih hadir, lebih peduli, dan lebih manusiawi.
Di Ngada, tangis itu mungkin telah reda. Namun pertanyaan besarnya masih menggantung: sudahkah kita cukup mendengar suara anak-anak yang hidup dalam sunyi?*/llt












Komentar