GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Hari Ini NTT Daerah Ekonomi Golkar Gubernur NTT Pendidikan
Beranda / Pendidikan / Dari Retret ke Aksi: Melki Laka Lena dan Alumni PMKRI Menenun Kemandirian NTT

Dari Retret ke Aksi: Melki Laka Lena dan Alumni PMKRI Menenun Kemandirian NTT

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena bersama peserta retret Forkoma PMKRI Regio Timur di Susteran SSPS Belo, Kota Kupang, Sabtu (13/12/2025). Foto: Igo

KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Di Aula Biara Susteran SSPS Bello, Kupang, retret Forkoma PMKRI Regio Timur Sabtu (13/12/2025) bukan sekadar ajang doa dan refleksi. Di hadapan para alumni, Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan satu kenyataan keras: NTT terlalu lama menjadi konsumen, terlalu sedikit memproduksi. Kini saatnya alumni PMKRI yang tersebar di berbagai sektor dan wilayah turun tangan, membangun ekonomi lokal yang mandiri dan berdaya saing, dari desa ke desa, dari UMKM ke pasar yang lebih luas.

Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena mengajak alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) untuk mengambil peran nyata dalam membangun ekonomi daerah yang lebih mandiri dan berdaya tahan. Seruan itu disampaikannya saat menghadiri Retret Forum Komunikasi Alumni PMKRI (Forkoma PMKRI) Regio Timur di Aula Biara Susteran SSPS Bello, Kupang, Sabtu (13/12/2025).

Bagi Gubernur Melki, kehadiran di forum tersebut bukan sekadar agenda kedinasan. Ia datang sebagai alumni PMKRI, bagian dari keluarga besar organisasi kader Katolik yang dibentuk oleh nilai Kristianitas, Intelektualitas, dan Fraternitas.

“Retret ini menjadi ruang refleksi bersama. Bukan hanya soal organisasi, tetapi tentang bagaimana alumni PMKRI ikut menjawab tantangan gereja, masyarakat, dan masa depan pembangunan NTT,” kata Gubernur Melki di hadapan peserta retret yang mengusung tema Mari Kita Mulai Lagi untuk Berbagi.

Dalam forum itu, Gubernur Melki secara terbuka memaparkan persoalan mendasar ekonomi NTT. Ketergantungan tinggi terhadap pasokan barang dari luar daerah, menurut dia, telah menempatkan NTT dalam situasi yang tidak menguntungkan. Data menunjukkan, defisit perdagangan NTT mencapai sekitar Rp 51 triliun per tahun.

Dukung PON 2028, Dr. Umbu Rudi Kabunang Dorong Pembangunan Arena Pacuan Kuda Nasional di Sumba Barat Daya

“Ini angka yang tidak sehat bagi sebuah provinsi. Kita terlalu banyak mengonsumsi, tetapi terlalu sedikit memproduksi,” ujarnya.

Ia menilai, selama bertahun-tahun struktur ekonomi NTT terjebak pada pola konsumtif. Akibatnya, nilai tambah ekonomi justru mengalir keluar daerah, sementara masyarakat lokal tetap rentan secara ekonomi.

Itu pasalnya, Gubernur Melki menekankan perlunya perubahan arah pembangunan dengan menjadikan potensi lokal sebagai basis utama pertumbuhan. Pertanian, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), industri kecil menengah, serta pengolahan hasil produksi lokal harus menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

Pemerintah Provinsi NTT, kata dia, mendorong pendekatan One Community One Product dan One Village One Product. Melalui skema ini, setiap desa dan kelurahan diharapkan memiliki produk unggulan yang mampu menggerakkan ekonomi lokal dan membuka lapangan kerja.

Selain mendorong produksi, pemerintah juga menyiapkan afirmasi pasar. Produk lokal akan diprioritaskan dalam belanja pemerintah daerah dan aparatur sipil negara (ASN). Di sisi lain, akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) akan diperluas, dengan penekanan pada pendampingan UMKM secara serius dan berkelanjutan.

Derap Tradisi di Tanah Sumba: Pacuan Kuda Non Pelana Menuju PON XXII

Namun, Gubernur Melki menegaskan, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Di sinilah peran alumni PMKRI menjadi penting.

“Alumni PMKRI tersebar di berbagai sektor dan wilayah. Ini adalah kekuatan sosial yang besar. Kalau digerakkan secara kolektif, dampaknya akan sangat signifikan,” katanya.

Ia mengajak para alumni untuk memulai dari langkah-langkah kecil tetapi konkret, baik sebagai pendamping UMKM, penggerak komunitas, maupun penghubung jejaring pasar.

“NTT yang mandiri dan berdaya saing tidak lahir dari wacana besar semata, tetapi dari kerja bersama yang konsisten,” ujar Gubernur Melki.

Ketua DPD Forkoma PMKRI NTT, Aloysius Min mengatakan, retret ini mengingatkan siapa kita, dari mana kita berangkat, dan untuk apa kita dipanggil. ”Dengan saling berbagi pengalaman dan tanggung jawab, alumni dapat kembali memainkan peran strategis bagi masyarakat dan daerah,” ujarnya.

Ketika Kredit Macet Menyeret Nama Baru

Ia menegaskan bahwa tiga nilai dasar PMKRI yaitu kristianitas, fraternitas, dan intelektualitas menjadi titik berangkat refleksi. Karena itu, retret dirancang tidak sekadar sebagai forum ceramah, melainkan ruang dialog partisipatif.*/Igo/Laurens Leba Tukan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement