WAIBAKUL,SELATANINDONESIA.COM — Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah memilih jalan berbeda dalam upaya menurunkan angka kemiskinan. Alih-alih bergantung pada bantuan sosial yang bersifat konsumtif, daerah ini mendorong warganya bangkit melalui pekarangan rumah. Program itu diberi nama Pekarangan Pro Oli Mila (PK POM) Model.
Bupati Sumba Tengah Paulus S.K. Limu menegaskan, PK POM bukanlah program bantuan sosial seperti bantuan langsung tunai atau program keluarga harapan. Program ini dirancang sebagai gerakan pemberdayaan yang menempatkan keluarga miskin sebagai subjek pembangunan.
“PK POM bukan BLT dan bukan PKH. Ini gerakan perubahan. Kita ingin keluarga miskin memproduksi sendiri pangan dan penghasilan dari pekarangan mereka,” ujar Bupati Paulus Limu saat ditemui di Waibakul, Sumba Tengah.
Melalui PK POM, pemerintah daerah mendorong pemanfaatan pekarangan rumah sebagai sumber pangan bergizi sekaligus sumber pendapatan. Setiap keluarga penerima manfaat dibekali ternak kambing, bebek, kolam ikan beserta benih lele, serta lahan hortikultura sekitar dua are untuk menanam sayur dan buah-buahan. Program ini juga dilengkapi pelatihan keterampilan agar hasil produksi bisa diolah dan bernilai tambah.
Menurut Bupati Paulus, pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan kondisi sosial masyarakat Sumba Tengah yang sebagian besar tidak memiliki sawah atau kebun luas, tetapi masih memiliki pekarangan yang belum produktif.
“Kalau pekarangan hidup, dapur hidup. Kalau dapur hidup, keluarga kuat. Dari situlah kemiskinan kita tekan,” katanya.
PK POM Model mulai diterapkan sebagai proyek percontohan pada 2025 di sejumlah desa. Sasaran utama program ini adalah rumah tangga miskin kategori desil 1–3, yakni kelompok dengan tingkat pendapatan paling rendah. Pemerintah daerah menargetkan, dalam periode 2026–2030, program ini akan diperluas hingga menjangkau ribuan keluarga miskin.
PK POM PLUS dan Gerakan Sejuta Menanam
Sebagai penguatan, Pemkab Sumba Tengah mengembangkan PK POM menjadi PK POM PLUS, yang memuat program strategis jangka menengah bertajuk Gerakan Sejuta Menanam Kopi Robusta. Program ini dirancang untuk periode 2025–2030 dengan target penanaman 250.000 hingga 300.000 anakan kopi Robusta.
Bupati Paulus menilai kopi Robusta memiliki potensi besar untuk menjadi komoditas unggulan daerah sekaligus penggerak ekonomi rakyat.
“Kami ingin Sumba Tengah tidak hanya dikenal sebagai daerah peternakan, tetapi juga sebagai Kabupaten Robusta. Ini investasi jangka panjang untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Pada tahap awal, pembenihan 50.000 anakan kopi Robusta dijadwalkan berlangsung pada Januari 2026. Menariknya, kegiatan ini dilakukan di luar pendanaan APBD dengan mengandalkan gotong royong relawan dan masyarakat. Bibit tersebut ditargetkan siap tanam pada November hingga Desember 2026.
Masyarakat yang terlibat diminta mulai menyiapkan lahan serta menanam tanaman pelindung sejak dini. Pemerintah daerah berkomitmen memberikan pendampingan teknis secara berkelanjutan hingga tahap pascapanen.
Membangun dari Halaman Rumah
Bagi Bupati Paulus, PK POM dan PK POM PLUS bukan sekadar program teknis, melainkan arah baru pembangunan daerah yang bertumpu pada kemandirian, kerja keras, dan partisipasi warga.
“Kita ingin masyarakat tidak menunggu bantuan, tetapi membangun masa depan dari rumah mereka sendiri,” katanya.
Dengan memadukan ketahanan pangan, ekonomi produktif, dan gotong royong, Sumba Tengah berharap dapat menata jalan keluar dari kemiskinan secara lebih berkelanjutan—dimulai dari pekarangan, menuju kesejahteraan bersama.*/laurens leba tukan












Komentar