KUPANG,SELATANINDONESIA.COM โ Dari wilayah yang kerap disebut sebagai โpinggiranโ dalam peta pendidikan tinggi nasional, Pascasarjana Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang justru merajut sebuah gagasan besar: membangun teologi dan pendidikan agama Kristen yang berpijak kuat pada konteks, tetapi tetap berdialog dengan dunia.
Di tengah perubahan sosial yang cepat, mulai dari isu kemiskinan struktural, kerentanan ekologi, hingga relasi antaragama yang semakin kompleks, kebutuhan akan pemimpin gereja dan pendidik yang tidak hanya saleh secara personal, tetapi juga cakap membaca realitas sosial, kian mendesak. Di titik inilah Pascasarjana IAKN Kupang memosisikan diri.
Direktur Pascasarjana IAKN Kupang, Dr. Ezra Tari, M.Th, Rabu (11/2/2026), menegaskan bahwa lembaganya tidak ingin terjebak pada pendidikan teologi yang ahistoris dan terlepas dari denyut kehidupan masyarakat.
โProgram kami dirancang untuk mengintegrasikan iman, ilmu, dan praksis secara utuh. Teologi dan pendidikan agama Kristen tidak boleh berhenti di ruang kelas, tetapi harus hadir dalam pergulatan nyata umat,โ ujarnya.
Pada jenjang Magister Pendidikan Agama Kristen (S2), pendekatan yang dikembangkan adalah PAK Integratif. Pendidikan Agama Kristen dipahami bukan sekadar transmisi doktrin, melainkan ruang dialog antara teologi dengan ilmu pendidikan, psikologi, sosiologi, dan antropologi. Konteks lokal Nusa Tenggara Timur dengan keragaman budaya dan tantangan sosialnya menjadi laboratorium hidup bagi proses pembelajaran.
Selama dua tahun studi (54 SKS), mahasiswa tidak hanya dibekali penguatan teori dan metodologi riset, tetapi juga didorong membangun sensitivitas sosial dan kedewasaan spiritual. Lulusan diharapkan menjadi pendidik yang reflektif sekaligus transformatif mampu menjembatani iman dengan realitas keseharian peserta didik.
Sementara itu, pada Program Studi Doktor Teologi (S3), keberanian intelektual menjadi kata kunci. Melalui pendekatan Teologi Interseksional, mahasiswa diajak membaca teologi dalam persinggungannya dengan isu keadilan sosial, gender, kemiskinan, krisis ekologi, hingga dinamika relasi antaragama.
Pendekatan ini menolak pemahaman teologi yang sempit dan terkurung pada perdebatan internal gereja. Sebaliknya, teologi didorong menjadi refleksi kritis yang berpihak pada kemanusiaan dan terbuka pada dialog lintas disiplin.
Program doktor yang ditempuh selama tiga tahun (58 SKS) itu dirancang untuk melahirkan disertasi-disertasi orisinal yang tidak hanya memperkaya khazanah akademik, tetapi juga memberi dampak nyata bagi gereja dan masyarakat.
Upaya tersebut ditopang oleh jajaran dosen dengan latar belakang keilmuan yang beragam. Sejumlah nama seperti Prof. Dr. Daniel Ronda, Th.M, Prof. Dr. Zainur Wula, Dr. I Made Suardana, Maya Djawa, Ph.D, hingga Liliya F.K. Wetangterah, Ph.D, memperlihatkan jejaring akademik yang melampaui batas lokal. Mereka aktif dalam riset, publikasi, pelayanan gereja, dan pengabdian masyarakat.
Di tengah arus globalisasi dan tantangan disrupsi, Pascasarjana IAKN Kupang menegaskan bahwa kualitas tidak selalu lahir dari pusat. Dari Timur Indonesia, institusi ini berupaya membangun tradisi akademik yang memadukan kedalaman spiritual, ketajaman analisis, dan keberpihakan pada persoalan riil masyarakat.
Jika konsisten dikembangkan, pendekatan integratif dan interseksional yang ditawarkan bukan hanya akan memperkaya pendidikan teologi di Nusa Tenggara Timur, tetapi juga memberi warna baru bagi lanskap teologi Indonesia yang lebih kontekstual, kritis, dan relevan dengan zamannya.*/llt












Komentar