GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita Hari Ini NTT Ekonomi Sumba Tengah
Beranda / Berita Hari Ini NTT / Sumba Tengah / Ketika Kopi Tumbuh di Pekarangan, Asa Bersemi di Sumba Tengah

Ketika Kopi Tumbuh di Pekarangan, Asa Bersemi di Sumba Tengah

Wakil Bupati Sumba Tengah, M. Umbu Djoka bersama sejumlah pimpinan OPD ketika menanam anakan kopi di Kabupaten Sumba Tengah, Senin (2/2/2026). Foto: ProkopimSTeng

Dorong Kopi Robusta dari Pekarangan, Wakil Bupati Sumba Tengah Tanam Bibit di Dua Desa

WAIBAKUL,SELATANINDONESIA.COM — Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah terus mendorong pengembangan kopi robusta sebagai komoditas unggulan berbasis masyarakat. Upaya itu ditunjukkan melalui penanaman anakan kopi robusta yang dilakukan Wakil Bupati Sumba Tengah, M. Umbu Djoka, di dua desa berbeda, Senin (2/2/2026).

Penanaman dilakukan di Desa Okawacu, Kecamatan Katiku Tana Selatan, bersama Kelompok Tani Setia Tani, serta di Desa Cendana Barat, Kecamatan Mamboro, bersama Gapoktan Waimaringu. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk memperkuat ekonomi rakyat melalui pemanfaatan lahan pekarangan dan lahan tidur yang masih luas.

Di Desa Okawacu, kopi bukanlah tanaman baru. Ketua Kelompok Tani Setia Tani menyampaikan bahwa kelompok tersebut telah mengembangkan kopi sejak berdiri pada 12 Juni 2014. Hasilnya mulai dirasakan secara nyata. Pada 2025, produksi kopi mereka mencapai 67 karung, yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga hingga membiayai pendidikan anak-anak anggota kelompok.

“Kopi sudah membantu ekonomi rumah tangga kami. Harapannya, ke depan ada dukungan alat pascapanen agar nilai jualnya bisa lebih tinggi,” ujarnya.

Ketika Asta Cita Presiden Bersemi di Lahan Pertanian Rutan Kupang

Wakil Bupati Sumba Tengah dalam sambutannya menekankan pentingnya pendekatan pekarangan dalam pengembangan kopi. Menurutnya, kopi tidak harus selalu dikembangkan di kebun luas, tetapi bisa ditanam di sekitar rumah yang memiliki naungan alami sehingga lebih mudah dirawat.

“Kalau kopi ditanam di pekarangan, masyarakat bisa merawat setiap hari. Ini cara sederhana, tetapi dampaknya besar,” kata Umbu Djoka. Ia juga berpesan agar 1.000 anakan kopi yang dibagikan benar-benar ditanam dan dirawat dengan baik.

Sementara itu, di Desa Cendana Barat, potensi pengembangan kopi masih terbuka lebar. Ketua Gapoktan Waimaringu menyebut masih banyak lahan kosong yang siap dimanfaatkan untuk perkebunan kopi. Gapoktan bahkan telah menyatakan komitmen menyiapkan lahan pada Juli mendatang untuk mendukung masa tanam tahun 2027.

Umbu Djoka menyambut baik antusiasme tersebut. Ia mengapresiasi kelompok tani karena seluruh anakan kopi yang dibagikan langsung terserap. Namun, ia mengingatkan pentingnya peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk memastikan bibit yang telah dibagikan benar-benar ditanam dan dipelihara dengan baik.

Ke depan, Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah berencana mengembangkan persemaian bibit kopi di balai persemaian daerah guna menjawab tingginya permintaan masyarakat. Selain produksi, pemerintah daerah juga mulai mendorong pemikiran ke arah pemasaran kopi yang lebih luas, termasuk peluang menembus pasar di luar Pulau Sumba.

Riung Tak Lagi Sendiri di Ujung Peta: Warga Apresiasi Perhatian Gubernur NTT terhadap Jalan Provinsi dan RS Pratama

“Kita tidak hanya menanam, tetapi harus mulai berpikir bagaimana kopi Sumba Tengah dikenal dan bernilai di pasar yang lebih luas,” ujar Umbu Djoka.

Dengan langkah bertahap tersebut, Pemerintah Kabupaten Sumba Tengah berharap kopi robusta tidak hanya menjadi tanaman pekarangan, tetapi juga menjadi identitas dan sumber kesejahteraan baru bagi masyarakat setempat.*/ProkopimSTeng/llt

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement