BAJAWA,SELATANINDONESIA.COM โ Pagi belum sepenuhnya meninggalkan Kota Bajawa ketika Alexander Yohanes Songkares memacu sepeda motornya menuju Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada. Perjalanan darat sekitar dua jam itu bukan sekadar lintasan geografis, melainkan perjalanan kemanusiaan untuk menemui keluarga Yohanes Bastian Roja, siswa kelas IV sekolah dasar yang meninggal dunia dan meninggalkan duka mendalam bagi warga setempat.
Melintasi Kampung Adat Bena hingga kawasan Ari Banas Nage, rombongan tiba di rumah duka sekitar pukul 10.40 WITA. Sejumlah pihak telah lebih dahulu hadir, mulai dari Wakapolres Ngada beserta jajaran, perwakilan Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada, Wakil Ketua DPRD Ngada, hingga aparat desa dan kecamatan.
Alexander Yohanes Songkares yang juga Ketua Depicab SOKSI Ngada dan Sekretaris Fraksi Golkar DPRD Ngada, datang membawa santunan kemanusiaan yang dititipkan oleh Umbu Rudi Kabunang, Ketua SOKSI Nusa Tenggara Timur sekaligus anggota DPR RI Fraksi Golkar. Bantuan tersebut juga berasal dari Anggota Fraksi Golkar DPRD Ngada serta DPD II Partai Golkar Ngada.
Santunan diserahkan kepada Maria Goreti Tea, ibunda almarhum, disaksikan oma almarhum dan sejumlah pengurus Partai Golkar setempat. Dalam suasana duka yang hening, Songkares menyampaikan pesan belasungkawa dan keprihatinan Umbu Rudi Kabunang atas peristiwa yang menimpa keluarga.
Ia juga menyampaikan komitmen bahwa Umbu Rudi Kabunang, dalam kapasitasnya sebagai wakil rakyat di Senayan, siap memberikan bantuan apabila di kemudian hari keluarga membutuhkan pendampingan.
โIbu Maria Goreti Tea menyampaikan terima kasih atas perhatian dan kepedulian yang diberikan. Ia mengatakan akan mengingat kebaikan ini dalam doa,โ tutur Songkares.
Usai dari rumah duka, Songkares menyempatkan diri mengunjungi tempat kejadian perkara yang berjarak sekitar dua kilometer, serta sekolah tempat almarhum menimba ilmu. Dari keterangan pihak sekolah, Yohanes Bastian Roja dikenal sebagai anak yang penurut dan berprestasi. Di kelas dengan delapan siswa, ia kerap menempati peringkat satu atau dua.
Almarhum juga sempat terdaftar sebagai penerima Program Indonesia Pintar (PIP). Namun, bantuan tersebut tidak dapat dicairkan karena persoalan administrasi kependudukan. KTP ibunda almarhum masih tercatat sebagai warga Kabupaten Nagekeo. Berbagai upaya sempat dilakukan perangkat desa, termasuk menitipkan nama almarhum dalam kartu keluarga tetangga, agar hak atas bantuan pendidikan tetap dapat diakses.
Seiring berjalannya waktu, berbagai cerita berkembang di tengah masyarakat mengenai peristiwa ini. Namun, satu benang merah kerap muncul, yakni kerentanan ekonomi keluarga yang membatasi akses terhadap layanan dasar.
Ketua SOKSI NTT yang juga Anggota Fraksi Golkar DPR RI, Dr. Umbu Rudi Kabunang yang dihubungi mengatakan, peristiwa duka itu merupakan tragedi kemanusiaan yang terjadi di depan mata kita. โSaya mengajak semua kita terutama jajaran pemerintah di Kabupaten sampai ke tingkat paling bawah, ayo sama-sama kita laksanakan tanggungjawab kemanusiaan kita untuk lebih memperhatikan sesama kita dalam kehidupan sehari-hari sehingga tragedi serupa jangan sampai terulang lagi. Saya sebagai anggota DPR RI menyampaikan duka yang sedalam-dalamnya,โ sebut Umbu Rudi Kabunang.
Duka keluarga Yohanes Bastian Roja kini menjadi duka bersama. Empati mengalir dari berbagai lapisan masyarakat. Warga, tokoh, dan institusi datang silih berganti ke rumah duka, membawa bantuan sebagai penanda bahwa tragedi ini tidak dipikul sendirian.
Menjelang siang, rombongan meninggalkan Naruwolo dan kembali ke Bajawa. Perjalanan pulang itu meninggalkan satu catatan sunyi: tentang seorang anak dengan prestasi, tentang keluarga yang berjuang dalam keterbatasan, dan tentang panggilan kemanusiaan yang terus bergema dari pelosok.*/llt












Komentar