WAINGAPU,SELATANINDONESIA.COM – Waingapu sore itu, Rabu (20/8/2025) riuh. Ribuan pasang mata menatap tegang lintasan pacuan kuda di Lapangan Prailiu, Sumba Timur. Sorak-sorai bercampur derap kaki ratusan kuda yang berlari kencang, menyibak debu tanah kering. Inilah Pacuan Kuda Humba Cup Seri II Tahun 2025, ajang yang bukan sekadar lomba adu cepat, melainkan pesta rakyat sekaligus peneguhan identitas budaya orang Sumba.
Bupati Sumba Timur, Umbu Lili Pekuwali, resmi membuka lomba. Ia berdiri di tribun kehormatan, diapit jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, Ketua Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama Waingapu, serta sejumlah pejabat daerah. Dengan suara lantang, Umbu Lili mengingatkan hadirin bahwa pacuan kuda bukan hanya hiburan tahunan, melainkan bagian dari warisan yang mesti dirawat.
“Pacuan kuda adalah bagian dari jati diri kita. Melaluinya, kita merawat kebersamaan dan merayakan kemerdekaan dengan cara yang khas Sumba,” ujarnya, disambut tepuk tangan meriah penonton.
Tahun ini, panitia mencatat rekor jumlah peserta: 726 ekor kuda ambil bagian. Mereka terbagi ke dalam tiga kategori diantaranya kelas Pemula, Remaja, dan Dewasa. Bagi masyarakat Sumba, kuda bukan hanya hewan ternak atau alat transportasi tradisional. Ia adalah simbol status sosial, sahabat dalam ritual adat, hingga ikon budaya yang menyeberangi zaman.
Setiap kali Humba Cup digelar, Waingapu menjelma arena pertemuan besar. Para pemilik kuda dari berbagai penjuru Sumba berkumpul, memamerkan kuda andalan mereka. Tak jarang, transaksi jual beli kuda juga berlangsung di sela-sela lomba. Ekonomi rakyat ikut berdenyut: pedagang kaki lima, penjual kain tenun, hingga pengusaha lokal merasakan berkah pesta pacuan ini.
Selain itu, pacuan kuda sudah menjadi “panggung” bagi generasi muda Sumba untuk menunjukkan bakat dan keberanian. Anak-anak remaja yang masih belia didapuk jadi joki. Dengan tubuh ringan, mereka melesat di atas kuda tanpa pelana, hanya berbekal ikatan kendali sederhana. Adegan itu kerap membuat wisatawan mancanegara terperangah sekaligus khawatir—tapi di mata masyarakat Sumba, keberanian itulah bagian dari proses menjadi orang Humba sejati.
Pacuan Kuda Humba Cup Seri II akan berlangsung beberapa hari ke depan, menjadi rangkaian utama perayaan HUT ke-80 Kemerdekaan RI di Sumba Timur. Jika Jakarta merayakan kemerdekaan dengan upacara megah di Istana, maka Sumba Timur memilih caranya sendiri: lewat derap kuda di padang sabana.*/ProtklST/Laurens Leba Tukan
Komentar