KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Di serambi Rumah Jabatan Gubernur NTT, Senin malam (25/8/2025), suasana terasa cair. Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTT, Agus Sityo Widajajati, duduk berdampingan dengan calon penggantinya, Adi Doyo, dan Deputi Kepala Perwakilan yang baru, Rio Khasananda. Kehadiran mereka tak hanya menandai kunjungan perpisahan, tapi juga peralihan estafet kepemimpinan di lembaga bank sentral daerah yang selama dua tahun terakhir begitu dekat dengan denyut ekonomi NTT.
Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena menyambut mereka dengan gestur simbolis: sehelai kain tenun Timor yang disampirkan di bahu. “Sudah dipeluk dengan kain Timor NTT, sudah menjadi orang Timor,” katanya. Lebih dari sekadar cenderamata, tenun itu jadi tanda penerimaan, sekaligus pesan agar kepemimpinan baru tetap berpijak pada tradisi membumi yang telah dirintis Agus.
Dari Elitis ke Rakyat
Sejak awal 2024, Agus dikenal menggeser wajah BI NTT dari lembaga yang dianggap elitis menjadi institusi yang hadir di tengah rakyat. Dari penguatan UMKM, pengawasan harga pangan, hingga dukungan terhadap sektor pertanian dan peternakan, kiprahnya membuat BI tak lagi dipersepsikan sekadar “mencetak uang”, tetapi ikut memastikan uang itu menggerakkan ekonomi rakyat.
“BI tidak hanya mencetak uang, tapi memastikan uang itu sampai ke tangan rakyat,” ujar Gubernur Melki.
Estafet yang Sarat Harapan
Kini, tongkat komando beralih ke Adi Doyo. Bagi Gubernur, transisi ini bukan sekadar perubahan jabatan, tapi kesinambungan strategi. “Apa yang sudah dikerjakan dengan baik oleh Pak Agus tentu akan kita teruskan dan kita tingkatkan,” tegasnya.
Agus sendiri menutup masa tugasnya dengan nada optimis. “Saya yakin kerja sama yang baik dengan Pemprov, Forkopimda, dan masyarakat akan semakin kokoh di bawah Pak Adi,” katanya.
Lebih dari Seremoni
Hadirnya jajaran kepala dinas provinsi dalam audiensi malam itu mulai dari sektor perikanan, pertanian, peternakan hingga perdagangan menunjukkan bahwa BI di NTT telah menjadi simpul penting pembangunan lintas sektor. Peralihan kepemimpinan ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan sebuah momentum untuk menjaga ritme kerja sama agar tidak putus di tengah jalan.
Dalam politik simbol, kain tenun Timor yang disampirkan di bahu Adi dan Rio bisa dibaca sebagai pesan: BI bukan lagi menara gading, melainkan bagian dari rumah besar masyarakat NTT.*/Oan Wutun/Laurens Leba Tukan
Komentar