Dari Dokter Spesialis hingga Garam Rote, Dua Agenda Penting Paulus Henuk di Jakarta
JAKARTA,SELATANINDONESIA.COM – Rabu pagi (27/8/2025), Bupati Rote Ndao Paulus Henuk duduk di antara para kepala daerah, akademisi, hingga pejabat tinggi negara di sebuah forum internasional yang membicarakan masa depan pendidikan kedokteran di Indonesia. Konferensi bertajuk International Conference on Advancing Postgraduate Medical Education itu mengusung tema “Aligning Standards, Strengthening Systems, Empowering Future Specialists.”
Hadir Menko PMK Pratikno, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, hingga Presiden & CEO ACGME International James Arrighi, juga Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena. Mereka satu suara: pelayanan kesehatan Indonesia tak bisa hanya bertumpu pada infrastruktur dan obat-obatan, melainkan pada ketersediaan dokter spesialis yang saat ini jumlahnya masih timpang.
Data yang dipaparkan memperlihatkan jurang kebutuhan: Indonesia baru memiliki 49.670 dokter spesialis, sementara standar Bappenas menargetkan 0,28 per 1.000 penduduk—setara dengan kebutuhan 78.849 orang. Kekurangan lebih dari 29 ribu dokter spesialis itu makin terasa karena distribusinya tak merata: enam dari sepuluh dokter spesialis terkonsentrasi di Jawa.
Kementerian Kesehatan pun tengah menyiapkan Master Plan Pendidikan Dokter Spesialis Berbasis Rumah Sakit Pendidikan. Targetnya, mempercepat dan memperluas jumlah dokter spesialis dengan standar internasional. “Harapannya, semua rakyat Indonesia, dari kota besar sampai pulau terluar, mendapat layanan kesehatan yang setara,” kata Budi Gunadi dalam pemaparannya.
Bagi Bupati Paulus Henuk, isu pemerataan ini amat relevan bagi Rote Ndao, kabupaten kepulauan di ujung selatan Indonesia yang masih sering menghadapi kesenjangan tenaga medis.
Namun agenda Bupati Paulus di Jakarta hari itu tak berhenti di bidang kesehatan. Usai konferensi, ia melangkah ke pertemuan bersama Dirjen Pengelolaan Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Koswara. Di sana, Bupati Paulus menandatangani Berita Acara Kesepakatan Pemanfaatan Lahan untuk pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional di Rote Ndao.
Penandatanganan ini menandai babak baru ekonomi lokal. Rote, yang dikenal dengan tradisi dan potensi garamnya, akan mendapat dukungan penuh pemerintah pusat untuk mengembangkan sentra industri. “Ini bukan hanya soal produktivitas, tetapi juga nilai tambah, lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat di Nusa Fua Funi,” ujar Paulus.
Dalam satu hari, agenda Paulus merangkai dua urusan strategis: kesehatan dan ekonomi. Dari ketersediaan dokter spesialis hingga garam yang berstandar industri, keduanya bermuara pada satu hal: membuka akses dan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat di daerah paling selatan Indonesia.*/Laurens Leba Tukan
Komentar