KUPANG,SELATANINDONESIA.COM – Suasana Aula Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kupang, Rabu (11/2/2026), tampak berbeda dari biasanya. Ratusan warga binaan duduk menyimak paparan tentang tuberkulosis (TBC), penyakit menular yang masih menjadi persoalan kesehatan serius di Indonesia. Di hadapan mereka, mahasiswa Jurusan Keperawatan Universitas Citra Bangsa (UCB) Kupang bergantian menjelaskan bahaya, gejala, hingga pentingnya pengobatan tuntas bagi penderita TBC.
Edukasi ini menjadi langkah preventif di tengah kondisi lapas yang identik dengan hunian padat, situasi yang rentan mempercepat penularan penyakit berbasis droplet seperti TBC. Penyuluhan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya deteksi dini dan kepatuhan berobat.
Pemateri pertama, Haleluya Lado Hado, menguraikan bahwa TBC bukan sekadar batuk biasa. Gejala seperti batuk lebih dari dua minggu, demam berkepanjangan, keringat malam, hingga penurunan berat badan harus diwaspadai. Penularannya terjadi melalui percikan dahak saat penderita batuk atau bersin.
โMenjaga kebersihan, menerapkan etika batuk, dan segera memeriksakan diri ketika muncul gejala adalah langkah sederhana yang bisa menyelamatkan banyak orang,โ ujarnya di hadapan peserta.
Sementara itu, Stefaani M. Seran menekankan pentingnya disiplin dalam menjalani pengobatan. Menurut dia, TBC dapat disembuhkan asalkan pasien menjalani terapi secara teratur hingga tuntas sesuai anjuran tenaga medis. Ketidakpatuhan minum obat berisiko menyebabkan resistansi, yang justru membuat pengobatan semakin sulit.
Kepala Lapas Kelas IIA Kupang, Antonius Hubertus Jawa Gili, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menegaskan bahwa aspek kesehatan merupakan bagian tak terpisahkan dari pembinaan di dalam lapas.
โKesehatan warga binaan adalah prioritas kami. Edukasi seperti ini penting agar mereka memahami cara pencegahan dan tidak panik ketika mendengar tentang TBC. Pemahaman yang benar akan membantu menjaga situasi tetap kondusif,โ kata Antonius.
Ia berharap kolaborasi dengan institusi pendidikan dan instansi kesehatan dapat terus berlanjut. Sinergi tersebut dinilai memperkuat upaya pembinaan yang tidak hanya berfokus pada aspek kepribadian dan kemandirian, tetapi juga kesehatan.
Bagi sebagian warga binaan, penyuluhan ini menghadirkan pemahaman baru. Salah seorang peserta mengaku kini lebih memahami gejala TBC dan langkah yang harus diambil jika menemukan tanda-tanda mencurigakan.
โSekarang kami tahu, kalau ada teman batuk lama harus disarankan periksa ke klinik. Jangan dibiarkan,โ tuturnya.
Di balik tembok tinggi dan pintu besi, upaya menjaga kesehatan terus dilakukan. Edukasi tentang TBC ini menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap hak kesehatan berlaku bagi siapa pun, termasuk mereka yang tengah menjalani masa pembinaan. Lingkungan pemasyarakatan yang sehat bukan hanya kebutuhan, tetapi juga fondasi bagi proses pembinaan yang bermartabat.*/momo/llt













Komentar